Gerakan Sedekah Organ Tubuh

Sebuah kebahagian tersendiri bagi setiap orang jika mampu memberikan sebagian dari apa yang dimilikinya (rejeki). Hampir semua agama dan keyakian mengajarkan berbuat baik kepada orang lain. Islam dengan lantang mengajak para pengikutnya agar supaya gemar bersedekah (berbagi). Dalam sebuah hadis, Nabi Saw menjelaskan bahwa sedekah itu bisa menambah dan membuka pintu rejeki dan menambah usia. Yusuf Mansur secara terang-terangan mengajak umat islam agar supaya tidak ragu-ragu di dalam urusan sedekah. Sebab, bersedekah satu (rupiah), tuhan akan melipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.

Agama-agama di dunia menyerukan agar supaya berbuat baik kepada orang lain. Bahkan, ketaatan kepada tuhan juga harus dibuktikan dengan melestarikan lingkungan; darat, laut dan udara. Manusia diciptakan oleh tuhan agar supaya menjadi kholifah (pemelihara) lingkungan sekitarnya. Di dalam al-Qur’an Allah Swt mengecam manusia yang tidak melestarikan lingkungan. Sesungguhnya kerusakan di darat dan di laut itu akibat dari ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.  Begitu besar Islam memberikan perhatian terhadap lingkungan sekitarnya, sampai alam sekitar-pun harus dijaga dan dilestarikan dengan sebaik-baiknya.

Bagi orang-orang yang cukup materi, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi mereka untuk memberikan sebagian hartanya untuk orang-orang miskin nan lemah. Ini sebagai bentuk bagian dari perhatian yang diajarkan agama. Dalam ajaran islam, perhatian dalam bentuk materi itu disebut dengan Zakat (sedekah). Zakat harta hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah mampu. Sedangkan bagi yang tidak memiliki harta benda (miskin). Sedekah itu bisa diganti dengan membaca tasbih, tahmid, dan tahlil. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sedekah (berbagi) kepada orang-orang sekitar yang tidak mampu. Orang miskin-pun bisa berbagi dengan berdzikir setiap pagi dan sore hari.

Jika direnungi, ternyata esensi sedekah (berbagi) itu bukan hanya pada financial saja. Lebih luas lagi, ilmu (pengetahuan) itu juga harus berbagi. Para ulama’ seperti; a;-Farabi, Ibnu Sina, Ibn Hazm, Ibn Kholdun telah berbagi ilmu (sedekah) kepada orang-orang setelahnya. Buku-buku karya mereka menjadi bukti nyata, bahwa mereka telah berbagi tanpa mendapatkan imbalam materi sedikitpun. Bahkan, buku-buku mereka tidak hanya bernmanfaat bagi kalangan muslim, tetapi semua kalangan intelektual barat dan timur juga menikmatinya.

Secara spesifik lagi, tubuh manusia yang terdiri dari organ dalam dan luar bisa dipergunakan untuk bersedekah (berbagi). Apa yang dimiliki manusia, sepeti; tulang, darah, kornea mata, jantung, ginjal, ginjal, jantung, kornea mata, bisa diberikan kepada orang lain, kecuali setelah meninggal dunia. Sedangkan ginjal, bisa disedekahkan, sebab dengan satu ginjal, manusia bisa hidup dan sehat. Lebih lanjut lagi, ternyata manusia yang sehat secara fisik, ketika meninggal dunia masih bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Dengan berbagi (bersedekah) organ tubuh kepada orang lain yang membutuhkan, ini bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Seperti; menyedekahkan jenazahnya kelak ketika telah meninggal dunia.Hanya saja, untuk melakukan ini, tentunya orang yang hidup (anak/cucu) merelakan orang dekatnya untuk menjadi bagian dari sedekah jenazah. Sebab, jika sanak dan kerabatnya tidak menyutuji, tentunya sedekah oragan tubuh (jenazah) tidak mungkin bisa dilakukan.

