ISRA’ MI’RAJ : Perajalanan Berbasis Sains-tek dan Produktifitas Usi

Isra’ Mi’raj merupakan perjalan Nabi Saw dari Masjidilharam menuju Masjidil Aqso dalam waktu yang begitu cepat dan singkat. Hanya dalam waktu semalam, beliau Saw mampu melakukan perjalanan darat. Setelah melaksanakan sholat berjamaah di Masjidil Aqsa, Nabi Saw melanjtkan perjalanan ke-luar angkasa (kelangit ke-7) menuju sidrotul muntaha (terminal ahir).

Perjalanan itu bukanlah sebuah mimpi. Tetapi perjalanan nyata, sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an surat al-Isra’ (17:1) yang artinya:’’ Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Menurut kajian pakar linguistic (kebahasaan), makna ‘’abdihi’’ artinya ‘’ hambanya (Muhammad)’’. Para ulama bahasa sepakat bahwa yang dinamakan ‘’abdihi’’ meliputi fisik dan ruhani. Sedangkan ‘’ subhana’’ artinya ‘’mahas suci’’, hanya dipergunakan untuk sesuatu yang yang mempesona. Seperti menyaksikan sebuah kejadian yang tidak bisa dinalar oleh akal, maka ‘’subhanaAllah’’-lah yang tepat untuk dipakai. Dan, Allah Swt mengawali QS al-Isra’ (17:1) seputar kejadian itu dengan suhhanaAllah.

Di dalam dunia modern yang serba canggih ini, isarat peristiwa mu’jizat perjalanan Nabi Saw itu mengisaratkan bahwa Nabi Saw mampu melakukan perjalanan yang panjang dalam waktu yang cukup singkat. Berarti, manusia bisa melaksanakan perjalanan darat, melalui kemampuan dan kecanggihan tehnologi. Jarak Makkah, Madinah, Masjidil Aqsa ternyata bisa ditempuh dengan perjalan darat yang begitu cepat. Ini jika menggunakan kendaraan kereta api yang tercepat yang diprosuksi Jepang dan China bukan suat hal yang mustail.

Selanjutnya, Nabi Saw menggunakan perjalanan ke-langit 7 (Sidaratul Muntaha) juga begitu cepat yang dibimbing oleh Jibril as. Ini juga meng-isaratkan kepada para ilmuan, bahwa manusia itu melakukan perjalanan cepat menuju luar angkasa dengan menggunakan kendaraan cepat, sebagaimana banyak dilakukan saat ini. Seperti; ke bulan, dan plante lainya. Bagi orang terdahulu (primitive), perjalanan itu sangat mustahil terjadi, karena orang-orang Arab waktu hanya mengenal kuda, dan onta sebagai kendaraan.

Bagi dunia tehnologi modern, tidak heran jika semalam bisa melakukan perjalanan yang super cepat, karena sekarang telah ditemukan kendaraan darat yang cepat, begitu juga kendaraan luar angkasa. Namun, kemampuan manusia masih sebatas memasuki bulan dan beberapa planet lainnya. Sedangkan, Nabi Saw sudah mampu memasuki kawasan tertinggi yang disebut oleh Allah Swt dengan ‘’Sidrotul Muntaha’’. Sebuah terminal ahir yang bisa dilakukan oleh Nabi Saw atas ijin Allah Swt.

 

Produtifitas Usia Nabi Saw.

QS al-Isra’ (17:1) menceritakan bahwa perjalan itu dilakukan ‘’lailan’’ yang artinya semalam penuh. Ini mengisaratkan, bahwa perjalanan yang begitu singkat, cepat, tetapi berkualitas. Ini semua juga isarat penting, bahwa manusia itu harus benar-benar bisa memanaj waktu dengan sebaik-baiknya. Hanya semalam, Nabi Saw mampu memperoleh hasil yang maksimal, kemudian hasil tersebut diceritakan kepada sahabat-sahabatnya.

Perjalanan Nabi Saw benar-benar berkualitas. Ibarat manusia, usianya tida panjang, tetapi mampu menghasilkan ratusan karya, seperti; Imam Nawawi, Ibu Taimiyah, Imam al-Syafii. Mereka benar-benar menggunakan waktunya agar bisa bermanfaat untuk orang banyak lewat karya-karya ilmiyahnya. Wajar jika Nabi Saw pernah menyampaikan;’’ sebaik-baik manusia ialah, panjang usianya dan baik amal perbuatanya. Jangan sampai usianya panjang, tetapi tidak memberikan manfaat apa-apa, inilah yang disebut dengan’’ wujuduhu kaadamihi’’ yang artinya keberadaanya sama dengan tidak ada.

Sebagai seorang dosen, hendaknya banyak menulis buku, penelitian, serta karya lainya. Jangan sampai menjadi dosen, tetapi tidak pernah berkarya. Dokter juga demikian, jangan sampai menjadi dokter sekali, tetapi tidak bisa memberikan sesuatu, kecuali hanya barter dengan pasien. Para pedagang juga demikian, berusalah dengan maksimal, agar yang dihasilkan banyak sehingga bisa memberikan hasil itu kepada orang lain. Ibarat perjanalanan Nabi Saw, hanya semalam ratusan peristiwa disaksikan, dan mampu disampaikan dengan baik dan sempurna.

