SISI LAIN TKI DI ARAB SAUDI

Ketika saya masih menjadi mahasiswa Umm al-Qura Universtiy Makkah. Hari kamis dan jum’at adalah hari libur nasional Arab Saudi. Disela-sela liburan itulah saya keluyuran kerumah (tempat kontrakan) para pekerja Indonesia untuk sekedar bersilaturhami dengan sesama. Biasanya, setelah Asar saya baru berangkat ke Masjidilharam. Sesamapinya di masjid, saya langsung thowaf sunnah. Setelah rampung, saya lanjutkan dengan sholat dan berdo’a di Hijir Ismail dan Multazam. Setelah magrib, saya sempatkan membuka kitab suci ngaji surat al-Kahfi. Setelah sholat isa’, saya lanjutkan thawaf sunnah untuk menambah pahala, mumpung di Makkah.

Lha, setelah thawaf itulah, biasanya saya pergi keteman-teman para TKI yang bermukim di Saudi Arabia (Makkah). Saya dapatkan informasi banyak seputar keadaan para TKI (lelaki dan wanita) yang sedang bekerja disana. Ternyata, memang tidak sedikit warga Indonesia yang beling (nakal).  Banyak sekali orang Indonesia bertahun-tahun (15) tinggal di Makkah tanpa memiliki Iqomah (KTP).

Memang kedatangan mereka ke Makkah resmi untuk bekerja, dan dikontrak oleh warga Arab Saudi sebagai tukang masak, mencuci, menyetlika. Tetapi karena majikannya kasar. Para tenaga kerja wanita  banyak yang tidak betah. Apalagi, di antara warga Arab Saudi (juragan) ada yang nakal, kadang usil terhadap para TKW yang masih muda dan cantik. Kadang ada juga juragan yang secara sengaja mengajak ‘’Ho Ho Hi he’’ dengan iming-iming gaji (uang) yang tinggi. Bagi yang tidak kuat iman serta mencari uang, ini merupakan kesempatan berharga. Sementara, bagi yang kuat ternoda dan menodahi kota suci makkah, tidak ada pilihan lain, kecuali kabur dari majikannya.

Pilihan kabur itu karena sudah difikirkan matang-matang. Kemana harus kabur? siapa yang menampungnya? Ternyata, disnana sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak penampungan wanita (TKW) yang kabur dari majikannya. Di penampungan itulah, para TKW itu bisa berbuat banyak. Dari penampungan itulah para TKI memulai karirnya sebagai TKI yang sesungguhnya.

Para TKW selama berada dipenampungan itu, mereka bisa bekerja free line. Yang perlu dicermati di sini, Saudi telah menetapkan peraturan ketat terhadap para calon jurangan yang ingin mengambil tenaga kerja Indonesia. Setiap warga Arab Saudi yang ingin seorang pembantu asal Indonesia harus bertanggung jawab. Seperti; biaya mendatangkan TKW, membelikan Iqomah (KTP) selama dua tahun dengan biaya yang cukup mahal. Pendeknya, warga Arab Saudi tidak mudah mendatangkan TKW, karena aturan-aturan sangat rumit dan biayanya juga cukup tinggi. Dan, tidak semua warga Arab Saudi itu kaya. Tetapi,  hampir semua warga Arab Saudi itu bergaya hidup kaya.

Hampir setiap keluarga di Arab Saudi wajib memiliki tenaga kerja wanita, dan sopir pribadi untuk mengantar sekolah anak-anaknya setiap pagi. Untuk mengirit biaya, maka mereka tinggal datang ke-penampungan para TKI, untuk memperoleh tenaga kerja Indonesia. Jika di bandingkan dengan mendatangkan TKI dari Indonesia, biaya cukup tinggi. Lebih baik memililih TKI yang kabruan. Perbandinganya, jika TKI kaburan itu hanya membayar 800 -1000 sr, tanpa harus membeikan iqomah, serta biaya-biaya lainnya. Sementara, para TKW yang didatangkan dari Indonesia (PTJKI) dengan bayaran 600 sr, tetapi biaya lainnya cukup tinggi. Sedangkan, tanggung jawabnya cukup cukup tinggi juga. Lebih baik, orang Arab memilih tenaga kerja Indonesia yang ‘’Kaburan’’ saja.

