Justin Bieber vs Kancil dan Kera

Remaja Indonesia sedang terkena deman Justin Biber. Remaja putri mulai tingkat smp dan sederajat hingga kalangan kampus, bahkan artis-artis Indonesia juga tak henti-hentinya  memuji dan membicangkan sosok Justin Bieber yang ganteng itu. Penyanyi mungil asal Kanada ini benar-benar memukau remaja Indonesia. Seandainya, Justin Bieber mau dinaturalisasi, pasti akan menghasilkan uang cukup banyak. Capek deh alias lebay..…………!

Justin Bieber sebenarnya sosok remaja yang biasa-biasa saja. Tidak ada bedanya dengan Inul Daratista, Norman Kamaru, Keon dan Racun, Udin Seluruh Dunia yang juga terkenal itu. Mereka terkenal dalam waktu yang cukup singkat. Hanya saja, masing-masing memiliki kelebihan. Justin Bieber itu terkenal karena memiliki kelebihan, seperti; wajah ganteng, memukau, dan cerdas di dalam memainkan music. Konser Justin Bieber yang bertajuk ‘’Justin Bieber My Word Tour’’di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu 23 April 2011, membuat histeris penggemarnya yang mayoritas remaja puteri.

Remaja putri sekarang seolah-olah sudah kehilangan sosok Public Figure. Mereka lebih meng-idolakan Harry Potter, Justin Bieber dari pada tokoh agama mereka. Gus Dur pernah menyamapaikan bahwa ini merupakan fenomena sebuah budaya. Tidak mungkin budaya itu dibendung, ibarat banjir bah yang mengalir begitu deras hingga menerjang semua yang dilintasinya. Demam ini akan segera berlalu, sebagaimana demam ulat bula yang melanda sebagian wilayah Indonesia. Tuhan pernah menyamapaikan’’ dunia itu terus bergulir antara manusia’’.

Bayangkan saja, sebanyak 10 ribu penonton menjadi saksi aksi panggung Justin Bieber. Konser ini seperti supporte Aremania dan Aremania ketika sedang bermain di Stadion Kanjuruan. Hanya saja, uang yang dikeluarkan oleh pengemar Justin Bieber lebih besar, karena para penggemarnya berasal dari kalangan remaja putri elit (kaya). Penyelenggara konser ini benar-benar berhasil, dan mendapatkan ke-untugan luar biasa. Deman Remaja Indonesia terhadap Justin Bieber ini mengingatkan  sebuah cerita nenek moyang seputar kisah Kancil dan Kera.

Suatu ketika, sang Nenek cerita:’’ ada seekor Kancil sedang menunggu temannya didekat pohon bambu yang sedang terkena hembusan angin. Ketika bambu itu tergesek dengan bambu yang lain, tiba-tiba mengeluarkan suara indah, seperti suaranya seruling…nyiit…nyiit…nyiit…!Suara ini semakin kencang ketika hembusan angin semakin keras. Sambil menahan rasa kantuk, Kancil menikmati suara itu. Suara itu benar-benar ibarat seruling indahnya nabi Sulaiman.

Secara tiba-tiba ada se-Ekor Kera datang mendekati Kancil sambil bertanya:’’ Kancil, suara apa itu kok indah sekali..? dengan entengnya Kancil menjawab:’’ saya sedang menikmati indahnya seruling Nabi Sulaiman…! tiba-tiba, hembusan angin semakin Kencang, dan suara gesekan bambu itu semakin keras dan indah. Karena Kera terpesona indahnya suara itu, Kera-pun ingin menikmati suara itu. Ahirnya Kera berusaha merayu Kancil agar supaya diperkenankan meminjam suara serulint tersebut.

Kancil-pun tidak keberatan. Dengan kelicikannya, sang Kancil menyampaikan pesan kepada Kera;’’ Wahai kera….!Engkau boleh menikmati serulingnya nabi Sulaiman. Syaratnya:’’nanti ketika ada hembusan angin kencang, lindah kamu ditempelkan pada bambu ini.., sambil menunjukkan pada bambu itu. Dengan seksama sang Kera memperhatikan petunjuk sang Kancil….!

Selanjutnya, Kancil pergi meninggalkan Kera. Ketika hembusan angin kencang, sang Kera menjulurkan dan menempelkan lidahnya ke bambu tersebut, tiba-tiba sang Kera menjerit….aduuuuh…sakit….!lantas terjatuh pngsan.

Cerita ini membuat saya berfikir seputar demam terhadap Justin Bieber. Bagiamana tidak, remaja putri terpesona dengan indahnya suara Justin Bieber, bahkan terpesona juga dengan ke-gantengan remaja Asal Kanada itu. Remaja putri itu rela mengeluarkan ratusan ribu rupiah demi mendengarkan suara Justin Bieber. Bahkan, mereka tidak memperdulikan dirinya, walaupun harus berdesak-desakan dengan yang lain demi menikmati suara dan pesona Justin Bieber. Tidak sedikit Konser-konser music membawa korban nyawa. Manusia sudah tidak perduli lagi, karena sudah gandrung dengan music dan terpesona dengan yang digemarinya.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s