Rahasia Keajaiban Haji

Di dalam setiap aktifitas haji serta pernak-perniknya merupakan nilai ibadah di sisi-Nya. Hampir setiap setiap langkah kaki, gerakan tangan serta setiap nafas yang keluar dari jama’ah haji sangat berniali ibadah disisi-Nya. Karena dekatnya jama’ah haji dengan tuhan, ia-pun disebut dengan Wafdullah (Duta Allah). Dan semua do’a dan permohonanya akan bdikabulkan.

Ucapan, tindakan, sikap jama’ah haji sejak niat hingga kembali ke tanah air merupakan perjalan sejarah nan penuh dengan makna kehidupan, serta bernuansa ibadah. Inilah yang membedakan ibadah haji dengan ibadah lainnya. Tidaklah berlebihan kiranya, jika jama’ah haji terlihat lebih sacral dari pada yang lain. Karena statusnya menjadi tamu Allah (doifu- Allah).Orang-pun berebut berziarah, bersalaman, dan minta dido’akan, karena memang tuhan berjanji bahwa do’anya tidak akan ditolak. Apalagi, ketika berada ditempat sacral (suci) Makkah dan Madinah, Arafah, Mina,Muzdalifah.

Ketika kaki melangkah keluar, malaikatpun berkerumun mengiringinya, sebagaimana iringan tetangga dan kerabat yang mengatarnya. Proses keberangkatanya juga sacral. Adzan dan Iqomah menjadi cirri khas setiap orang yang hendak berangkat ke tanah suci. Do’a safar (perjalanan) dan talbiyah tak henti-hentintya menghiasi bibir calon tamu Allah, kadang diiringai dengan tangisan haru oleh kerabat, sahabat dan tetangga sekitarnya.

Detik-detik keberangkatannya, calon jama’ah berwasiat kepada putra-putrinya terkait dengan harta benda yang ditinggalkan, serta masalah ubudiyah (ibadah). Barangkali ini termasuk perjalan suci, yang kadang perjalanan abadai kehariban ilahi. Senadainya masin memiliki hutang, hendaknya berwasiat kepada putra-putrinya, atau kerabat agar supaya segera dibayar dengan harta yang ditinggalkan. Jangan sampai perjalalan suci ini terganggu oleh hutang, atau salah yang dilakukan terhadap tetangga dan kerabat, sehingga menjadi penghalang kesucian perjalanan ini.

Jika masih memiliki kedua orangtua, sayogyanya memohon izin dan ridhonya. Karena ridho-Nya, terletak pada keridhoaan kedua orangtua. Jika kedua orang telah tiada, bersilaturahmi kepada kerabat, seperti paman, bibi, serta sanak family kedua orangtua, sebelum berangkat ketanah suci. Jika ia seorang wanita yang telah menikah, haji itu tidak akan menjadi perjalanan suci, sebelum mengantongi ridho sang suami. Hendaknya meminta ridho sang suami, serta kerabatnya sebagai tanda bukti ketaatan seorang istri kepada pasangan hidupnya.

Masih terkait dengan calon haji (tamu-tamu-Nya). Bekal (ongkos) naik haji, haruslah halal. Jika materi itu karena sebuah pekerjaan, seperti Jasa intelektual (konsultan), tenaga (manol, pijat) atau berjualan (tijarah), mestilah melalui proses yang sah dan tidak bertentangan dengan tuntunan Nabi. Intinya, haji itu ibadah yang suci, ditempat suci, bekalnya harus bersih pula dari barang haram atau subhat (remang-remang) hasil pekerjaan yang tidak baik, seperti Ghosob, korupsi, bisnis gelap.

Memang, secara dhohir, hajinya sah, tetapi esensi hajinya tidak mengena. Nabi pernah menuturkan:’’ Sesungguhnya Allah itu baik, tidak akan menerikan kecuali yang baik’’.[1] Allah SWT juga berfirman:’’ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[2]

Memang haji itu ibadah yang memerlukan jumlah materi yang cukup (kaya). Dan ini juga menjadi motifasi, agar supaya umat islam berlomba-lomba untuk bekerja keras, berdo’a, agar supaya bisa menuaikan ibadah haji. Ketika sudah cukup mampu, walaupun hanya sekedar daftar (menabung), segeralah mendaftar, karena kita tidak tahu kapan manusia akan dipanggil oleh yang berkuasa, atau ada pengahalang lain, yang menyebabkan tidak bisa menunaikan rukun islam yang ke-5. Nabi pernah menuturkan:’’berhajilah sebelum terlambat (sebelum kalian tidak bisa menunaikan haji)’’.[3]

 

 

Masih terkait dengan materi. Nabi Saw pernah menyampaikan bahwa semua ongkos untuk ibadah haji akan diganti dengan berlipatganda. Rasanya kurang etis, jika sudah cukup mampu, tetapi masih merasa bahwa uang yang dipergunakan haji, khawatir semakin berkurang. Di dalab kitab Jamiu al-Shogir, Nabi Saw menyampaikan:’’ setiap satu dirham pahalanya menyamai berjuang dijalan Allah Saw, hingga mencapai tujuhratus’’. Jadi, hampir dipastikan orang yang telah menunaikan ibadah haji, sepulang dari kota suci Makkah, rejekinya semakin melimpah ruah. Dengan catatan, semua ongkos untuk menunaikan haji 100% halal dan ihlas karena Allah Swt.

Di sisi lain, Imam Nawawi menganjurkan kepada setiap calon Haji agar supaya mempersipakan materi (bekal yang cukup), kalau mungkin dilebihi. Agar supaya bisa memberikan sedekah kepada orang-orang miskin yang membutuhkan uluran tangan. Namun, apa yang disampaikan Imam Nawawi itu bukan sebuah keharusan. Akan tetai akan lebih baik, selama di Makkah bisa memberikan sedekah kepada fakir miskin, sebab nilai pahalanya mencapai seratus ribu, sebagaimana ibadah sholat.

Beliau, Imam Nawawi juga mewanti-wanti, ketika haji tidak kekurangan, lebih lebih hutang. Kurang proyogi jika ibadah haji, tetapi masih meminta-minta, atau masih nebeng terhadap orang lain sesama jama’ah.[4] Walaupun realitasnya masih banyak orang menunaikan ibadah haji karena biaya dinas. Di dalam istilah anekdot dikenal dengan sebutan (haji abidin), artinya nebeng di dinas terkiat, padahal cukup mampu untuk membayar sendiri. Bahkan, terdapat sebuah kasih pengelapan (korupsi) dengan jumlah besar oleh oknum pemerintah, dengan alasan untuk biaya umrah.[5]

 


[1] . H.R  Imam al-Baihaki, No : 6621 (Bab al-Huruji min al-Madholimi wa al-Taqorrub).

[2] . Q.S al-Baqarah (1:267)

[3] . H.R Baihaki,  8959 (Bab, Segeralah Menunaikan Ibadah Haji).

[4] . Rowah, Abdul Fattah, 1994. Kitab al-Idhoh fi Manasiki al-Hajj wa al-Umrah. Dar al-Basyair al-Islamiyah-Beirut. Hal 53

[5] . Radar Malang, 11.02.  2009

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Rahasia Keajaiban Haji

  1. Tante Lisa berkata:

    it’s a miracle,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s