MEMAKNAI SHOLAT KHUSU’ YANG SEBENARNYA

Fenomena di era modern ini, bermunculan training-training, seperti; Pelatihan Sholat Khusu’, ESQ, Ther Road to Makkah (Haji Itu Mudah), Ke-Ajaiban Sodaqoh, Bengkel Hati, Training Sholat Tahajud, Training Sholat Duha. Berbagai training ditawarkan oleh para trainer-trainer handal, seperti; Ari Ginanjar, Abu Sangkan, dll. Training itu ternyata juga tidak gratis. Para peserta itu sebagian besar dari kalangan menenggah ke-atas. Sebab setiap mengikuti pelatihan, ratusan ribu, bahkan lebih dari satu juta rupiah. Jadi, segmentasi (pasar) pelatihan ini lebih terfokus pada orang-orang kaya.

 

 

Jika ada yang bertanya, apa tujuan training itu, para trainer sepakat bahwa training itu bertujuan baik dan positif. Sangat bermanfaat bagi peserta, dan bisa dijelaskan secara ilmiyah menurut medis. Oleh karena itu, peminat training-training itu semakin banyak. Khususnya dari kota-kota besar. Surabaya, Bandung, Medan, Malang, Jokjakarta, Semarang. Tempat pelatihanya juga ditempat-tempat elit, seperti; Hotel berbintang, seperti; Hotel Sultan, Sahid, Santika, atau vila mewah.

Hampir semua pelatihan (training) itu mengajak semua peserta yang hadir dalam ruangan itu larut dalam suasana. Biasanya, para trainer itu mampu menciptakan kondisi tertentu, sehingga para peserta tidak kuat menahan tanggis. Semakin banyak yang menangis, bisa dikatakan training itu berhasil. Memang, tangisan itu bisa meredakan stress, sebagimana pejelasan para medis. Logikanya, orang yang bisa nanangis itu, stressnya akan berkurang. Jadi, kalau sedang banyak pekerjaan, masalah, serta ke-gundahan hati di dalam menghadapi persoalan tertentu, maka training sholat khusu’ dan ESQ bisa menjadi rujukan.

Saya sempat mengikuti beberapa teman (trainer). Di dalam proses trainingnya, ketika para peserta di-ajak mengenang dosa-dosa kita terhadap orangtua dan sakitnya menjelang sakaratul maut (kematian). Tiba-tiba suasana pecah, gemuruh dengan tangisan yang saling bersautan. Ketika saya perhatikan kekanan dan kekiri, hampir semuanya ikut larut dalam tangisan. Saya memang tidak bisa menangis, sebab menurut saya tangisan dikondisikan. Mulai suara trainernya, suasana musiknya, serta para peserta yang menangis, sehingga tidak terasa semuanya ikut larut dalam tangisan berjama’ah itu.

Ketika Imam Masjidil Haram berceramah, kebetulan saya hadir pada waktu itu. Waktu itu saya masih menjadi mahasiswa Umm al-Qura University Makkah, (Syeh Ibrahim Suraim) pernah ditanya oleh mahasiswa. Kepada yang mulia Syeh Suraim,:’’ kenapa engkau kadang menanggis saat membaca surat tertentu ketika menjadi Imam Sholat Tarawih? Beliau menjawab:’’Sesungguhnya menangis itu merupakan sesuatu yang alami (nature), saya tidak tahu kenapa tiba-tiba mengangis. Menurut saya, orang menangis itu karena banyak factor, seperti; anaknya tidak lulus ujian, banyak hutang, dll. Ceramah itu membuat saya berfikir dan memperhatikan setiap bacaan al-Qur’an beliau ketika menjadi Imam. Ternyata, setiap ayat yang mengisahkan tengtang pedihnya api Neraka dan kematian. Syeh Syuraim tiba-tiba terhenti, menangis sesenggukan. Bahkan, karena tangisan itu, Syeh Suraim pernah tersungkur.

Masih membincangkan menaggis ketika dalam proses pelatihan berlangsung. Pelatihan sholat khusu’ ternyata bisa membuat para peserta menangis sesenggukan ketika sedang melaksanakan sholat (pelatihan). Saya ingin sedikit menambah informasi seputar sholat khusu’ yang dipandang dari berbagai sudut, seperti; hadis, fikih, serta penggaruh positinya terhadap kehidupan sehari-hari, baik prilaku, tutur, keluarga dan masyarakat.

