Pudarnya Kesakralan Pernikahan

Ada empat model pernikahan sebelum sebelum islam datang. Ini diceritakan oleh Aisyah ra di dalam kitab-kitab hadis, seperti; Sohih Bukhori dan Muslim. Bahkan cerita model perkawinan sebelum islam juga diceritakan dalam banyak kitab-kitab sejarah, seperti; Tarikh Ibnu Atsir, Bidayah wa al-Nihayah; Ibnu Kastir. Perkawinan itu merupakan budaya bangsa Arab yang terang-terangan melecehkan hak-hak wanita sebagai bagian dari komunitas masyarakat. Wanita saat itu benar-benar menjadi komoditas kaum laki-laki, khususnya untuk kepuasan seksual belaka.

Model empat pernikahan itu sudah menjadi budaya masyarakat Arab Jahiliyah. Bukan hanya masyarakat Arab Jahiliyah, di Yunani, Romawi, China, tidak lebih baik dari Arab Jahilyah. Adapan jenis-jenis pernikahan sebelum islam datang sebagai berikut, sebagaimana diceritakan di dalam kitab (al-Muwatto’ Ibn Malik).

(1)   Pernikahan seperti yang kita kenal sekarang. Artinya, seorang lak-laki datang kepada datang kepada pihal wanita (wali) untuk meminangnya. Ketika telah sepakat, maka sang wali segera menikahkan. Nabi Saw menikah dengan Khodijah binti Khuwalid dengan cara pernikahan ini.

(2)   Perkwaninan (Istibdo’)Seorang lelaki berkata kepada pasangannya (isterinya) ketika sang isteri suci dari haidhnya: “Pergilah engkau kepada si fulan, silahkan berkumpul dengannya (yakni jima’)”. Setelah itu suami tadi tidak akan menyentuhnya, sampai jelas bahwa si isteri itu hamil. Jika telah nyata hamil maka si laki-laki yang terakhir ini dapat memiliki isteri itu, jika ia mau. Ia melakukan hal itu dengan harapan agar anaknya bagus secara fisik (ganteng).

(3)    Berkumpul beberapa orang antara 1 hingga 10 orang. Lalu mereka mengumpuli seorang wanita yang sama. Jika wanita itu telah hamil lalu melahirkan, maka dipanggillah semua laki-laki yang pernah mengumpulinya itu. Selanjutnya, wanita itu meminta pertanggung jawaban dari salah seorang laki-laki di antara mereka yang paling dia sukai, dan anak itu menjadi anaknya. Laki-laki yang telah dipilihnya, tidak kuasa menolaknya.

(4)    Prkawinan al-Bagoya (pelacuran). Seorang wanita meletakkan bendera khusus di pintu rumahnya. Setiap laki-laki yang berhasrat dipersilahkan masuk dan bercumbu denganya. Ketika wanita itu telah hamil dan melahirkan. Maka wanita itu memanggil setiap laki-laki yang pernah men-ngumupinya. Setelah diperlihatkan anak kepada laki-laki yang datang. Siapa di antara mereka yang paling mirip, maka ia akan menjadi ayah genetiknya. Dan laki-laki itu tidak kuasa menolaknya.

Setelah Islam datang, tiga pernikahan itu dihapus. Tinggal model pernikahan pertama, sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Saw, hingga sekarang.  Namun, seriring dengan perjalan waktu, pernikahan model pertama yang telah dicontohkan oleh Nabi mulai pudar. Sebagian orang mulai menganggap pernikahan iti mulai tidak penting. Terbukti, ada beberapa orang yang sengaja serumah tampa ikatan pernikahan. Dengan alasan, nikah itu sacral, sehingga jika tidak bisa menjaganya sama dengan menodahi kesakralan pernikahan tersebut.

Di sisi lain, perceraian benar-benar meningkat tajam. Padahal, Allah Swt menjelaskan bahwa pernikahan itu salah satu dari kebesaran-Nya. Berdasarkan data tahun 2007,  perceraian mencapai 32.081, ditingkat Jawa Timur. Adapun motifnya beragam, seperti; poligami, kurang harmonis, alasan ekonomi, tidak tanggung jawab, dll (MATAN: 15/10/2007). Ini benar-benar menjadi ancaman besar. Yang lebih ironis lagi, perceraian itu justru terjadi pada kalangan keluarga yang notabene berpendidikan sarjana. Padahal, mereka telah berpacaran dan saling menggenal serta saling mencintai. Lantas, apa artinya sebuah cinta, jika berahir dengan saling membenci.

Tingkat perceraian dari tahun ketahun terus meningkat. Padahal, tingkat pendidikan semakin tinggi. Dan, merekapun juga saling mengenal dan mencintai. Di Blitar Jawa Timur, Angka perceraian yang terdata di Pengadilan Agama Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pemicunya bermacam-macam, seperti; selingkuh, ekonomi,. Bagian Hubungan Masyarakat PA Kabupaten Blitar Nurul Huda, mengemukakan jumlah kasus perceraian tahun 2010 mencapai 3.500 kasus, dengan perkiraan dalam satu bulan masuk sekitar 290 kasus. “Tetapi, untuk 2011 ini sudah mulai ada peningkatan jumlah kasus yang masuk. Untuk per Januari dan masuk ke Februari ini saja hampir masuk 617 kasus,” katanya mengungkapkan, Jumat (25/2/2011).

Kasus yang menarik lagi ialah maraknya pernikahan pasca hamil. Dua hari berturut-turut, Radar Malang mengangkat berita seputar Tren menikah setelah hamil. Ini terjadi dikota Batu- Malang. Ada sebuah tren baru dikalangan muda-muda, bahwa mereka menikah ketika sudah hamil. Sebelumnya, pernikahan itu menjadi aib (cela) bagi sebuah keluarga. Tetapi, ternyata sekarang menjadi sebuah tren yang seolah-olah tidak berdosa. Agamawan sudah berusaha memberikan penyuluhan agama kepada masyarakat akan tetapi kasus seperti sulit untuk dihindari, bahakn cenderung meningkat tajam.

Jika dianalogikan. Pada jaman Nabi Saw, ketika ada seorang wanita ngrasani (gossip), para tetangga merasakan t bau busuk yang menyengat dari arah tempat gossip. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, khususnya di jaman modern ini, karena jumlah orang-orang yang ngrasani (gossip) semakin banyak, udaranya-pun sudah tercemar dengan bau busuk itu, seolah-olah bau itu telah menyatu, sehingga bau busuk nan menyengat tidak terasa lagi. Contoh lain, ketika musim hari raya qurban, hampir disetiap halaman masjid ada kambing. Hari pertama para tetangga protes karena bau pesing kencingnya kambing yang menyengat. Semakin hari jumlah kambing semakin banyak. Karena terbiasa, maka warga tidak protes lagi, karena sudah terbiasa dengan bau pesing (busuk).

Begitu juga dengan tren menikah pasca hamil, perceraian dan perselingkuhan. Jika pemerintah, masyarakat, serta agamawan tidak berusaha keras mengatasinya. Khawatirnya akan menjadi tradisi, sehingga sudah biasa dan tidak tabu lagi. Jika demikian, ini akan membahayakan masa depan bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam serta menjaga nilai-nilai luhur pancasila. Masyarakat sebagai control sosial harus peka. Peranan orangtua terhadap anak-anaknya juga harus ditingkatkan, sehingga kejadian-kejadian di atas dapat diminimalisir.

 



Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s