Membumikan Bidah Hasanah

Oleh ; Abd. Adzim Irsad Lc. M.Pd

Pendahuluan

Umar bin Khattab r.a adalah satu-satunya kholifah (pemimpin) kedua pasca wafatnya Nabi Saw, beliau dikenal sebagai “Mujaddid” pembaharu dalam semua aspek. Sebelum memeluk islam,Umar r.a dikenal sebagai sosok public figure yang sangat keras dan tegas, berani. Keberanian dan ketegasan Umar membuat Nabi Saw terkesima, sehingga beliau berdo’a kepada Allah agar supaya Umar menjadi salah satu pilar Islam. Beliau Saw tak henti-henti memohon kepada-Nya, agar Islam diperkuat oleh salah satu Umar (Umar Ibn al-Khattab dan Amr Ibn Hisyam alias Abu Jahal). Maklumlah, kedua lelaki itu memiliki watak dan sifat yang sama. Fisik besar, kuat, pemberani, dan tidak pernah menyerah.

Do’a Nabi Saw dikabulkan, Allah memilih Umar sebagai seorang pemeluk islam yang setia mendampingi Nabi dalam suka dan duka. Bahkan, kedekatanya Umar r.a diikat dengan tali (besanan). Dimana Hafsah binti Umar dinikahi Nabi Saw. sebagai wujud dan strategi tujuan dakwah.  Ikatan ini menjadikan tali persaudaraan Umar dan Nabi Saw semakin kokoh dan kuat dalam mengemban risalah islamiyah. Visi dan misi Umar Ibn al-Khattab senada dengan visi dan misi Nabi Saw. Setelah Nabi menjadi menantunya, Umar tak sungkan-sungkan  mengemukakan pendapatnya serta unek-uneknya kepada sang Nab Saw secara langsung.

Gagasan-gagasan Umar tergolong unik, tetapi menarik. Bahkan terbilang anyar (fresh). Sebagian gagasan Umar ra, belum pernah dikemukan oleh orang lain dari sahabat Nabi Saw. Pendapat Umar seringkali disetujui oleh Nabi Saw. Bahkan al-Qur’an juga sependapat dengan apa yang disampaikan Umar bin Khattab. Lihat saja, ketika Umar menyampaikan pendapatnya agar supaya sholat (wajib) itu dibelakang Maqom Ibrahim. Nabi Saw setuju, bahkan al-Qur’an juga mengamini dengan turunnya ayat yang berbunyi” Ambilah dibelakang Maqom Ibrahim sebagai tempat Sholat (Q.S”.

Dimasa pemerintahan Abu Bakar al-Siddiq (635-634), pernah terjadi peperangan yang sangat dasyat antara orang-orang murtad dengan orang islam. Perang tersebut dikenal dengan “ Harb al-Riddah (pemberontakan orang-orang murtad). Nabi palsu, seperti:  (Musyailamah al-Khaddab) menggunakan kesempatan ini, mereka memimpin peperangan melawan pemerintahan Abu Bakar. Musayalamah dibantu istrinya yang bernama” Sajah” seorang peramal Kristen sekaligus Nabi palsu dari kaum  perempuan pertama dalam catatan sejarah.

Pengikut dua Nabi palsu tersebut sekitar 40000 orang pasukan (Phlip.K.Hiiti:117). Pertempuran sangat sengit hingga memakan waktu enam bulan. Sampai-sampai pasukan umat islam banyak yang gugur menjadi Syahid. Kebanyakan dari Para Suhada’ adalah penghafal al-Qur’an. Melihat para penjaga al-Qur’an semakin berkurang, Umar melontarkan Ide baru, yaitu membukukan al-Qur’an. Ide ini dianggab tidak populer, bertengtangan dengan Sunnah Nabi Saw. Sebab, jika sampai membukukan al-Qur’an, maka ini akan menjadi ‘’bid’ah’’. Padahal, bid’ah itu menurut sebagian ulama’ dikategorikan dosa besar. Apa mungkin Umar Ibn al-Khattab ra, melakukan ini?

 

Memaknai Bidah (mengada-ngada)

a. Ketika Ulama’ Memaknai Bid’ah.

