BID’AH DITINJAU DARI KAJIAN FIKIH DAN LINGUISTIK

Syatibi berpendapat bahwa ‘’semua bid’ah itu tersesat’’. Ia katan, bahwa ‘’كل ‘’ di artikan semua. Jika demikian, maka pengertiannya’’ segala sesuatu yang baru (mengada-ngada), hukumnya bid’ah. Dan, bid’ah itu tersesat, dan kesesatan itu menuju ke Neraka. Dengan demikian, bagi yang berpegang teguh pada pendapat Syatibi, tidak ada pembagian bid’ah. Namun, sebagian ulama’ besar, seperti; Imam Safii, al-Hakim, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Baihaki, Ibn Hajar al-Aqolani, Imam al-Nawawi berpendapat bahwa Bid’ah itu dibagi menjadi dua bagian (1) Bid’ah Hasanan (2) Sayyiah.


Bahkan sebagian ulama ada yang membagi bid’ah itu menjadi lima: Bid’ah Wajibah, Muharramah, Mandubah, Makruhah, Mubahah (Qowaid al-Ahkam fi Masolih al-Anam, juz 1 hlm, 173). Ini sangat bertengtang dengan pendapatnya Syatibi. Namun bukan berarti pendapat Syatibi itu benar seratus persen. Kemudian menganggab pendapat yang lain salah, atau menganggab Syatibi itu lebih baik dari pada Imam Syafii dan Nawawi, serta Ibu Hajar al-Askolani. Jadi, sebagian besar ulama’ madzhab Syafii berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi dua bagian memiliki sandaran yang kokoh.
Beberapa ulama linguistic, ketika memaknai ‘’كل بدعة ‘’ ternyata tidak sembrono. Sebab, menurut kajian linguistic, arti ‘’كل ‘’ tidak selamanya ‘’ semua’’, sebab di dalam beberapa ayat, Allah Swt menjelaskan bahwa adakalanya ‘’كل ‘’ berarti ‘’sebagian dari’’. Di bawah ini ayat-ayat yang menggunakan ‘’كل’’ tetapi artinya sebagian.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya’ (21:30) Memang ayat ini menggunakan كل tetapi artinya tidak semua benda yang ada di dunia ini diciptakan dari air. Di dalam ayat lain juga diterangkan.
وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera (Q.S al-Kahfi (18:79). Arti dari kalimat ‘’كل سفينة ‘’ ternyata tidak semua perahu dirampas, buktinya perahu-perahu yang jelek tidak dirampas. Kajian linguistic dalam ayat ini mengisaratkan bahwa ‘’كل’’ disini bukan seluruhnya, sebagaimana pendapat orang yang mengaatikan semua bid’ah itu tersesat.

Jika ‘’KULLU’’ dalam hadis itu diartikan keseluruhah (semua), berarti semua bid’ah dilarang, berarti para sahabat Nabi Saw, telah melakukan dosa kolektif. Sebab, bisa dipastikan, bahwa Umar Ibn al-Khattab, Usman Ibn Affan, juga teramsuk orang-orang yang melakukan bid’ah. Jadi, kurang etis jika meng-artikan semua bid’ah itu terlarang, atau menganggab bahwa bid’ah yang dikatakan para ulama itu hanya sekedar bahasa. Sebab, realitasnya Umar mengatakan ‘’inilah nikmatnya bid’ah’’, ini memang benar-benar nyata ketika melaksanakan sholat tarawih.
Logikanya, tidak mungkin sahabat seperti Umar melakukan larangan Nabi dengan melakukan tarawih bersama (berjama’ah) dengan jumlah yang tidak pernah diajarkan Nabi Saw. Sementara itu, pemerintah Arab Saudi juga ikut serta melaksanakan sholat tarawih 20 rakaat di Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Ketika malam terahir sepuluh ramadhan di Masjidilharam dilaksanakan sholat tahajut berjama’ah. Padahal, belum pernah ada ajaran Nabi Saw melaksanakan sholat tahajut berjama’ah pada bulan ramadahn. Ini juga dikategorikan bid’ah hasanah.
Wajar, jika seorang ahlih hadis, Ibn Hajar al-Asqolani berkomentar’’
وَجَاءَ عَنْ الشَّافِعِيّ أَيْضًا مَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي مَنَاقِبه قَالَ ” الْمُحْدَثَات ضَرْبَانِ مَا أُحْدِث يُخَالِف كِتَابًا أَوْ سُنَّة أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَة الضَّلَال ، وَمَا أُحْدِث مِنْ الْخَيْر لَا يُخَالِف شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَة غَيْر مَذْمُومَة ( فتح الباري)
Artinya:’’ jika sesuatu yang di ada-adakan itu ada dua macama. (1) sesuatu yang baru itu menyalahi al-Qur’an, dan sunnah Nabi Saw, Atsar sahabat dan Ijma’ Ulama’. Ini disebut dengan bid’ah dhalal (sesat). (2) jika sesuatu yang baru termasuk kebajikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, sunnah, dan ijma’). Maka perbuatan tersebut tergolong perbuatan baru yang dicela( Lihat; Fathu al-Bari, juz XVII, hlm 10).

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di HUKUM. Tandai permalink.

2 Balasan ke BID’AH DITINJAU DARI KAJIAN FIKIH DAN LINGUISTIK

  1. achmad zarkasyi berkata:

    perbedaan itu tidak untuk dibesar-besarkan tapi marilah kita cari persamaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s