Logika orang-orang yang berniat menyedekahkan orang tubuah (sedekah) ialah, dari pada di dalam tanah (kuburan) dimakan ulat (mikroba), lebih baik di donorkan ke fakultas kedokteran. Sebab, satu tubuh manusia yang sehat, ternyata bisa memberikan manfaat kepada 50 orang yang masih hidup. Namun, hal perlu dikaji lebih dalam oleh pakar-pakar agama (fikih). Bagaimana hukumnya mendonorkan jenazah jika dilihat dari sudut pandang al-Qur’an dan hadis Nabi Saw.?

Saat ini, banyak sekali orang-orang yang sakit ginjal, hati, mata, yang memerlukan organ tubuh. Untuk membeli, tentunya harus merogoh kocek dalam-dalam, itu-pun masih sangat sulit dan langka. Oleh karena itu diperlukan sebuah keragan baru untuk mendonorkan bagian penting dari organ tubuh manusia yang masih bisa dipergunakan, seperti; kornea mata, ginjal, jantung (hati), tulang dll. Di dalam sejarah ilmu kedokteran kuno, penggunaan tubuh mati (jenazah) manusia atau mayat untuk  penelitian ilmu anatomi dimulai pada abad ke-4 SM, saat Herophilos dan Erasi stratus mempertunjukkan pembedahan mayat di Iskandariyah di bawah bantuan

Di sisi lain, jika gerakan donor organ tubuh ketika sudah menjadi mayat (jenazah) ini berjalan dengan baik, maka biaya kuliah difakuktas kedokteran tidak terlalu tinggi. Sebab, salah satu dari melambungnya biaya kuliah kedokteran dikarenakan mahalnya harga jenazah. Saya tidak tahu persis, apakah jezanah yang dipergunakan praktek oleh calon dokter itu membeli, atau menggunakan jenazah-jenazah tampa identitas.

Sebab, sampai sekarang belum ada keterangan jelas sepuatar asal usul mayat yang dipergunakan praktek oleh fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia. Syeh Prof.Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab : Fiqhu al-Islam wa Adillatu membolehkan mayat dipergunakan praktek. Karena ini bagian dari proses pendidikan. Yang jelas, jual belis (perdagangan) yang tidak diperbolehkan. Jika para dokter yang pernah melakukan dan mempelajari anatomi itu berwasiat agar jenazahnya kelak disedekahkan, itu lebih baik. Sebab, gerakan ini harus dimulai dari para medis, karena mereka-lah yang lebih mengerti manfaat atas sedekah organ tubuh.

Namun, untuk membumikan gerakan sedekah organ tubu tidaklah semudah yang dibayangkan. Sebab, tidak semua orang mau menerima pandangan radikal ini. Apalagi, beberapa agama dan keyakinan melihat bahwa jenazah itu sangat mulia, sehingga harus diperlukan dengan mulia pula. Islam memulyakan jenazah dengan cara menguburkan, sebagaimana banyak keterangan al-Qur’an dan hadis Nabi Saw.

Kendati ini sangat sulit diterima, alangkah mulyanya jika seseorang itu bisa mendonorkan darahnya. Donor darah tidak bertengtangan dengan ajaran agama. Bahkan, para ulama dan tenaga medis mengajurkan. Sebagian orang berpendapat bahwa donor darah itu menyebabkan kepala pusing. Ternyata dunia medis membuktikan bahwa donor darah itu tidak apa-apa. Yang terpenting ialah, bagaimana seseorang bisa memberikan manfaat kepada sesamanya. Dengan donor darah, berarti telah menyelamatkan orang lain dari kematian. Di dalam sebuah keterangan makalah dikatakan’’ sebaik-baik manusia ialah orang yang bisa memberikan manfat kepada orang lain’’ (Fathu al-Bari: 12/418- Maktbah al-Syamilah) Wallau a’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s