Berdasarkan hadis Nabi Saw, bid’ah artinya sesuatu yang baru (meng-ngada-ngada), yang belum pernah dilakukan, atau diperintahkan oleh Nabi Saw. Di dalam sebuah hadis shohih, Nabi Saw menuturkan.

قَالَ عليه الصلاة  والسلام )) أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْداً حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِى اخْتِلاَفاً كَثِيراً فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أحمد)

Artinya:’’ Nabi Saw menuturkan:’’ saya wasiatkan kepada kalian, dengan bertaqwa kepada Allah, menyimak, dan taat, dan jika ada seorang hamba habasy (Afrika), jika seseorang dari kalian hidup sepeninggaku, dia akan melihat sebau perbedaan yang cukup signifikan. Wajib bagi kalian berpegang teguh pada jalanku (sunnati) dan juga jalan (sunnah) para khulafa al-Rasidun yang telah dikukuhkan (mendapat hidayah). Gigitlah dengan sekuat-kuatnya dengan gigi geraham, dan hendaknya kalian takut membuat sesuatu yang baru (meng-ngada-ngada), maka sesungguhnya tiap-tiap sesuatu yang baru itu bidah, dan tiap-tiap bidah itu tersesat (H.R Ahmad).

Kalimat yang menarik perhatian dan menjadi polemic dikalangan ulama’ yaitu ‘’BIDAH’’. Hendaklah kalian takut pada perkara-perkara yang meng-ada-ada, setiap yang sesuatu yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat. Inilah yang ahirnya menjadi perdebatan sengit di antara pada ulama’ yang datang setelah Nabi Saw. Bahkan, Umar Ibn al-Khattab, pernah mengatakan ‘’Inilah nikmatnya bid’ah’’. Ini dikatakan setelah melaksanakan sholat tarawih berjama’a 20 rakaat, padahal Nabi Saw, tidak pernah mengajarkan.

Berdasarkan hadis ini, Nabi Saw. menggunakan kalimat
(كلّ) yang kemudian menjadi khilaf dikalangan ulama’. Menurtut pakar bahasa (linguistic), seperti; Ibn Malik, Ibn Aqil mengartikan (كل ) dengan sebagian. Bukan artikan semua. Walaupun masih banyak yang mengartikan bahwa makna (كل ) diartikan secara menyeluruh yang berarti ( semua bidah) itu tersesat. Imam al-Syatibi, berpendapat bahwa bid‘ah dari segi istilah syarak tidak sepatutnya dibahagikan kepada hasanah (baik) dan saiyyiah (buruk).  Dalam hal ini, Syatibi berbeda pendapat dengan Imam Syafii ahli linguistic dan juga pakar usul fikih, sekaligus pendiri usul fikih.

Para sahabat Nabi Saw yang benar-benar memahami makna sunnah, sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid’ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji. Makna sunnah yang dimaksud ialah (merintis) sesuatu yang pasitif, bermnfaat, sesuai dengan ajaran  Rasulullah Saw. Dalam hal ini, memperingati kelahiran Nabi Saw, dengan membacakan sirah Nabi, dan menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran juga dikategirkan sunnah, sepeti; Majlis Rosulullah, khatmil Qur’an. Di dalam sebuah hadis, Nabi Saw memberikan motivasi kepada para pengikutnya.

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Artinya: Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun.

  1. Pembagian Bid’ah Menurut Ulama.

Perbedaan pendapat yang dikemukakan oleh para ulama’ merupakan hal yang biasa. Dan, yang tidak bisa ketika seorang ulama’ melihat pendapat ulama’ lain dengan memberikan ‘’justivikasi’’. Apalagi, sampai berani mengtakan’’ tersesat’’, dan ahli neraka. Padahal ulama’ tersebut kualitas ilmu tidak diragukan lagi. Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah (795H):  “Bid‘ah itu ada dua jenis: Bid‘ah Mahmudah (dipuji) dan Bid‘ah Mazmumah (dikeji). Apa yang sesuai dengan sunnah maka ia terpuji (mahmudah). Apa yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi (jalan) maka ia dikeji. (al-Imam al-Syafi’i) (Ibnu Rahab: . Istilah bid’ah juga menurut para ulama beragam. Imam Syafii dan Ibnu Rajab al-Hambali mengunakan istilah (1) Bud’ah Madzmumah dan (2) Bid’ah hasanah. Sedangkan Al-Hakim lebih suka menggunakan istilah (1) Bid’ah huda (petunjuk) (2) Bid’ah al-Dolalah (tersesat). Sedangkan, para ulama’ al-Mutaakhirin lebih suka menyebut (1) Bid’ah Hasanah (2) Bid’ah Sayyiah. Terlpepas dari perbedaan istilah penyebutan para ulama’ di atas,  Ibn Rajab al-Hambali yang notabene bermadhab hambali lebih suka menyebut dengan istilah ‘’bid’ah mahmudah’’, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam al-Syafi‘i.

