RUMAHKU ADALAH KAMPUSKU

Pada umumnya, rumah itu hanya untuk tempat istirahat belaka, menghilangkan rasa letih dan penat karena seharian bekerja. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, merupakam kota metropolitan, dimana kemacetan di mana-mana, hampir semua sudut jalan, dilanda kemacetan. Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi kemacetan, tetapi hasilnya tetap tidak berubah, malahan semakin runyam. Karena jumlah kendaraan semakin bertambah, sementara jalan raya tidak diperluas.

Di kawasan perumahan elit (real estate), seperti pondok Indah, Bintaro, kawasan matraman, sudirman serta rumah-rumah elit lainnya, juga terkena kemacetan. Penghuni rumah-rumah elit itu, ternyata para pembantu rumah tangga, karena pemiliknya sibuk bekerja sejak pagi, dan petang baru kembali. Ibaratnya, orang-orang kaya itu umurnya habis di jalanan, bukan menikmati indahnya rumah mewah yang dimiliknya. Tetapi kebisingan dan stress sehari-sehari.

Seorang teman pernah bercerita:’’ saya berangkat kerja sekitar jam 00.50, sampai di kantor sekita jam 08.30. waktu aku berangkat, putraku masih tertidur nyenyak, sedangkan, ketika aku pulang kerja, aku mendapti putriku sudah tertidur nyenyak, yaitu pada pukul 19.30, kadang pada pukul 20.30’’. Jadi, pertemuanku dengan buah hatiku hanya pada waktu sabtu dan minggu, itupun kalu tidak lembur kerja’’. Itulah penuturan penduduk Jakarta yang setiap hari bekerja.

Cerita ini menarik untuk dicermati. Bagaimana mungkin, rumah yang mewah, megah terasa indah dan nyaman, karena sedikitnya waktu. Orang tua sebagai guru (pendidik) utama di dalam rumah tangga kurang efektif, karena minimnya waktu pertemuan dengan putra-putrinya. Sedangkan, rumah itu adalah (madarasah) pertama sebelum anak memasuki pendidikan selanjutnya.

Terkait dengan fungsi rumah sebagai madrasah (sekolahan). Tulisan ini akan memaparkan sedikit seputar fungsi rumah sebagai tempat tinggal, sekaligus masjid, dan tempat belajar mengajar. Orang tua (bapak) dan Ibu, adalah guru terbaik dan paling utama di dalam menanamkan dan membentuk kepribadian seorang anak. Oleh karena itu, orang tua itu disebut dengan ‘’Murobbi’’ yang artinya pendidik (menumbuhkan).

Pengertian mendidik (tarbiyah), yaitu menumbuh kembangkan anak, baik secara fisik, intelektual, emosional, dan spritualnya. Itulah kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya. Di rumah, orang tua mesti mengajari putra-putrinya shalat berjamaah, membaca Al-Quran yang baik dan benar, bersuci dari hadas kecil dan besar serta mengajarkan etika, moral, dan ahlak terhadap orangtua, tetangga, dan sanak saudara.

Tidak lupa, setiap makan dan minum, beranjak tidur, seorang anak juga harus di ajari berdoa, begitu juga masuk dan keluar dari toilet. Di dalam sebuah riwayat, Nabi Saw. menuturkan:’’ Bimbinglah keluarga dan putra-putrimu membaca Al-Quran’’ Tidak hanya Al-Quran, tetapi shalat, dan juga cara bersuci dengan baik. Orang tua dituntut menjadi mitra belajar seorang dengan baik, sebagaimana penuturan Nabi Saw.:’’Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah kepada akhlak yang mulia.”, Bahkan dalam redaksi lain, Nabi juga menyuruh orang tua mengajari putra-putrinya dengan berlatih renang dan bermain panah.[1] Dengan tujuan, kelak menjadi pemuda yang gagah dan kuat, sebagai generasi pembela agama islam.

Begitu besar kewajiban orangtua atas putra-putrinya, sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakan kewajiban itu secara menyeluruh. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan, dan waktu, serta materi yang dimiliki, maka orang tua mesti menitipkan putra-putrinya kepada fihak lain (sekolah) yang berkompten dan komitmen terhadap pendidikan agama islam.

Jadi, sekolahan itulah yang memberikan pendidikan-pelajaran yang belum di dapat dari orangtua. Guru itu merupakan pengganti kedua orantua, sebagai rasa terima kasih, orangtua mesti memberikan imbalan (spp) atas jasa-jasa guru yang bebgitu besar dan tulus di dalam mendidik dan mengajar mereka (putra-putri).

Sebagai orangtua, berkewajiban menciptakan rumah laksana kampus yang menyenangkan. Tempat belajar mengajar, berdiskusi antara anggota keluarga. Jika orangtua mampu menciptakan suasana yang demikian, maka seorang anak akan betah dirumah. Sebab, orangtua tidak sekedar menjadi ayah dan ibu, tetapi juga menjadi teman setia dalam semua aspek kehidupanya. Itu semua tidak mudah dilaksanakan, karena kondisi yang sangat rumit. Tetapi, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sebab, tidak ada sesuatu yang tidak bisa dikerjakan, selama masih ada kesempatan (bernyawa). Wallahu a’alm.

 


[1] . al-Baihaki, Sa’bu al-Iman

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s