KIAMAT LOKAL TERJADI DI NEGERI MIYABI

Di dalam banyak berita, muncul beberapa judul terkait dengan gempa dan tsunami di Jepang. Jepang adalah tempat tinggal seorang wanita cantik yang pernah menghebohkan Indonesia, khususnya FPI. Front Pembela Islam pasti bersyukur jika Miyabi itu ikut terseret tsunami. Ada yang bilang, di Indonesia juga banyak Miyabi, yang artinya’’ Jual Mie dan Serabi’’. Kalau penjual Mie dan Serabi bisa ditemukan dipingir jalan setiap jalan. Miyabi Indonesia membawa berkah, dan Miyabi Jepang membawa musibah.

Ada selentingan suara mengelitik bertanya seputar keberadaan Miyabi. Ini  sangat menarik, sebab dalam kondisi begini, masih ada yang mengkhwatirkan keberadaan Miyabi. Padahal Miyabi itu pernah bikin gonjang ganjang Indonesia. Miyabi-pun, menginformasikan dalam twiternya, bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja.  Kasturi, seorang tukang parkir nyeletuk;’’ jangan-jangan, gempa bumi dan tsunami itu, karena goyangan Miyabi, sebagaimana Inul mengoyang Sidoarjo, sehingga muncul Lapindo’’. Kejadian itu membuat semua orang tercenggang, karena tuhan masih menyayangi hamba-hamba-Nya dengan mengirimkan bencana, dengan tujuan agar supaya hambanya semakin ingat kepada-Nya, bahwa Tuhan yang maha kuasa atas segalanya. Selanjutnya, lewat bencana dan musibah ini, tuhan ingin mengatakan bahwa manusia tidak berdaya, sekaligus memberikan kesempatan kepada yang masih bernyawa utuk peduli kepada sesama untuk berbagi.

Gempa dan Tsunami itu juga menjadi mukoddimah kiamat. Hanya berkekuatan 8,9 mampu memporakporandakan Jepang. Padahal, Jepang salah satu Negara hebat dan canggih, ternyata masih porak poranda. Bagaimana dengan Negara-negara yang baru berkembang? Mukoddimah kiamat iti di awalid Jepang. QS. al-Zalzalah (99:1-8) yang artinya:’’  Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Secanggih dan sehabat apapun tehnologinya, ternyata masih belum bisa menghalagi terjadinya Gempa Bumi dan Tsunami. Memang, tanda-tanda akan terjadinya gempa bumi dan tsunami bisa terdeteksi oleh alat-alat tehologi. Tetapi, tidak ada satupun manusia dimuka bumi ini mampu lari dari kejaran maut, jika tuhan telah menghendaki. Tidak sulit bagi tuhan ketika ingin membuktikan kekuasaan dan kehebatanya kepada manusia. Gempa Bumi yang terjadi di Jepang sudah menjadi makanan sehari-hari. Ketika terjadi, penduduk Jepang tidak kaget lagi, karena semua bangunan tingkat tinggi sudah diperkuat dengan beton, besi, yang diperkirakan tidak bisa roboh dengan gempa berkekutan tinggi.

Tuhan ingin menguji kekuatan dan kehebatan tehnologinya orang-orang Jepang yang serba canggih itu. Ketika terjadi gempa berkekuatan tinggi, para ahli membuat bangunan yang lebih kuat. Ketika gempa datang lagi, dan memporakporandakan kota Jepang, para ahli berusaha memperkuat bangunan lagi, agar tidak roboh lagi ketika menghadapi gempa lagi. Seolah-olah, Tuhan ingin berlomba-lomba dengan hambanya, siapa yang lebih hebat. Bisa jadi Jepang akan memperkuat bangunan pasca gempa ini, Tuhan-pun akan meningkatkan kekuatan gempanya. Tuhan memang maha kuat dan perkasa bisa berbuat apa saja, sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa ada yang mengaturnya.

Bagi-ku, gempa bumi, tsunami, letusan gunung merapi, longsor, bajir, menjadi bukti bahwa manusia itu tidak berdaya. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, mengerahkan segala kekuatan dan kemampuanya, tetapi tuhan pencipta alam semesta ini juga memiliki rencana lain atas alam semesta ini. Ketika tuhan berkehendak, Allah Swt tidak pernah membedakan agama dan keyakinan. Orang yang menyebah-Nya, atau orang yang menduakan diri-Nya, atau tidak mempercayai diri-Nya sebagai pengguasa jagad ini juga akan merasakan dasyatnya bencana gempa bumi dan tsunami. Hanya satu kata, mencari hikmah pasca kejadian ini, dan berbagi dengan rekan-rekan yang sedang terkena Musibah ini.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s