Mengugat Nikah Siri

Orang tua sering mengatkan kepada lelaki dan wanita yang berduaan tanpa ada iktan nikah dengan sebutan ‘’sir-sir-an’’. Saya mencoba bertanya kepada mereka. Apa itu artinya ‘’sir-sir-an’ mbah? Si Mbah ngak jawab sederhana’’ Sir-sir-an itu artinya lelaki berduaan tanpa ada ikatan nikah. Menurut pemahaman Si Mbah’’ sir-sir-an’’ itu hukumnya berdosa, karena bertengtangan dengan ajaran agama.

Setelah saya belajar bahasa Arab. Saya mulai mengenal sedikit demi sedikit istilah-sitilah bahasa Arab. Sir-sir-an itu ternyata berasal dari bahasa Arab (sirrun) yang berarti rahasia. Jadi, sir-sir-an itu berarti’’rahasia-rahasia-an’’ antara laki-laki dan perempuan tanpa ikatan pernikahan. Dan ini hukumnya dosa besar. Agar supaya lebih halus dan sopan dalam pendengaran, maka istilah’’ sir-sir-an’’ itu lebih tepat. Sebab, jika menggunakan basaha jawa sangat kasar dan kurang enak didengar, seperti; demenan, genda’an, dan masih banyak lagi istilah lainnya.

Ahir-ahir ini, orangtua tidak lagi merasa malu jika anak putrinya berduaan dengan lekaki tanpa ada ikatan nikah. Bahkan, tidak sedikit orangtua merasa bangga jika setiap minggu didatangi oleh lawan jenisnya. Semakin banyak yang datang semakin bangga, karena menunjukkan anaknya laris manis. Dan, jika anaknya terlihat cantik nan mempesoan sedap dipandang mata, merupakan sebuah ke-untungan, karena bisa mendatangkan profit…capek deh…! karena nilai jualnya cukup tinggi…!

Dan, tidak sedikit dari perempuan-perempuan muda nan cantik itu menjadi istri simpanan pejabat atau orang-orang yang berduit. Hubungan ini sah menurut agama, tetapi tidak sah menurut hukum Negara. Sebab, hubungan pernikahan ini bersifat sirri alias rahasia. Bagi laki-laki, ini sangat menguntungkan. Sebab, sebagian laki-laki menikah siri bukan semata-mata ingin mengentaskan kemiskinan, tetapi menikmati indahnya kecantikan ke-seksian seorang wanita muda. Dan, wanita itu dirugikan.

Maraknya pernikahn sirri itu menjadikan pemerintah dan kalangan agamawan prihatin. Oleh karena itu, Departemen Agama (Depag) telah memberikan pernyataan tegas seputar nikah siri yang termaktub dalam Counter Legal Draft Komplikasi Hukum Islam (CLDKHI) yang diajukan Tim PUG Depag 2004 bahwa pencatatan perkawinan merupakan salah satu syarat sahnya perkawinan (pasal 6). Jadi, perkawinan yang dilakukan akan menjadi batil secara hukum Negara, jika tidak dicatatkan, karena dianggap telah melanggar hukum Negara. Karena pelanggaran itu, secara otomatis, sang pelaku mesti memperoleh saksi.

Hanya saja, pemerintah tidak Draft itu memberikan ketentuan hukum secara konkret jenis hukuman terhadap para pelaku nikah siri.  Dan, ternyata Draft itu tidak berfungsi hingga tahun 2010. Realitasnya, para pelaku nikah siri juga masih banyak, dan tidak ada yang tersentuh sanski pidana, baik bentuk materi (uang) atau penajara. Pada tahun 2010, pemerintah melalui depag mencoba menyempurnakan Draft, yaitu akan memidanakan para pelaku nikah siri, tanpa menyebutkan secara mendetail.

Memang, sebagai umat beragama, khususnya pemeluk islam, pengikut setia Nabi Muhammad Saw akan lebih setia terhadap aturan agamanya. Al-Qur’an dan Hadis tidak akan akan bisa di geser oleh UU produk manusia, termasuk rencana memidanakan pelaku nikah siri. Apalagi rancangan UU itu banyak nuansa politis, atau karena tekanan dari kaum wanita yang merasakan bahwa dirinya termasuk orang-orang yang diholimi. Kendati demikian, bukan berarti wanita lantas berencana memindanakan para pelaku nikah siri.