Memmbincangkan bida’ah tidak terlepas dari sosok Umar Ibn al-Khatab. Bahkan saya lebih suka memberikan istilah ‘’Umar Ibn al-Khattab Perintis Bid’ah Hasanah’’. Sebab, gagasan-gagasan beliau begitu luar biasa. Tarawih berjama’ah 20 Rakaat, memagari masjidil haram, memperluas masjdil haram, membukukan al-Qur’an, memindah maqam Ibarhim, serta penanggalan hijriyah. Hampir semua gagasan Umar Ibn al-Khatab merupakan pemikiran otentik sang perintis bid’ah hasanah.

Umar Perintias Membukukan al-Qur’an

Ide Umar diaggab tidak selaras dengan sunnah Nabi, Abu Bakar menolah, begitu juga Zaid bin Tasbit (sekertaris Nabi). Bahkan Abu Bakar melontarkan kata-kata” Demi Allah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi” Zaid pun merasa keberatan, dia mengangab bahwa pembukuan al-Qur’an mengada-ngada (bid’ah), bahkan beliau mengatakan” aku lebih baik diperintah memindahkan gunung uhud dari pada menulis al-Qur’an”.

Bagaimana mungkin, seorang sahabat sejati Nabi s.a.w, yang paling dekat dengan beliau s.a.w, dan dikenal dengan adil nan jujur berbuat aneh-aneh. Apakah Umar termasuk kurang faham seputar sunnah Nabi s.a.w. Padahal, beliau begitu lama bersahabat dengan Nabi, bahkan loyalitasnya tidak diragukan lagi. Umar tidak putus asa, setiap saat beliau meloby Abu Bakar dengan  argumentasi yang rasional, akhirnya usaha Umar tidak sia-sia. Ide Umar disepakati, al-Qur’an dibukukan dalam satu Mushaf, sehingga terjaga sampai saat ini.

Di masa pemerintahan umar, Ka’bah tidak ada tembok mengelilinginya. Melihat jumlah pemeluk islam semakin banyak, sementara kondisi tempat thowaf terganggu, maka beliau membeli tanah-tanah penduduk di sekitar ka’bah untuk perluasan. Ide ini juga banyak ditentang oleh penduduk, namun akhirnya mereka merelakan tanahnya dibeli untuk kepentingan rumah Allah, serta kemaslahatan umat islam. Masih seputar baitullah, Maqom Ibarhim letaknya sangat dekat dengan Baitullah, setiap musim haji tiba, jumlah orang thowaf semakin banyak, akhirnya beliau berpendapat bahwa Maqom Ibrahim dipindahkan kebelakang agar mathof (tempat thowaf ) semakin longgar. Ide Umar disetujui oleh para sahabat, mereka menerimanya demi kemaslahatan dan kenyamanan jama’ah haji (wafdullah) duta Allah.

 

Umar Perintis Sholat Tarawih.

Dalam urusan ibadah, Umar juga tidak segan-segan melontarkan ide baru. Pada bulan ramadhan tiba, setiap orang menunaikan qiyam ramadhan (sholat dimalam bulan romadhan). Tata cara Qiyam Ramadhan dialukan setelah sholat isa’, sedangkan jumlahnya berfariatif. Menurut hadis yang diriwayatkan Aisah, Nabi melakukan Qiyamu Ramadhan delapan rekaat ditambah witir tiga rekaat. Mereka melakukanya masing-masing tidak berjama’ah, ada yang dishof depan, tenggah bahkan ada yang dibelakan. Melihat kondisi demikian, Ide Umar muncul, beliau menyerukan kepada semua sahabat untuk sholat bersama-sama. Ide sahabat diterima, pada sahabat melakukan  qiyam ramadhan secara berjama’ah, dengan jumlah dua puluh rekaat ditambah dnegan tiga witir. Sholat ini tidak lagi dinamakan qiyam ramadhan, tetapi disebut dengan “ Sholat Tarawih”.

