Merintis Tradisi Do’a Bersama Sebelum UNAS

Di dalam sebuh hadis, Nabi Saw pernah menyampaikan yang artinya:’’ barang siapa merintis sebuah jalan yang bagus (sunnatan hasanatan) lantas diamalkan, maka dia akan mendapatkan pahalanya, selama rintisan itu dilaksanakan. Dan barang siapa merintis jalan kejelekan (sunnatan sayyiatan), kemudian dilakukan dan dilakukan orang setelahnya, maka dia akan medapatkan kejelekan itu’’.

Hadis ini menjadi motifasi bagi setiap orang agar senantiasa berusaha untuk merintis kebaikan selama masih sehat dan bugar. Do’a bersama itu termasuk rintisan bagus (sunnatan hasanatan). Orang yang pertama kali merintis sehingga menjadi kegiatan rutin, kelak akan mendapatkan pahalanya. Pahala itu akan terus mengalir, sebab nilai pahala itu seperti sodaqoh jariyah. Namun, jika rintisan itu negative, sang perintispun kelak akan mendapatkan royalti siksaan, selama rintisan kemasitanya itu terus dilestarikan oleh generasi setelahnya.

Ahir-ahir ini, UNAS seolah-olah berubah menjadi monster para murid dan orangtua. Untuk mengantisipasinya, sebagian besar pihak merintis kegiatan positif, seperti; dzikir dan do’a berjama’ah, istighosah, tahajud, dhuha, khataman, menyantuni anak yatim. Dan sebagian orangtua ada juga menyiapkan mental anak-anaknya dengan mengikuti training-training, seperti; ESQ, sholat khusu’. Usaha dzikir dan do’a itu merupakan salah satu dari rangkaian usaha agar supaya ketika menhadapi Ujian Nasional berjalan dengan lancar.

Esensi dari ritual dzikir bersama dan training itu ialah memberikan motifasi ruhani kepada siswa-siswi agar lulus Ujian Nasional. Tentunya dengan nilai yang memuaskan. Dengan nilai itu, seorang murid (siswa) bisa melanjutkan kejenjang lebih tinggi. Sekolah unggulan dan berkualitas menjadi tujuan setiap orangtua. Walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam, orangtua tidak memperdulikan, yang penting masa depan anak tidak suram.

Oleh karena itu UNAS menjadi sangat penting bagi masa depan seorang anak didik. Orangtua sangat yakin bahwa dzikir dan do’a dan training yang dilakukan secara bersama-sama (berjama’ah) itu mampu memberikan kekuatan luar biasa terhadap keberhasilan seorang anak di dalam menghadapi Ujian Nasional.

Lantas, apa memang ada hubungannya antara dzikir dan istighosah dengan kecerdasanan seorang anak? Sulit menjawab pertanyaan ini. Sebab, banyak sekali dari kalangan santri yang intelektualnya biasa-biasa kadang lulus UNAS dengan baik. Ada juga yang kecerdasanya lumayan bagus, namun ketika menghadapi UNAS justru tidak lulus. Dan ini sebuah realitas yang sering menjadi fenomena setiap tahun sekali.

Ahad (03/3/2011) di Masjid Jami’ Malang di adakan sebuah do’a bersama yang dipimpin langsung oleh putra KH.Suyuti Dahlan, yaitu Gus Ali Mustafa. Dalam do’a bersama itu, Gus Ali memberikan memberikan motivasi, sekaligus mengingatkan kepada para hadirin agar supaya berbuat baik terhadap kedua orangtua. Jangan sampai mencela atau membentak orangtua, karena itu termasuk dosa besar. Ketika menyampaikan ulasannya Gus Ali juga ikut larut dalam tanggis. Tak pelak, hadirin juga turut serta menanggis, ketika mendengar ulasan-ulasan itu.