Secara umum, rancangan UU itu mengarah kepada para lelaki yang melakukan nikah siri, karena dianggap menelantarkan kaum wanita. Mestinya, UU itu mencakup semua orang yang melakukan nikah siri, termasuk laki-laki dan wanita selaku mempelai, dan juga wali serta saksinya harus disiapkan pidananya.

Tidak cukup memidanakan pelaku nikah siri, akan tetapi mereka yang melakukan nikah kontrak, sebagaimana terjadi di puncak, tretes antara pribumi (Indonesia) dengan para pendatang, seperti Arab Saudi, Kuwait juga mesti mendapatkan perhatian khusus, dan juga mempersiapkan hukuman khusus juga.

Di kalangan mahasiswa, juga banyak terjadi pelanggaran seksual, seperti nikah siri, kontrak, dan juga hubungan seksual tapa ikatan Nikah (kumpul kebo), juga harus dipersiapkan hukumannya, karena realitas membuktikan bahwa muda-muda di kampus hampir 30-45 % pernah melakukan hubungan seksual tanpa ikatan nikah. Apa yang dilakukan mereka juga mesti mendapatkan perhatian khusus, serta pendekatan khusus. Sebab, jika diadakan penelitian, serta penelusuran lebih lanjut tidak menutup kemungkinan jumlah mereka yang melakukan hubungan diluar nikah melebihi angka yang disebutkan.

Jika benar penelitian itu, nyaris gadis-gadis remaja tingkat universitas tidak perawan lagi. Mereka melakukan hubungan badan diluar nikah, dan ini adalah pelanggaran yang serius. Mestinya, Depag mempersiapkan solusi agar mereka tidak melakukan hubungan diluar nikah, agar laju perzianan tidak merajalela. Jika sampai hamil, maka jumlah penduduk Indonesia akan lebih banyak dihuni oleh generasi tanpa ayah secara agama, walaupun memiliki ayah secara biologis.

Memang, secara kasat mata munculnya rencana UU ini dilatar belakangi sebuah tujuan mulia. Yaitu memproteksi terhadap istri-istri dan anak-anak. Selama ini merekalah yang paling banyak merasakan kesengsaraan akibat tiadanya pencatatan perkawinan yang menjadi bukti legal bagi pemenuhan hak-hak mereka (Musdah Mulia : Jawapos ( 22  Februari 2010). Tidak dipungkiri, memang ini menjadi masalah bersama, dan diperlukan sosuli terbaik untuk mentaasinya. Tetapi, bukan berarti kemudian melakukan pendekatan hukum pidana, sementara agama tidak melarang.

Yang perlu dipidanakan ialah mereka yang melakukan nikah siri, dengan tujuan  merusak rumah tangga orang (menikahi wanita yang telah beristri), atau merebut istri oranglain. Suka daun muda, atau apalah. Jika sebuah pernikahan resmi yang dihadiri oleh laki-laki dan wanita, sang kyai sebagai saksi orangtua sebagai fihak wali. Kemudian datang seorang polisi dengan mengatakan bahwa pernikahan ini tidak sah, karena melanggar hukum Negara. Sangat lucu, dan tidak mungking hukum buatan manusia mengalahkan hukum tuhan yang disyariatkan kepada Nabi Muhammad Saw. Walaupun Musdah Mulia mengtakan bahwa

Kata Muda Mulia : Ia mengatakan, paling tidak ada tiga alasan bagi mereka yang pro dengan nikah siri (1) Negara tidak boleh mencampuri urusan agama warganya (2) Kalau kawin siri dilarang, dan apalagi dianggap criminal, prostitusi menjadi marak (3) Kawin siri sah dalam ajaran islam (Jawapos : 22 Februari 2010).

Musdah menduga bahwa orang yang pro dengan nikah siri, dan menolak dengan rencana UU memidanakan pelaku nikah siri karena tiga factor. Memang tidak dipungkiri, tugas Negara mencatat semua aktifitas bersejarah yang dilakukan oleh warganya, termasuk nikah siri, da juga termasuk jumlah masyarakat miskin yang memerlukan bantuan financial, dan juga kesehatan.

