Bekal Utama Jamaah Haji: Sabar, Sabar, dan Sabar…..!

Seorang jama’ah haji seringkali mendapatkan perlakukan kurang nyaman dari biro perjalanan haji. Seperti; pelayanan ibadah, akomodasi, tranportasi, bahkan hingga urusan kesehatan. Dari sekian pelayanan, transportasi dan akomodasi sering menjadi persoalan serius. Bagaimana tidak, seorang jama’ah sering mendapatkan tempat (pemondokan) yang cukup jauh dari Masjidilharam. Ketika mereka complain terhadap pemerintah (penyelengara haji). Sang penyelengara menjawab dengan enteng:’’ Sabar……..Sabar….Sabar…! Sebab, kita berada ditempat mulia. Tidak pantas marah-marah selama di Makkah, karena bisa mengurangi nilai ibadah haji.


Seorang jama’ah dari Malang yang bernama Kasturi menjawab:’’ Apa nama saya berlu dirubah menjadi’’ sabaruddin’’, biar sabar terus….! Sang istri-pun ikut juga menjawab:’’ kalau begitu,,,nama saya juga saya ganti menjadi Hj, Sabariyah…! Kasturi pantas kesal, sebab biro perjalan haji berjanji akan mendapatkan pelayanan hotel bintang lima. Eeee…yang didapat malah bintang tujuh (alias bikin pusing…!) Jauh, jelek lagi…padahal Kasturi membayarnya 85 juta.

Terlepas dari semua itu….Sabar, sabar, dan sabar…!merupakan bekal utama ketika sedang berada di kota suci Makkah dan Madinah. Itu tiga nasihat yang sering diberikan pembimbing kepada calon jamaah haji sebelum berangkat Tanah Suci. Pada dasarnya, setiap calon jamaah haji harus punya dibekali dengan tausiah-tausiah masalah kesabaran. Sebab, seringkali ketika berada di Makkah dan Madinah mengalami berbagai persoalan yang diluar kemampuannya. Ketika menghadapi persoala itu, calon jama’ah sudah bisa menerima apa adanya.

Kesabaran calon jamaah sudah diuji saat antre menunggu kuota haji. Ada yang harus antre 5 tahun lamanya, bahkan sampai 9 tahun. Jika tidak sabar menanti, mereka akan nekat berbuat kurang santun, yaitu ‘’mensuap’’ agar bisa cepat berangkat haji. Jika begini, maka hajinya disebut dengan ‘’KAJI SUAPI”.

Selanjutnya, ketika latihan manasik juga harus rajin dan datang setiap minggu sekali. Dan, ketika sudah waktunya berangkat, ternyata di asrama haji atau bahkan saat keberangkatan juga harus berjubel dan antri. Kemacetan menuju asrama, pemeriksaan yang bertele-tele, sulitnya bertemu dengan keluarga juga menjadi pejaran berharga di dalam melatih kesabaran diri.

Pemeriksaan dokumen kadang memerlukan waktu berjam-jam hingga melelahkan. Belum persoalan bahasa yang seringkali menjadi kendala antara jama’ah dan petugas haji di Makkah. Makanan di asrama belum tentu sesuai selera, kadang malah membuat perut mual-mual sepertih hamil muda. Belum lagi, kadang barang-barang yang masih diperlukan di asrama sudah telanjur masuk dalam koper besar. Sesampai di Makkah, kadang barang-barangnya ketinggalan, sehingga harus menerima apa adanya.

Ketika sedang thowaf, sai, melontar jumrh, harus berjubel dengan jama’ah lain yang kadang baunya tidak sedap. Tapi apa boleh buat, semua harus diterima apa adanya. Lantas, jika tidak menerima kondisi seperti ini, apa mau marah…..?Hanya satu kata’’ Sabar…….sabar……sabar…! Hanya saja, jangan sampai kesabaran jama’ah itu dipergunakan oleh KBIH dan Biro Perjalanan haji untuk memperdaya mereka? Jika demikian, sungguh ini merupakan bentuk ke-dholiman nyata dan penodaan terhadap tanah suci Makkah.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s