Kelebihan-kelebihan tenaga kerja yang kabur ialah (1) Sudah memahami bahasa Arab (2) Sudah perpenggalaman (3) Tidak menanggung biaya Iqamah (4) Kontrak kerjanya fleksibel, bisa 2-3, bulan, bahkan harian. Dan, para TKW ini bisa menabung untuk masa depan anak serta keluarganya di Indonesia. Kadang, mereka ketemu jodoh ketika sedang dalam penampungan. Di sisi lainnya, para TKW itu harus membayar uang sewa tempat kepada pemilik (juragan) rumah kontrakan tersebut.

Jumlah tenaga kerja asing di Arab Saudi cukup signifikan. Sebagian dari mereka yang illegal, ketika ingin pulang mengalami kesulitan masalah dokumen dan identitas diri. Agar tidak berbelit-belit, mereka menangkapkan diri agar dideportasi. Setiap tahun banyak tenaga kerja dari Mesir, India, Pakistan, Bangladesh, me-nelantarkan diri agar supaya dipulangkan tanpa mengeluarkan biaya.

Pemerintah Arab Saudi juga sudah membuat anggaran khusus untuk memulangkan para tenaga kerja itu dengan cara berjama’ah setiap tahun. Perlu digaris bawahi juga, ternyata uang hasil kerja mereka selama di Saudi dikirimkan terlebih dahulu kenegaranya masing-masing. Jadi, mereka tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Setahun kemudian, mereka datang lagi dengan modus yang sama.

Para TKW yang kaburan itu tidak memiliki ijin tinggal. Ketika mereka ingin pulang, tidak ada cara lain kecuali dengan cara menangkapkan diri. Jumlah ini semakin tahun semakin banyak. Hingga menumpuk di bawah jembatan Jeddah. Sebagian dari mereka memang ada yang diholimi oleh warga Saudi. Dan, tidak sedikit dari mereka memang sengaja kabur, agar dipulangkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Sebab, biaya pulang cukup besar, tiket pesawat saja mencapai 3000 SR (6 juta).

Oleh karena itu, pemerintah harus tegas. Khususnya menteri Tenaga Kerja harus menindak tegas terhadap PJTKI yang nakal-nakal itu, serta menelusuri penampungan-penampungan (kaburan) tersebut, agar tidak terjadi lagi persolan-pesoalan tenaga kerja Indonesia. Jadi, sebenarnya, yang Nakal itu bukan hanya warga Arab Saudi, tapi warga Indonesia yang bekerja disana juga nakal-nakal.

Karena banyaknya yang nakal, sampai-sampai ada istilah mengelitik dengan sebutan’’ imigrasi bayangan’’. Artinya, orang-orang tertentu bisa membuat paspor Indonesia yang persis dengan aslinya. Persoalan tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi tidak sederhana. Mulai dari PJTKI, SDM, Ekonomi, bahasa, serta kultur dan budaya Indonesia juga menjadi persoalan. Siapapun yang menjadi presiden, pasti mumet (pusing) tujuh keliling melihat kondisi TKI di Arab Saudi. Bukan saja membela pemerintah, tetapi realitas dilapangan memang demikian.

 

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

7 Balasan ke SISI LAIN TKI DI ARAB SAUDI

  1. Nia berkata:

    Saya sdh punya pasfor tapi tdk tahu cara dapat iqomah, bgaimana? Saya msh di indonesia

  2. Nia berkata:

    Bagaimana cara dapat iqomah saya mau ngajar di sana

  3. didik berkata:

    mas, jika sudah habis mas kontraknya , trus ingin kuliah di umulquro’ ,cara membuat kartu iqomah bgmn caranya?

  4. tohir berkata:

    alumni UMQ akh? Pngen nanya kl misal sdh pnya iqomah makah pngen masuk UMQ bs gk ya akh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s