Etika Berbusana Jama’ah Haji

Nabi mengingatkan kepada pengikutnya, bahwasanya Allah Swt tidak melihat rupa, (cantik atau ganteng), bentuk tubuh (gagah perkasa, atau kurus kering kerontang). Tetapi Allah Swt memperhatikan berdasarkan hatinya (H.R Bukhori). Allah menambahkan, sesungguhnya orang yang paling mulya disisi Allah adalah orang yang paling taqwa (Q.S al-Hujurat 13). Hanya saja, ketaqwaan itu tidak bisa terlihat oleh kasat mata, karena bersifat kualitatif, yang bisa menilai hanyalah Allah Swt. Namun, biasanya keadaan dzhohir (realitas) merupakan cermin dari batin (hati), walaupun istilah ini tidak benar secara mutlak.

Terkait dengan urusan sopan santun (etika) terhadap kota suci diperlukan aplikasi, karena ini bersifat praktek bukan teori. Oleh karena itu, setiap orang yang memasuki kota suci Makkah hendaknya mengenakan kain ihram (umrah). Sebagai bukti atas penghormatan manusia terhadap rumah Allah (baitullah). Sedangkan, ketika memasuki masjidil haram, bukan melaksanakan sholat sunnah tahiyatul masjid, sebagaimana memasuki masjid lainnya. Sebab, penghormatan terhadap rumah Allah Swt ialah dengan melaksanakan thowaf sunnah, sebagai bentuk penghormatan dan keagungan baitullah.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Makkah (Masjidilharam) merupakan tempat mulia dan sakral. Tetapi, kesakralan itu sering ternoda dengan ulah dan sikap manusia yang kurang sopan ketika berada di Makkah (Masjidilharam). Sering ditemukan, banyak  penduduk Makkah serta jama’ah haji Indonesia memakai celana putih yang tipis (nerawang), begitu juga kaum wanitanya.

Sering kali ketika sedang sholat di Masjidil Haram atau Nabawi banyak kaum wanita yang masih memakai pakain tipis, bersolek, dan memakai lipstik seolah mau ke resepsi. Sedangkan kaum laki-laki, masih banyak memakai baju yang kurang pantas, seperti kaos oblong dengan gambar aneh-aneh, dan warna warni, ada juga yang memakai celana olahraga dengan setelan jaketnya. Ada juga jama’ah haji berangkat menuju masjid dengan merokok dijalan, bahkan ada juga yang mengenakan kaos oblong dengan gambar berwarna warni. Memang tidak ada larangan, tetapi kurang indah dipandang mata.

Mestinya, busana yang dipakai sopan (sesuai dengan syariat), bagi kaum lelaki, memakai sarung, baju panjang (taqwa), lengkap dengan kopyahnya. Lebih-lebih pakai gamis putih yang menjadi pakaian khas orang Arab, kemudian memakai parhum (wewangian). Imam Malik bin Anas, penulis kitab al-Muwatto’, beliau selalu memakai baju yang sangat bagus ketika berada di Masjid Nabawi, lengkap dengan imamahnya. Beliau tidak lupa memakai parfum yang sangat harum, ketika hendak mengajar ilmu hadis kepada santri-santrinya. Beliau juga mengelar tikar (firos), duduk bersila dengan menghadap kiblat, seolah-olah sedang berkomunikasi dengan baginda Nabi Muhammad.

Beliau memulyakan masjid dan menghormasti bagindan Nabi, dengan busana yang sangat bagus, serta parfum yang sangat menawan. Bagaimana dengan baitullah (rumah Allah)? Tentunya, kedua Masjdil (al-Haramaian) ini mendapatkan perlakukan yang khusus bagi setiap jama’ah haji. Bukan sembarangan, apalagi tidak sesuai dengan syariat, sepeti tipis (nerawang), ketat (terlihat bentuk tubuhnya).

Seiring dengan perkembangan mode, sebagian orang islam, khususnya kaum hawa memakai busana yang ketat (terlihat bentuk tubuhnya) walapun memakai cadar. Adakalanya, kainya sangat tipis dan nerawang. Ini semua perlu dihindari sebagai tamu Allah dan Rosulullah mesti menjunjung nilai-nilai sopan santun. Sudah menjadi sebuah kewajiban setiap umat islam memaki pakaian yang pantas, sopan ketika sedang berada di dalam Masjidilharam dan Nabawi, sebagain bentuk rasa syukur atas karunia-Nya, serta rasa ta’dim terhadap rumah Allah Swt dan Nabi Saw.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s