Ketika Memasuki Bulan Rajab, Nabi Saw selalu berdoa yang artinya:’’ Ya Allah…!berkahilah bagi kami pada bulan Rajab ini, dan Sya’ban, dan semoga engkau perkenankan kepada kami bisa menyambung pada bulan Ramadhan (al-Hadis).  Hadis ini seolah-seolah sebuah permohonan kepada Allah Swt, agar supaya dipanjangkan usia, agar bisa maksimal beribadah pada bulan Rajab (Sahrullah), Sya’ban (Sahri) dan Ramadhan (Sahru Ummati). Ibnu Rajab al-Hambali juga mensiyalir bahwa sebaik-baik orang adalah panjang usianya, dan baik amal perbuatanya. Sebaliknya, sejelek-jelek manusia ialah, panjang usianya tidak ada manfaatnya (negative) amal perbuatannya.

            Saat ini, kita masih diberikan kesempatan oleh Allah Swt bisa sampai pada bulan Sya’ban. Alangkah indahnya, jika bisa memaksimalkan usia (kesempatan) itu untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Sebab, bulan ini merupakan bulan ‘’Sahri’’ yang arti bulanku (menurut Nabi Saw). Tentunya kebaaikan, dan berkah di dalamnya sangat besar dan luar biasa. Bulan Sya’ban merupakan bulan dan musim yang penuh rahmat. Sya’ban  disebut juga  dengan Lailatul Mubarokah, sebagaimna keterangan Syeh Abdul Qodir al-Jaelani.[1]  Hal ini disebabkan karena banyaknya kebaikan di dalamnya. Pada bulan ini  sangat dianjurkan meningkatkan ketaatan serta beragam amal ibadah lainnya.

Bulan ini merupakan bulan keberhasilan (panen)  bagi para pedagang yang mengharapkan  keuntungan akhirat. Barang siapa yang mempergunakan bulan Sya’ban dengan sebaik-baiknya maka termasuk orang yang sangat beruntung. Di antara anjuran Nabi Saw, ialah puasa Sunnah. Puasa tidak hanya bermanfaaat bagi fisik, tetapi juga mempertajam intuisi. Lebih dari itu, puasa Sunnah itu benar-benar mencerminkan akan cintanya kepada Nabi Saw, sang junjungan sejati, sekaligus manusia yang akan memberikan syafaat (pertolongan) kelak.

Salah satu kejadian fenomenal pada bulan ini ialah perpindahan kiblat. Sebelum Ka’bah menjadi kiblat sholat, Masjidil Aqso (al-Quds) di Palestina telah lama menjadi kiblat kaum muslimin pada masa Rosulullah Saw dan para sahabatnya, selama kurang lebih tujuh belas bulan lebih tiga hari. Imam Abu Hatim al-Bisti r.a. menerangkan, setelah sekian lama Rosulullah Saw. tinggal di Madinah, maka turunlah wahyu yang memerintahkan Nabi Saw untuk merubah kiblatnya.  Diterangkan dalam surat QS. al-Baqarah, (2:144)

Artinya “Sungguh kami sering melihat muka-mu menengadah kelangit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkalah mukamu kearahnya. Dan sesunguhnya orang-orang (Yahudi, Nasrani) yang diberi al- Kitab (taurat dan Injil) mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram benar dari tuhanya: dan Allah sekali-kali tidak lenggah dari apa yang mereka kerjakan.”[2]

Ayat ini menegasakan tentang perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Adapun waktu perubahan itu ketika Rosulullah Saw sedang gelisah menunggu wahyu dari Allah Swt. Nabi Saw. sering menegadahkan wajahnya ke-langgit. Hingga pada suatu hari, ketika Nabi Saw dan para sahabat sedang menunaikan sholat berjama’ah dhuhur. Maka turunlah ayat ini, sehingga dengan seketika itu, Rosulullah Saw merubah kiblatnya ke Makkah al-Mukarramah (Masjidil Haram).

Adapun tempat (turunnya wahyu ketika sholat berjama’ah dhuhur dinamakan Masjid Qiblatain (masjid dua kiblat), terjadinya perubahan kiblat itu tepat pada hari selasa Nisfi Sya’ban (separuh bulan sya’ban). Sungguh, ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa. Tempat turunnya ayat itu, sekarang bisa dikunjungi, karena pemerintah Arab Saudi mengabadikannya dengan sebuah bangunan masjid. Siapa-pun yang berziarah ke Madinah, bisa melakukan sholat di dalamnya.

Terkait dengan kelebihan malam nisfu sya’ban. Nabi Saw pernah menyampaikan:’’ lima malam yang tidak mungkin sebuah do’a ditolak, awal malan bulan Rajab, malam nisfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha (HR.Suyuti). Akan sangat beruntung bagi setiap umat Muhammad Saw, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menyambut malam ‘’Nisfu Sya’ban’ serta malam-malam yang lain. Wallau a’lam

 


[1] . Al-Jaelani, Abdul Qodir. Al-Guniyyah Li Tolibi Toriqi al-Haq -( Darul Fikr-Beirut) hlm 1/89

[2] . QS. al-Baqarah (2: 144)

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s