Terahir, Gus Ali Mustafa memberikan arahan kepada anak-anak agar supaya sungkem kepada orang tua dengan harapan ketika menghadapi UNAS bisa lulus dengan baik dengan nilai yang memuaskan. Di sisi lain, Gus Ali juga menyarankan agar supaya Air Aqua yang dibawa untuk dibuka. Setelah membaca surat al-Fatihah, kemudian ditiupkan pada Air tersebut. Nanti, ketika akan menghadapi ujian, air tersebut diminum, dengan harapan memberikan kebaikan ketika menghadapi ujian. Sebab air memang mampu menyimpan pesan positif, sebagaimana penelitian orang Jepang.

Motifasi gaya Gus Ali ini sudah mulai membumi di nusantara ini, khususnya menjelang UNAS. Hal ini berangkat dari kegagalan-kegagalan masa lalu. Dimana banyak murid-murid yang tidak lulus, karena mengandalkan kemampuan inteletualnya. Setelah dicermati, ternyata kegagalan itu karena kurangnya pendekatan diri kepada Allah Swt. Lebih ironis lagi, ketika mengalami sebuah kegagalan dalam ujian. Bukanya pasrah (tawakkal) kepada-Nya, melainkan mengambil jalan pintas (bunuh diri).

Menurut analisa saya, tidak cukup dengan berdoa (dzikir) bersama ketika menghadapi ujian UNAS. Belajarnya juga perlu ditingkatkan, sebab antara intelektual dan spiritual itu harus berjalan seimbang. Nenek moyang dahulu kala seringkali memberikan wejangan kepada putra-putrinya. Wejangan itu memiliki nilai filsafat yang tinggi, bukan sembarang wejangan biasa.

Suatu ketika orangtua bilang kepada putrinnya yang sedang menginjak remaja:’’ Nduk (panggilan sayang kepada anak putri)….! hati-hati kalau bergaul dengan lawan jenis ya..!agar tidak terperangkap oleh godaan syetan dan nafsu..!

Ketika wejangan ini disampaikan, orangtua juga memberikan Rambo-rambo, seperti; cara berbusana yang bagus, tidak keluar malam, dan tidak gampang teperdaya oleh rayuan lelaki. Di sisi lain, orangtua juga memberikan keteladanan. Tidak berhenti disitu, orangtua juga melarang anakputrinya berduaan dengan lelaki yang bukan muhrimnya (pacar atau tunangan). Ahirnya, sang putri selamat dari godaan syetan dan nasfunya. Selanjutnya, orangtua tak henti-henti melobi tuhan yang maha esa agar supaya putrinya dijaga ahlaknya oleh Allah Swt.

Jangan sampai orangtua mengatakan:’’ Nduk…..!hati-hati jika bergaul dengan lawan jenis”. Kalimat hati-hati itu ternyata tidak dibarengi dengan sikap. Bagaimana mungkin bisa selamat, ketika orangtua menyampaikan ‘’hati-hati’’ ternyata orangtuanya mempersilahkan anak putrinya berjalan (berboncengan / di dalam mobil) berduaan dengan lelaki yang bukan suaminya. Apakah bisa selamat, jika seperti ini?

Berdzikir (berdo’a) bersama, belajar, dan tawakkal adalah modal utama untuk meraih sebuah kesuksesan UNAS. Jangan hanya berdoa terus menerus, tetapi tidak belajar sungguh-sungguh. Sebaliknya, jangan sampai belajar siang dan malam, tetapi ahirnya lupa berdo’a kepada tuhan. Sikap proposional sangat diperlukan di dalam meraih keberhasilan UNAS.

Terahir ialah miracle (sikap pasrah). Belajar sudah giat dan semangat, berdo’a juga dilakukan baik berjama’ah atau ketika sedang sendiri dirumah. Selebihnya adalah pasrah kepada Allah Swt. Ketentuan apa-pun dari Allah Swt, pasti ada hikmahnya. Lulus dengan baik dengan nilai memuaskan itu merupakan harapan semua orang, namun jika tidak lulus pasti dibalik itu semua Allah Swt memiliki rencana yang lebih baik bagi hamba-hambanya. Jangan menyerah dan putus asa, terus berusaha dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s