Dokter Juga Perlu Hidup Layak

Semakin hari semakin banyak jumlah tenaga medis, seperti dokter, bidan, perawat diseluruh pelosok nusantara. Banyaknya tenaga medis seiring dengan populasi masyarakat Indonesia yang semakin tinggi. Untuk mengatasi masalah kesehatan dan penyakit, pemerintah selalu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, khususnya kalangan bawah. Pemerintah juga memberikan beasiswa terhadap dokter-dokter muda untuk melajutkan pendidikan spesialis agar kelak bisa memberikan kontribusi pelayanan terhadap masyarkat menenggah ke bawah.

Namun, jumlah tenaga medis yang dikeluarkan oleh kampus-kampus negeri ini belum mampu memberikan pelayanan secara maksimal terhadap masyarakat bawah. Sebab, para dokter itu ternyata jarang sekali yang turun gunung memberikan pelayanan terhadap rakyat menenggah ke bawah. Ini adalah realitas, karena tenaga medis kebanyakan menghuni kota-kota, karena mereka bisa praktek sepanjang hari dan malam. Secara tidak langusng, materi bisa didapat dengan mudah, serta pada waktu yang sangat singkat menjadi kaya raya.

Keadaan seperti ini menjadikan wajah kesehatan indonesia carut marut, karena para medis lebih suka tinggal dikota-kota besar dari pada dikampung (desa). Alasan yang paling mendasar ialah karena finansial. Apalagi, memang untuk masuk FK cukup tingggi, belum lagi praktek-prakteknya, serta KOAS. Setelah lulus, para dokter diharuskan mengikuti ujian kopetensi yang biayanya cukup mahal juga. Jadi, menjadi dokter didesa sama dengan membuang kesempatan. Walaupun tidak dipungkiri, masih ada dokter-dokter yang hatinya sebening embun. Tetapi, yang banyak ialah noda darah pasien mengotori baju putihnya, untuk kepentingan pribadinya.

Di era  milenium ini, persaingan semakin ketat dokter semakin ketat. Peraturan juga semkin sulit. Jika dulu seorang dokter bisa membuka praktek pada 2-3 tempat, sekarang tidak lagi. Sebab, jumlah dokter muda semakin banyak. Sudah waktunya mereka berbagi pasien, sebab dokter juga manusia. Butuh kelayakan hidup, seperti; rumah bagus, mobil bagus, masa depan yang bagus. Wajar, jika dokter praktek yang sudah terkenal mampu mengantongi puluhan juta dalam kurun waktu seminggu.

Dan ada juga yang membuka praktek bersama, tetapi penghasilanya cukuop memprihatinkan, karena persaingan terlalu berat. Yang menarik, sebuah pesantren dan masjid membuka klinik. Setelah membuka lowongan pekerjaan, ternyata tidak terduka jumlah pelamara dari kalangan medis, sepert; dokter, perawat juga signifikan. Dari sini, bisa dibayangkan ternyata jumlah dokter yang semakin banyak, juga menambah jumlah pengangguran intelektual.

Kondisi ekonomi yang serba sulit, persaingan semakin ketat, dan biaya kuliah kedokteran semakin tinggi, membuat sebagian dokter berubah niatnya. Jika dulu secara tulus ingin membantu dan melayani orang tidak mampu. Sekarang, bagaiamana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, persis seperti prinsip ekonominya Adam Smit yang berbunyi:’’ berusaha dari sekecil kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya’’. Inilah prinsip ekonomi yang akan melanda siapa saja, baik pedagang, dokter, sampai para pejabat-pejabat Negeri ini.

dr Edward Armando, salah satu dari sekian contoh yang tidak terpuji. Belum tuntas masalah korupsi seorang dokter yang belum ditemukan, muncul seorang criminal intelektual’’Raja Aborsi’ yang praktik di Jalan Dukuh Kupang Timur X/4, Surabaya. Dokter Edward Armando (66), diringkus jajaran Polres Sidoarjo, Selasa (1/2), dengan sangkaan kembali melakukan praktik aborsi ilegal. Pasien dr Edward diperkirakan lebih dari 2.000 orang (surya, 04/02/2011). Gayus, ketika menjadi mahasiswa juga tercatat sebagai mahasiswa yang baik dan rajin serta menjunjung nilai-nilai moral. Tetapi, ketika menjadi pejabat Negara (perpajakan). Iman Gayus tergadaikan dengan rupiah yang cukup mengiurkan.

Kondisi seperti dr. Edward, Gayus, akan menimpa siapa saja. Intinya, setiap orang ingin hidupnya layak. Hanya saja, kelayakan seorang dokter itu seperti apa? dan kelayakan seorang pejabat itu seperti apa. Wajar, jika banyak dokter-dokter mau berlumuran darah sang pasien dengan alasan profesional, sesuai dengan kode etik, yang sejatinya bertengtangan dengan hati nurani seorang hamba tuhan yang sesungguhnya. Semoga, tuhan tetap menjaga nilai-nilai luhur agama seorang dokter, sehingga bangsa Indonesia senantiasa dalam lindungan tuhan.

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dokter Juga Perlu Hidup Layak

  1. nobody berkata:

    Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s