Hakekat Sholat Khusu’

Di dalam sebuah hadis Qudsi, bahwa orang sholat itu seolah-olah sedang ber-dialog interaktif dengan-Nya. Karena interaksi khusus, maka secara dhohir hendaknya harus bersih lahir dan batin  Nabi Saw pernah menyampaikan:’’

Nabi Saw pernah menuturkan:’’ barang siapa yang telah berwudu dengan sempurna, kemudian pergi menuju masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Swt. Hadis lain, Nabi Saw menjelaskan:’’ ketika sedang membaca ‘’al-Hamdulillahi Rabbi al-Alamian’’ Allah Sw menjawab:’’ hambaku telah memujaku’’. Ketika membaca:’’ Al-Rahman al-Rahiim’’, Allah Swt menjawab:’’ hambaku telah memuji-ku’’. Ketika seseorang melanjutkan:’’ Maliki Yaumi al-Diin’’. Allah Swt menjawab:’’ hamba-ku telah mengagungkan diri-ku’’. Ketika sesorang membaca:’’ Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nastaiin’’, Allah Swt menjawab:’’ ini antara saya dengan hambaku, bagi hambku apa yang diminata? Selanjutnya, ketika seseorang mengucapkan:’’ Ihdina al-Sirotol Mustaqim, Siroto al-Ladzina an-Amna Alaihim, Ghoril Magdzubi Alaihim Waladdzolin’. Maka, Allah Sw menjawab:’’ semuanya bagi hambaku, apa yang akan diminta? (H.R Malik : Al-Muwatto’).

Di dalam hadis lain, apabila seorang imam mengucapakan:’’ Amin’’, lantas para ma’ juga meng-amini-nya. Apabila, Amin mereka juga diikuti oleh para malaikat, Makkah Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan. Oleh karena itu, penting kiranya untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Sebab, di antara jama’ah yang ada, ternyata satu sama lain saling menyempurnakan. Tidak etis kiranya, jika orang tidak mau ikut sholat berjama’ah dengan alasan’’ sang Imam’’ terlalu lama, atau terlalu cepat ketika menjadi Imam, sehingga sholatnya tidak khusu’.

Ketika membicangkan sholat khusu’ ada hal-hal mendasar yang harus diperhatikan. Sholat khusu’ bisa dilakukan dimana saja, baik ketika sedang sholat berjam’ah di masjid atau sedang sholat sendirian di rumah. Untuk memperolah kualitas sholat yang bagus (khusu’), tidak bisa dengan pelatihan dengan membayar Rp 1500.000. Adapun factor-faktor yang mempengarui sholat khusu’ ialah sebagai berikut:

1- Makanan dan Minuman.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari haruslah halal dan baik. Artinya, proses memperoleh rejeki itu harus benar-benar bersih dari cara-cara yang tidak dibenarkan agama, seperti; riba, menipu, korupsi. Nabi Saw pernah mewanti-wanti kepada umatnya jangan sampai terlibat riba. Menurut Nabi Saw :’’dosa paling kecil dari prilaku riba, ibarat seorang anak laki-laki menikahi ibunya sendiri. Korupsi itu sama dengan memakan dan meminum keringkatnya rakyat. Rakyat susah payah bekerja dan membayar pajak, sementara para pejabat duduk dikursi empuk, tidur dikasur bagus, dengan kamar be-AC, setiap tahun bisa pergi haji dan Umrah. Lantas, mereka mengikuti pelatihan sholat khusu’?  Belum lagi, para pelaku ekonomi yang bertransaksi penuh dengan unsur-unsur ribawi, lantas mereka-pun mengikuti pelatihan sholat khusu’. Sulit sekali untuk dikatakan sholat mereka termasuk sholat yang khusu’. Jadi, factor utama di dalam usaha untuk memperoleh derajat tinggi (dua pulu derjat) itu terdapat pada makanan dan minuman yang dikonsumsi sehar-hari.

2-    Kualitas Wudu’.