 

Gambaran Masa Depan Umat Muhammad Saw

Perjalanan Rosulullah yang ditemani Malaikat Jibril as sangat menarik dan unik, karena Allah Swt secara langsung memberikan isarah, ibroh terhadap masa depan umat Muhammad.  Dalam perjalanan tersebut ada beberapa kisah-kisah aneh dan meyeramkan, ada pula yang mengesankan. Di bawah ini cerita-cerita singkat yang ditemuai Nabi Saw, serta penjelasan Malaikat Jibril AS:

Suatu ketika Rosulullah Saw berjalan dan mendapatkan sekelompok kaum menanam tanaman dan memanen pada waktu itu juga, ketika mereka memanen maka kembalilah tanaman itu seperti semula, maka Rosulullah bertanya kepada Jibril tentang perihal tersebut: Apa ini?, jibril menjawab “mereka adalah para mujahidin yang berjuang membela agama Allah Swt, kebaikan mereka dilipat gandakan sampai tujuh ratus kebaikan, karena sesunggunya dzat pemberi risky. Ini merupakan gambaran masa depan umat Nabi yang selalu memperjuangkan agama dan membela dari musuh-musuh Allah baik secara langsung atau tidak langsung, mereka akan memanen apa yang telah dikerjakan di dunia.

Yang kedua yaitu terdapat sekelompok kaum yang sedang memukuli kepala mereka dengan benda keras sampai terluka parah, ketika kepalanya pecah. Allah Swt mengembalikan kepala tersebut seperti semula. Melihat peristiwa yang sangat mengerikan ini, lantas Rosulullah bertanya:” Ya Jibril, apa ini? Jibril menjawab” mereka adalah kaum yang berat dan malas menunaikan sholat lima waktu. Ini juga pelajaran berharga bagi kaum beriman agar senantiasa memenui perintah Allah dengan sholat lima waktu.

Lalu Rosulullah Saw mendapati sekelompok kaum yang seperti binatang pemakan rumput sedang memakan Dori’ dan Zakkum (keduanya tanaman yang tumbuh dineraka, pohon dan daunya serta ranting dahanya penuh dengan duri, dan menyala), dan batu neraka jahannam sebagai bahan bakarnya. Nabi Saw bertanya:”Siapa mereka wahai jibril …? Jibril menjawab,” Mereka adalah kaum yang tidak mau mengeluarkan zakat hartanya. Ini gambaran bagi umat yang enggan mengelurakan zakat, harta yang mereka kumpulkan akan menjadi tumbuhan nerakan dan menjadi santapan. Sesungguhnya Allah tidak akan pernah berbuat dholim terhadap hambanya, tetapi merekalah yang berbuat dholim atas dirinya sendiri.

Rosulullah juga melihat sekelompok kaum yang ditanggan kananya daging telah dimasak dan lezat dengan aroma yang mengoda. Sementara tangan kirinya memegang daging yang mentah yang busuk  dengan aroma menyesakkan dada. Namun mereka tidak memilih daging yang lezat nan nikmat itu, tapi justru memakan daging mentah yang busuk dan berbau….!! Maka Nabi bertanya: “Siapa mereka ya jibril?” Jibril menjawab “Mereka adalah sebagian dari umatmu nanti yang mempuyai istri yang halal dan baik namun mereka lebih senang mendatangi wanita-wanita lacur dan menginap bersamanya sampai pagi. Dan begitu jga wanita yang di sisinya suami yang baik dan halal tapi mereka (kaum wanita) lebih suka mencari hidung belang untuk memanjakan nafsunya sampai pagi, Naudu billah….!!! Ini juga gambaran dari umat Muhammad yang senang melakukan larangan-larangan Allah. Padahal Allah sudah mempersiapkan bagi mereka pasangan-pasangan bagi mereka dengan cara yang baik dan halal.

Kemudian ada sekelompok kaum yang memotong lidah dan bibirnya dengan pemotong besi. Ketika telah terputus maka lidah dan bibir mereka kembali semula, mereka tidak merasa tenang dengan apa yang dilakukan. Apa ini hai jibril….!?Tanya rosulullah! Jibril menjawab: “Mereka adalah para da’i-dai penyebar fitnah (provokator). Gambaran tentang para da’i juga telah diperlihatkan pada peristiwa Isra’ Mi’raj, bibir dan lidah mereka potong sendiri karena apa yang mereka sampaikan di dunia bukan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat tapi dipergunakan untuk memecah belah umat, serta menebarkan fitnah, serta untuk urusan duniawi saja.

Kemudian Rosulullah Saw melihat sekelompok kaum yang perutnya membesar bagikan gunung mereka tidak bisa bangkit karena keberatan. Nabi Saw terheran-heran dengan kondisi mereka. Lalu beliau Saw bertanya kepada Jibril as:’siapkah mereka? Jibril menjawab:’’Mereka adalah pemakan Riba. Oleh karena itu, Nabi Saw dalam pesan singkatnya mengatakan:’’ sekecil-kecil dosa pemakan riba, ibarat seorang anak lelaki menikahi ibu kandungnya sendiri’’. Bagaimana dengan koruptor, penipu, serta para pemakan hak rakyat jelata, padahal mereka tergolong mampu dan kaya.

Masih banyak lagi kisah aneh yang disaksiakan sendiri selama dalam perjalanan bersama Malaikat Jibril as. Apa yang diperlihatkan merupakan pelajaran bagi manusia (Umat Muhammadiyah) agar jangan sampai seperti mereka. Kami hanya memilih beberapa kisah tersebut untuk direnungi bersama dan menjadi ibarah bagi kita agar kita selamat dunia akhirat. Begitu hebatnya, kisah-kisah itu bisa benar-benar mampu disimpan dengan baik, dan disampaikan kepada sahabat-sahabatnya.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke ISRA’ MI’RAJ : Perajalanan Berbasis Sains-tek dan Produktifitas Usi

  1. junaidi berkata:

    its Fantastis! my Beloved Propeth.Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s