Mengagungkan Cinta, Harus Ditebus dengan Duka Lara

Perpisahan itu sudah tidak terelakan lagi. Padahal sudah dikaruniai putra-putri yang cakep nan lucu-lucu. Tuhan telah mentakdirkan sepasang kekasih yang belum terlalu lama membina rumah tangga harus berpisah. Padahal, cinta itu masih melekat kuat di dalam sanubari yang paling dalam, kenangan-kenangan indah, seperti; cincin, boneka, hadiah ulangtahun, foto bersama, begitu sulit sekali hilang dari benak keduanya. Sesekali, keduanya melihat foto-foto yang tepampang di kamar tidurnya, sms, catatan, goresan-goresan pena kadang dibuka untuk sekedar mengingat indahnya pacaran, dan indahnya ketika bercinta kala kala itu.

 

Seringkali laki-laki itu merenung sendiri. Betapa beratnya hidup tanpa ditemani seorang istri yang amat dicintainya, tetapi apa mau dikata, ternyata sekarang harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah beripisah. Lelaki itu segera berfikir mencari penganti, wanita pujaan hati yang pertama kali berlabuh di dalam hatinya sekarang bukan miliknya lagi.  Dalam hatinya dia berkata:’’ aku tidak mungkin terus mengingatnya’’, karena sekarang dia telah menjadi milik orang lain’’. Tetapi, lelaki itu bertekad tidak akan melupakan wanita itu, dialah wanita yang paling sempurna dalam hidupnya, walupaun takdir tuhan harus memisahkanya. Lelaki itu, akan mencari wanita yang mirip dengan mantan istrinya, sebagai pengganti, walaupun cinta pertama sulit terlupakan.

Tidak terasa, ternyata wanita itu (mantan istrinya) juga melakukan yang demikian. Wanita itu masih terlihat cantik nan menarik, hari-harinya dipergunakan untuk FB-an, hanya sekedar mengusir rasa rindu yang yang sulit hilang. Ia menyadari, betapa dalamnya cintanya, sehingga tidak mudah melupakannya. Tapi kuasa Tuhan berbeda, perpisahan itu membuat dirinya semakin dewasa dan matang dalam berfikir. Sekarang, masing-masing telah berfikir realistis, bahwa pernikahan itu tidak hanya bocin (bondo cinta), tetapi harus berdasarkan isarah-isarah langit. Isarah itu baru bisa ditangkap, kecuali dengan kejernihan fikiran dan beningya batin.

Setelah melalui hari-harinya, ia mulai merasakan betapa besar cinta Allah kepada dirinya. Ketika mengenal suaminya dulu, ia tidak pernah berfikir panjang serta merenungi, bahwa akhirnya begini. Rasa was-was, menghantuai hidupanya.

Setiap Adzan tiba, ia mencoba dan berusaha segera melaksanakan sholat berjama’ah, tidak lupa ia berdo’a sejenak agar hatinya semakin tentram ketika mengingatnya. Tapi, rasanya sangat sulit. Sudah berkali-kali mencoba berangkat ke masjid untuk melakukan sholat berjama’ah, tetapi belum bisa maksimal.

Karena tidak ingin gagal, ia terus mencoba dan mencoba, hingga suatu saat ia mulai menemukan dirinya sendiri sebagai seorang hamba. Semakin hari semakin dekat dengan Tuhan. Sholat lima waktu sudah utuh, Qur’an juga tidak pernah ketinggalan walaupun hanya satu halaman. Tahajjud, kadang-kadang dilakukan, walaupun masih bersifat senin kamis.

Ketika pada malam jum’at, wanita itu berusaha bangun malam untuk melaksanakan sholat tahajut. Tiba-tiba, jantungnya berdetak kencang, berdebar-debar saat bersujud ditengah keheningan malam. Tidak terasa, tiba-tiba air matanya membasahi kedua pipinya yang halus.

Bibirnya yang merah basah dengan tasbih, tahlil serta takbir. Ia merasakan bahwa yang dilakukan selama ini, sejak mengenal mantan suaminya, hingga menikah, dan akhirnya berpisah adalah kesalahan dari ‘’pacaran’’ yang berlebihan, dan penuh dengan dosa-dosa. Ia menyadari, kegagalan rumah tangganya bukanlah karena cinta suci nan sejati, tetapi karena nafsu yang tidak terkendali. Pacaran itulah yang justru menodahi cintanya.

Ia-pun membiarkan air matanya mengalir deras. Tangisan itu ibarat penyesalan, dalam hatinya ia berkata, ’’Ya Allah, betapa indahnya malam ini, aku dapat menemukan diriku lewat sepinya malam. Ya Allah, Engkau hadir di tengah-tengah malam. ’’Aku bersyukur……Ya Alllah, ampunilah dosa-dosa dan kesalahanku”.

Tidak terasa, tangisan itu sudah hampir satu jam. Ternyata menagangis di depan Allah itu lebih indah dari pada mengangis di depan pacar ketika bertengkar. Ia bernar-benar merasakan tentram di dalam dekapan tuhan. Setiap kali melakukan sholat malam, rasa damai, tentram, menyelimuti hati dan fikiranya. Bahkan orang ketika ada suara anak memangilnya, tidak terdengar, karena terlena dengan kenikmatana berinteraksi dengan tuhan.

Tidak lama kemudian, terdengar suara berita bahwa lelaki yang pernah menjadi pendampingnya menikah lagi. Wanita itu menyadari, karena lelaki itu memang tidak mungkin kuat hidup tanpa seorang wanita disisinya. Dia-pun bersyukur, karena lelaki yang masih dicintainya itu menemukan wanita lain sebagai pengantinya. Lelaki itu juga bergembira, karena telah menemukan sosok wanita yang mirip dengan wajah mantan istrinya, walaupun perhatian dan ketlatenan jauh berbeda dengan istri pertamanya. Kedua insan yang telah berpisah itu baru merasakan, betapa pentingnya jika penikahan itu di dasari dengan cinta dan isarah tuhan. Itulah takdir tuhan, cinta tidah harus memiliki, ternyata, kadang cinta itu kadang justru saling menyakiti dan saling mengorbankan cintanya.

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s