 

Umar Tahun Baru Hijiriyyah

Pada masa pemerintahanya, dalam surat menyurat tidak tertulis tanggal, bermula dari sebuah surat yang diterima dari  Gubernur Kuffah, Abu Musa al-Asaary. Tertulis dalam surat tersebut bahwa tidak ada tanggalnya. Akhirnya Umar mengumpulkan para sahabat untuk merumuskan masalah tersebut, Usman bin Affan, Ali bin Abi tholib selaku tokoh-tokoh sahabat. Tujuanya adalah bermuswarah untuk   penanggalan islam. Dalam sebuah diskusi atara pemuka sahabat, muncul beberapa pendapat, antara lain. Memulai penggalan islam sejak kelahiran Nabi, ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa penanggalan islam dimulai pada masa kerasulan Nabi, ada juga yang menyatakan bahwa yang paling tepat adalah dimualai ketika Nabi isra’ mi’roj. Ada juga pendapat agar dimualai ketikan hijrah dari Makkah ke Madinah.

Setelah melalui perdebatan, maka mereka sepakat bahwa penanggalan islam dimulai sejak hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Disepakati awal kalender islam dari hijranya Nabi, sangat beralasan. Karena makna hijrah adalah perubahan dan pembahruan, artinya dalam sebuah perjalanan Nabi dari Makkah ke Madinah adalah sebuah proses perubahan dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik atau dari tempat yang tidak aman menuju tempat yang aman.

Dalam sebuah literatur, makna hijrah adalah berpindah dari satu tempat ketempat lain dengan tujuan menyelamtkan aqidah (keyakinan), sehingga semua aktifitas ibadah, muamalah, belajar mengajar berjalan dengan baik tanpa ada ancaman dan ganguan. Nabi membuktikan, di Madinah beliau mampu membangun peradapan baru, masyarkat baru, Negara baru berdasarkan kaidah-kaidah syariat. Nabi mampu mengayomi semua lapisan masyarakat yang beraneka ragam keyakinan dibawah kepemipinaya yang adil. Masyarakat  baru yang dibangun oleh Nabi adalah “ Masyarakat Madani”, yang mengedepankan nilai-nilai moral, etika dan ahlaqul Karimah. Dalam waktu singkat, terbentuklah daulah islamiyah sebagiaman yang rencanakan tuhan di muka bumi ini.

Di dunia Arab, seperti Arab Saudi pengunaan kalender islami masih eksis, begitu juga Negara-negar islam di Jazirah Arab laianya. Hanya saja, mereka tidak merayakan tahun baru Hijriyah sebagaiaman orang Eropa merayakan tahun baru Masehi. Di Negara Indonesia, mulai ada tren baru, sebagian umat islam merayakan tahun baru dengan “dzikir bersama”, pengajian umum, lomba-lomba, serta banyak cara dilakukan untuk merayakan tahun baru Hijriyah. Maraknya perayaan tahun baru hijriyah oleh sebagian kalangan umat islam adalah budaya tandingan ( counter culture) terhadap pergantian tahun yang cendrung merupakan hura-hura belaka (Azyumardi Azra; Jawa Pos 29-12 2008).

Tren baru ini perlu dilestarikan, karena ini merupakan awal yang baik, budaya tandingan mesti dibanguan agar budaya hura-hura  bisa terkendali. Jika Umar membangun budaya baru dengan “ kelender hijriyah”, sebagai pengikut Nabi mesti mewarisi sifat Umar yang suka membanguan budaya baru sehingga menjadi warisan bagi generasi akan datang. Jangan sampai kita terbelenggu dengan dogma-dogma yang melarang merayakan dzikir bersama karena tidak berdsarkan al-Qur’an dan Sunnah. Semangat Umar bin Khattab mesti diteladani, karena menghidpkan tahun Arab dikalangn umat islam mulai hilang. Banyak sudah generasi islam yang tidak tahu kelender islam, walaupun tahu mereka tidak hafal sebagaimana kalender Masehi.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di HUKUM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s