Wudhu’ (bersuci) menjadi kunci utama sholat. Nabi Saw selalu suci dari hadas, dan selalu memperbarui wudhu setiap mau melaksanakan sholat, walupun beliau masih punya wudhu’.  Dalam sebuah hadis, Nabi Saw menuturkan bahwa suci (wudhu’) itu separuh dari pada iman (HR Muslim). Bahkan, Nabi Saw dalam hadis lainya menegaskan bahwa wudhu itu mampu mengelontor dosa-dosa kecil yang melekat pada manusia. Wudhu’ yang baik bisa menjadi jalan menuju surga, salah ciri dari orang-orang yang rajin ibadah sholat, termasuk orang-orang yang rajin bersuci.

3-   Tepat Waktu.

QS Al-Nisa’ (4:103) Allah Swt menjelaskan:’’ Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu (wajib) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. Allah Swt ingin menjelaskan, bahwa sholat lima waktu itu telah ditentukan waktunya masing-masing. Nabi Saw dalam kehidupan sehari-hari telah memberikan contoh bahwa dirinya tidak pernha meninggalkan sholat berjama’ah, walaupun beliau dalam keadaan sibuk. Nabi Saw juga tidak pernah bangun tidur, sementara matahari hari sudah muncul alias bangsawan (bongo tangi awan).[1] Beliau juga tidak pernah ketinggalan sholatnya, atau menyatukan dua sholat sekaligus (sarib: Asar dengan Magrib), kecuali dalam perjalanan jauh (musafir). Walaupun dalam ke-adaan sakit, beliau tetap menjaga sholat tepat pada waktunya.

4-   Tempat (Masjid) dan Jumlah Jama’ah

Keberadaan tempat (masjid) juga mempengaruhi terhadap kualitas ke-khusukan sholat seseorang. Sholat di Masjid Istiqlal terasa berbeda jika dibanidingkan dengan sholat di Masjid Sunan Ampel. Sholat di Ampel, berbeda dengan sholat di Masjid Qubbah Emas. Sholat di Masjid Indonesia, berbeda dengan sholat di Madjid Nabawi dan Masjidilharam. Walaupun tidak dipungkiri, orang yang sudah mapan kualitas ke-imanan dan ketawaqwaanya, dimanpun tempat sholatnya, mereka mampu khusu. Walaupun mereka berada ditempat dan ramai, tetapi hati mereka tetap nyambung terus dengan sang penciptanya. Apalagi sholat itu dilakukan di tempat-tempat sacral, seperti; Raudah al-Syarif, Hijir Islmail, Maqom Ibrahim, serta tempat mulia lainya. Jumlah jama’ah yang cukup besar juga akan menjadi nilai tersendiri. Yang perlu digaris bawahi disini, dari jumlah jama’ah yang cukup besar, biasanya satu atau dua diantara mereka itu termasuk para kekasih-Nya.

Jadi, pelatihan-pelatihan itu hanyalah sekedar ritual ruhani belaka, yang tidak ada dampaknya terhadap pola hidup sehari-hari. Training itu harus berkali-kali. Sebab, jika hanya dilakukan sekali, kemudian berikutanya tidak memiliki uang untuk mengikuti training selanjutnya. Maka, tidak ada artinya training tersebut. Jadi, tidak ada bedaya antara training dengan jual jasa konsultasi lainnya. Sebab, training-training sekarang sudah menjadi industry. Namanya saja industri, jadi tujuanya bukan memperbaiki moral, tetapi justru pada Profit Oriented. Jika sudah begitu, jangan sekali-kali menggunakan ayat-ayat tuhan, tetapi justru bersembuyi dibalik ayat-ayat itu, padahal hakekat pelatihan itu hanyalah mencari uang dari kalangan ekonomi elit. Lebih baik terang-terangan, bahwa itu merupaka jasa konsultasi training, seperti; Mario Teguh.

Kendati demikian, bukan berate menghentikan training. Alangkah indahnya jika training itu juga diperuntukkan bagi orang-orang menenggah ke-bawah. Dan alangkah indahnya, jika training sholat khusu’ itu juga diajari berwudu’ yang sempurna, makanan yang dikonsumsi juga baik dan halal. Selanjutnya, masing-masing meng-evaluasi, apakah dampak pelatihan itu menjadikan manusia semakin tunduk kepada tuhan? atau tetap masih korupsi dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan?


[1] . Istilah Lelucan bagi orang-orang yang bagun tidurnya selalu kesiangan.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s