Detik-Detik Kelahiran Nabi Saw

Banyak informasi yang menjelaskan bahwa Nabi Saw lahir pada bulan Rabiul Awwal. Bulan ini disebut dengan bulan Maulud, disesuaikan dengan kelahiran Nabi Saw. Oleh sebab itu, bulan ini sangat istimewa bagi umat islam. Tepatnya pada hari Senin, 9 Rabiul Awwal atau 20 April, 571 M, di Makkah al-Mukarramah.[1] Beliau termasuk tokoh terkemuka, dan masuk pada peringkat pertama.

Hari senin merupakan hari yang bersejarah bagi Nabi, beliau dilahirkan, wafat, diutus menjadi Nabi, dan hijrah ke Madinah, mengangkat hajar aswad, serta memasuki kota Madinah pada hari senin. Beliau juga pernah di tanya oleh sahabat seputar aktifitas pusa hari senin. Beliau Saw menjawab:’’ hari itulah aku dilahrikan, dan penobatan saya menjadi seorang Nabi’’.[2] Beliau lahir menjelang matahari terbit, berdasarkan pemaparan pakar sejarah.[3] Walaupaun ada yang berpendapat bahwa beliau lahir disiang hari, pendapat ini sangat lemah, dan langka. Terlepasa siang atau menjelang fajar, yang jelas Nabi mampu menjadi penerang dunia yang sedang gelap gulita.

Yang perlu digaris bawahi, ada empat perkara penting terkait dengan bulan Rabiul Awwal, khususnya yang berhubungan langsung dengan baginda Nabi Saw, sebagaimana keterangan hadis. Dalam tulisan ini, penulis sengaja mengutip seputar kehidupan Nabi terkait dengan detik-detik kelahiran Nabi, Hijrah, serta detik-detik wafatnya beliau S.a.w.

a. Detik-Detik Kelahiran Nabi S.a.w

Peristiwa kelahiran Nabi sangat mengesankan, dan menarik setiap orang. Bahkan sebagian besar umat islam merayakan dengan membacakan sirah (perjalanan hidup) Nabi Saw. Perayaan mauludan (kelahiran nabi) merupakan adat kaum muslimin sejak zaman dalu. Orang yang pertama kali melaksanakan maulid nabi adalah Rosulullah sendiri, hal ini ditegaskan dalam hadist Imam Muslim “Ketika beliau ditanya tentang puasa hari senin, beliau berkata “hari itu adalah kelahiranku”. Orang yang pertama kali melaksanakan perayaan Maulid Nabi setelah wafatnya Nabi adalah al-Malik al-Mudhoffar Abu Said Sohib Irbil didaerah Mousul (Irak).

Pelakasanaan mauludan biasanya pada tanggal 12 Rabiul Awal, yang diyakini sebagai kelahiran. Perayaan maulid Nabi ini sering kali menjadi polemik antara kelompok tertentu, ada yang membolehkan, ada yang melarang (bid’ah).  Namun polemik tersebut tidak menjadikan perayaan maulid Nabi untuk diperdebatkan sehingga memicu permusuhan bahkan sampai pada tabdi’ (pembid’ahan), tahrim (pengharaman), takfir (pengkafiran). Sudah saatnya umat islam menjadi umatan wahidah (umat yang satu). Bulan rabiul Awal (muludan) bulan kelahiran Nabi adalah momentum penting mempersatukan umat sebagai pengikut setianya.

Kelahiran Nabi Saw di kota Makkah, tepatnya pada hari Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal, ditandai dengan kedatangan pasukan gajah (atau sering disebut dengan “Tahun Gajah”) dari Yaman, yang dipimpin langsung oleh Abrah al-Asram. Tragedi ini bertepatan pada tahun 571 Masehi. Kedatangan Abrah dengan pasukan Gajah, karena merasa Iri dengan keberadaan rumah Allah yang setiap tahuh dikujungi oleh banyak manusia yang menunaikan ibadah haji.

Abrahah membuat Gereja yang besar dan mewah di yaman, sebagai bentuk tandinga, tetapi ternyata Gereja itu tidak menarik. Satu-satunya cara agar orang pergi ke Gereja, yaitu dengan membongkar rumah tuhan yang sacral. Tetapi, tuhan tidak berkenan, sehingga Abrah dan komplotanyalari tunggan langgang oleh serangan burung yang di utus dari langit.   Qisah ini di Abadikan di dalam al-Qur’an Q.S al-Fiil (1-5) (bersambung: Masa Kecil Nabi Saw…!)

 


[1] . Al-Maliki, Sayyid, Tarikh al-Khawadist wa al-Ahwal al-Nabawiyah. Hal,7- Cetakan ke-11, tahun, 1996- Madinah al-Munawwarah. Sedangkan Muhammad Rodho, di dalam tulisannya mencatat, bahwa Nabi lahir pada senin 12 Robiul Awwal, atau 20 Agustus 570 Masehi (Muhammad Ridho:25) Darul Fikr. 1988.

[2] . H.R Muslim

[3] . Latoifu al-Maarfi, Ibnu Rajab al-Hambali, hal 1/148.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Sejarah, TOKOH. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s