Terkait dengan pernyataan sebagain masyarakat, jika nikah siri dilarang pasti akan marak prostitusi. Musdah mengatakan ini mengada-ngada. Menurut hemat saya, justru pernikahan siri itu menjadi salah satu solusi, agar perzinaan tidak meraja lela dibumi pertiwi ini. Sebab, dorongan nafsu yang begitu tinggi, serta maraknya pornografi, serta tayangan yang mengumbar sahwat sudah tidak terbendung lagi. Prostisusi sangat marak dikalngan masyarakat, semakin berkembang, khususnya di kalangan mahasiswa dan pelajar. Dan ini realitas yang tak terbantahkan lagi. Nikah siri menjadi solusi, akan tetapi perlu diimbangai dengan pendidikan agama, serta penyuluhan dari fihak terkait, agara nikah siri tetap terpantau, sehinga menjadi nikah yang tercatat, tanpa melakukan hubungan seksual diluar nikah.

Iip Wijayanto pernah membuat sebuah peneltian, hasilnya 97,05 % dari mahasiswa  1.660 dari mahasiswi yang kuliah di Jokja sudah tidak perawan lagi. Tetapi, penelitian ini menjadi polemik dikalangan akademis. Hasil ini juga harus menjadi sebuah renungan, khususnya bagi orangtua yang anaknya sedang mencari pengetahuan dan informasi di bangku kuliah, dimana saka. Hampir 98 % mahasiswi terdeteksi sudah tidak perawan lagi.

Ini berdasarkan hasil riset Dikektorat Remaja dan Perlingdungan Hak Reproduksi Remaja BKKBN Pusat, banyak remaja Indonesia terlibat hubungan sek diluar nikah. Di Medan, Binjai, Langkat,  diperkirakan tahun 2009, sekitar 60 % siswi sudah tidak perawan lagi (Harian Global-PT Paradigma Baru Globalindo.2008). Masisawi UMM (Universitas Muhammadiyah) Malang asal Australia juga melakukan penelitian, bahwa jumlah mahasiswi yang tidak perawan di malang telah mencapai 45 %, dan mereka rata-rata memahami agama dengan baik.

Tidak dipungkiri, kawin siri (dibawah tangan) sah menurut agama, walaupun tidak dicatatkan di KUA. Apapun alasanya, UU pemerintah tidak akan bisa mengalahkan hukum agama, apalagi latar belakang hukum tersebut ada nuansa politik didalamnya. Kendati demikian, sebagai warga Negara yang baik, disamping taat terhadap agama, juga mesti setia terhadap aturan pemerintah tanpa harus membenturkan agama dengan pemerintah, yang masing-masing memiliki aturan. Mestinya pemerintah mengadakan sebuah riset, sejauh mana penyelewengan seksual yang dilakukan oleh generasi bangsa. Kemudian bersama-sama mencari solusi, bukan memberikan wacana pidana terhadap pernikahan yang sah menurut agama.

Saya setuju dengan pernyataan Musdah bahwa orang menikah siri itu karena dilator belakngi oleh beberapa factor (1) Karena pendatang (2)terikat perkawinan (3) mempelai wanita tidak mendapat restu sang wali (4) Menikah dibawah umur (5)  Menikah dengan tujuan Trafiking. Jika ingin ditambah, karena takut berbuat zina, dank arena poligami tersembunyi, atau pegawai negeri (pejabat) yang takut dengan istri pertama. Apapun alasanya, nikah siri tetap sah. Hanya saja, perlu dipilah-pilah dan dirumuskan bersama-sama, kira-kira mana yang melanggar agama, dan juga aturan pemerintah sekaligus, atau merugikan masyarakat, itulah yang hatus mendapatkan sangsi hukuman.

Maraknya berita seputar  ‘Nikah Siri’ (Moerdiono-Poppy Dharsono) merupakan berita menarik. Sebab, kasus ini mengingatkan kembali pada sosok penyanyi dangdut, yang pernah dinikahi tetapi tidak diakui. Moerdiono memang benar-benar pencinta wanita. Moerdiono itu mirip dengan Syeh Puji. Tetapi, moerdiono sosok lelaki pengecut yang tidak berani menikahi wanita secara terang-terangan (poligami). Lantas, apakah Moerdiono itu juga bisa dipidanakan seperti Syeh Puji….? Sulit, soalnya yang di siri itu mau dinikmati, dan rela memberikan kenikmatanya…? buktinya tidak protes…!

 

 

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mengugat Nikah Siri

  1. bali tour berkata:

    Terima kasih atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s