POLIGAMI: Ibadah Berbasis Birahi

Poligami sejak dulu hingga kini selalu menjadi perbincangan setiap lelaki. Tidak satupun dari lelaki jika ditanya masalah menikah lagi, mereka serempak menjawab’’ setuju’’. Kecuali beberapa orang saja yang menolaknya. Namun, walaupun mereka menolak, dalam hatinya dia mengatakan’’ wanita ini cantik sekali’’. Kenapa demikian, karena wanita itu merupakan perhiasan dunia, jadi wajar jika selalu menjadi perbincangan pejantan (lelaki) dimana saja berada.

Perkawinan merupakan kebutuhan primer bagi setiap mahluk hidup yang ber-nyawa. Bagi manusia menikah adalah kenikmatan yang tidak bisa diganti dengan kenikmatan lainnya. Orang boleh kaya raya, baju indah dengan kendaraan serba mewah, tetapi belum sempurna jika tidak memliki ladang yang indah dan nikmat (istri).  Wajar jika al-Qur’an meletakkan wanita pada level paling tinggi di antara keindahan dan kenikmatan lainnya (QS Ali Imran (3:14). Abu Ja’far di dalam tafsir al-Tobari mengatakan:’’ manusia dihiasi cinta (sahwat) terhadap wanita’’.

Manusia, baik lelaki maupun wanita, masing-masing saling membutuhkan, Allah Swt menciptakan manusia berpasang-pasangan (azwaja). Dalam ajaran agama, berpasang-pasangan itu harus melalui sebuah proses ritual ‘’menikah’’. Proses pengembangbiakan antara manusia dan hewan tidak ada bedanya, hanya saja yang membedakan manusia keduanya ialah ’’menikah’’. Jika manusia sudah tidak lagi melakukan proses pernikahan, lantas apa bedanya antara manusia dengan hewan?

Dalam urusan menikah, manusia seringkali tidak puas dengan satu pasangan. Berganti-ganti pasangan, karena ingin mendapatkan kepuasan seksualnya. Selama masih bernyawa, kepuasan seksual tidak akan diperoleh secara sempurna. Terbukti, banyak wanita dan lelaki melakukan poliandri dan poligami. Tujuan dasarnya bukan karena semata-mata menolong, tetapi lebih pada kepuasan seksualnya.

Terkait dengan poliandri, dibeberapa negera, seperti ; India, Tibet, ternyata masih melakukan poliandri sebagai warisin leluhur. Tidak sedikit seorang wanita memiliki 2-3 suami (Majalah Kartini, 27/11/2008). Alasan yang sangat mendasar yang dikemukakan oleh mereka adalah ekonomi. Uniknya, seringkali seorang lelaki kakak ber-adik menikahi satu wanita. Walaupun pemerintah telah melarang karena tidak sesuai dengan ajaran agama, akan tetapi poliandri tetap menjadi sebuah tradisi yang sulit dihapuskan.

Poliandri masih menjadi tradisi diberbagai daerah, tetapi pemerintah dan agama secara tegas melarangnya. Sedangkan, poligami telah bertahun-tahun menjadi tradisi bagi kaum laki-laki. Hingga kini, tradisi ini masih berjalan dengan baik, dan tidak mungkin bisa dihapuskan. Apalagi, agama dan Negara telah membuat aturan secara mendetail, dan kaum wanita-pun sebagian besar juga tidak menolaknya, bahkan banyak yang mendukungnya, karena hal ini merupakan bagian dari ajaran Nabi Saw.

Hanya saja, poligami yang dilakukan Nabi Saw benar-benar mencerminkan ajaran al-Qur’an, bukan karena desakan libido atau birahi. Oleh karena itu, sebagian dari wanita yang dinikahi oleh Nabi merupakan janda. Dan, di antara janda itu, ada seorang wanita renta yang bernama Saudah binti Jam’ah yang sudah tidak menstruasi lagi (monopuse). Tujuan dari pernikahan dengan banyak wanita (poligami), bermacam-macam. Sepert; mengentaskan kemiskinan, pendidikan, politik, dakwah, serta penghapusan budaya jahiliyah (adopsi anak). Sangat jelas tujuan poligami Nabi Saw. Di sisi lain, wanita yang menjadi pilihan Nabi Saw, bukan wanita biasa, tetapi wanita yang memang dipersiapkan oleh Allah Swt untuk Nabi Muhammad  Saw.

Poligami yang diajarkan Nabi Saw benar-benar membawa dampak luar biasa terhadap perkembangan islam dan pendidikan terhadap kaum wanita. QS al-Najm (53:3-4) yang artinya:’’Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Bukan hanya pituturnya, sikap dan prilakunya Nabi Muhammad Saw juga merupakan aplikasi dari kandungan al-Qur’an. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Aiysah ra perihal ahlak Nabi Saw. Aiysah ra menjawab:’’ Ahlak Nabi Saw adalah al-Qur’an’’.

Tidak etis kiran-nya jika nafsunya birahinya membumbung tinggi hingga ke-ubun-ubun, kemudian menikah lagi dengan wanita seksi, setelah ditanya kok menikah lagi? lantas lelaki itu menjawab singkat:’’ saya ingin mendapatkan pahala ibadah sunnah poligami. Yang paling tepat bukan mendapatkan pahala sunnah Nabi Saw, tetapi musibah. Istilah yang lebih tepat bagi pencita wanita karena nafsunya ialah’’ Poligami: Ibadah Berbasis Birahi’’. Jadi orang menikah lagi bukan karena semata-mata menjunjung agama Allah Swt, tetapi karena tidak kuat melihat wanita cantik nan menarik yang menari-nari dalam benak dan hatinya setiap hari.

Dan, selama mampu berbuat adil (memenuhi kebutuhan materi, dan mengatur pembagian malam), tidak masalah. Yang paling menarik ialah, memenuhi kebutuhan fisik dan batin istri pertama saja keteteran, lantas menikah lagi dengan alasan mengikuti sunnah Nabi Saw. Nabi Muhammad mengajarkan agar supaya manusia yang beragama dan berkeyakinan memperbanyak puasa  puasa sunnah dengan tujuan agar supaya birahinya bisa dikendalikan, serta mampu membangun komunikasi dengan Allah Swt dengan sebaik-baiknya, baik dalam kondisi senang atau susah. Wallau a’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s