PENCITRAAN ALA AHMADIYAH

Istilah pencitraan ini sudah lazim digunakan para polititisi. Setiap langkah SBY selalu dikritik dengan politik pencitraan oleh lawan-lawannya, sebab istilah ‘’pencitraan’’ merupakan istilah mudah dan populer. Tidak hanya SBY, ternyata tokoh agama dan masyarakat juga butuh pencitraan diri, apalagi para politisi yang duduk dikursi empuk gedung DPR, mereka paling suka membangun pencitraan diri di atas masalah-masalah yang menimpa bangsa ini. Ketika saya masih kecil, pencitraan ini sering disebut dengan’’mencari perhatian’’.

Tidak salah memang, sebab pada hakekatnya, manusia itu suka dipuji. Ketika melakukan kebaikan dan mendapatkan pujian, sebagai manusia biasa, mereaka akan merasa besar kepalanya. Namun, jika kesalahanya dipublikasikan, mereka akan kebakaran jenggotnya, walaupun benar-benar salah. Islam mengajarkan, agar supaya manusia ihlas di dalam melaksanakan perintaha-Nya. Di dalam mengabdikan diri kepada Negara, hendaknya tidak banyak pamrih. Sedangkan, ketika rakyat mengkrtik, karena kinerjanya buruk, tidak usah menutup telingganya, atau pura-pura sakit telingga.

Ketika membincangkan AHMADIYAH, sebagai bagian dari agama islam, rasanya sulit untuk diterima. Sebab, di dalam keyakinan umat islam dimana saja berada, tidak diperkenankan (tidak sah islam seseorang), jika meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad. Dan, Ahmadiyah itu termasuk orang-orang yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad Saw. Dari Namanya, bisa ditebak, kalau Mirza Ghulam Ahmad itu bukanlah orang Arab, tetapi dari daratan India. Keberadaan Mirza Ghulam Ahmad juga menjadi polemik di Nergeri asalnya. Penganut Mirza terusir dari negeri asalnya, yang kemudian ber-markas di Inggris.

Indonesia merupakan tempat atau sasaran dakwah para elit Ahmadiyah. Orang-orang desa yang tidak tahu menahu tengtang Mirza Ghulam Ahmad  menjadi sasaran para elit Ahmadiyah. Saya yakin, orang yang mengikuti Ahamdiyah masih meyakini Nabi Saw sebagai teladan dan junungan mereka. Tetapi, karena keterbatasan ilmu dan pengethuan mereka, sehingga mereka terpaksa mengikuti elit-elit Ahmadiyah yang memiliki agenda dan tujuan tersembunyi.

Terlepas dari tujuan yang tersembunyi Ahamdiyah. Yang jelas, keyakinan Ahmadiyah tidak bisa diterima oleh kalangan umat islam dunia. Namun demikian, para pengikut Ahamdiyah juga berhak hidup di Negeri Indonesia ini. Mereka juga manusia yang harus dihormati dan dimulyakan.  Pemerintah juga wajib menjamin ke-amanan mereka dari serangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dan, menjadi kewajiban setiap agamawan (ulama’), untuk meluruskan anggota Ahamdiyah, tanpa harus melukai hati dan fisik mereka. Para ulama’, baik MUI, NU< Muhammadiyah, hendaknya lebih menyapa umatnya, dari pada mementingkan urusan-urusan politik praktis. Mereka yang ikut Ahamdiyah, kebanyakan orang-orang desa yang kurang memperoleh perhatian dari elit agamawan. Menghidupkan dakwah model para wali songgo, merupakan cara paling efektif agar para pengikut Ahamdiyah mau kembali pada ajaran Nabi Saw, dari pada melalui legislative.

Setelah sekian tahun lamanya. Di era demokrasi dan globalisasi ini, sudah waktunya Ahmadiyah memperjuangkan hak-hak asasi sebagai warga Negara Indonesia, sekaligus  mendapat pengakuan dunia bahwa Ahmadiyah di Indonesia ada dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu, apa-pun yang terjadi, Ahmdiyah tidak akan mundur sejengkal, walaupun mereka harus kehilangan harta benda serta nyawanya. Semakin ditekan oleh kalangan islam dan pemerintah, mereka akan semakin eksis. Dan inilah bentuk pencitraan ala Ahmadiyah di Negeri Indonesia. Dunia akan mengatakan bahwa Ahmadiyah berhak hidup dan berkembang di Indonesia, sebagaimana agama dan keyakinan lainnya.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di HUKUM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s