Ketika Jumlah Rakaat Tarawih Menjadi Identitas Politik

Indonesia memang benar-benar Negara demokrasi terbesar di dunia ini. Perbedaan pendapat sudah menjadi fenomena sehari-hari. Namannya demontrasi sudah menjadi bagian yang tak terhindarkan. Karena santernya kran demokrasi dan politik, sampai urusan menentukan awal dan hari raya-pun sering menjadi perdebatan dan identitas politik tertentu. Ini sangat wajar, karena masyarakat Indonesia sangat majemuk dengan beragam keyakinan dan aliran. Namun semua itu dibalut dalam bingkai ‘’Bhinika Tunggal Ika’’. Namun, akan sangat riskan jika sholat tarawih menjadi identitas politik dan kelompok tertentu.

Terlepas dari perbedaan jumlah rakaat dalam melaksanakan sholat tarawih, masyarakat Indonesia semakin dewasa menyikapinya. Namun, akan sangat riskan jika perbedaan itu menjadi masalah serius dalam beragama di Indonesia. Jika masih berkutat dengan masalah jumlah rakaat, sudah ketinggalan jaman, apalagi dijadikan identitas politik dan kelompok.  Sudah banyak hasil penelitian ilmiyah yang menjelaskan, bahwa sholat yang baik sama dengan olahraga ringan, sehinga semua gerakan, mulai tangan, kaki, akan memberikan dampak posiif terhadap kesehatan fisik, dan juga ruhani.

Sesungguhnya, jumlah rakaat dalam sholat tarawih memang berbeda. Sebagian besar umat islam Indonesia melakukan sholat tarawih dengan jumlah 20 rakaat ditambah dengan 3 rakaat witir, sehingga menjadi 23 rakaat. Di Arab Saudi, tepatnya di Masjidilharam dan Masjid Nabawi jumlah rakaat tarawih juga 20 rakaat, ditambah 3 witir, sehingga menjadi 23 rakaat, persis dengan sebagian besar umat islam di Indonesia. Sebagian lagi dari umat Islam Indonesia melaksanakan sholat tarawih hanya dengan 8 rakaat dan 3 witir. Anehnya, ketika sedang melaksanakan umrah dibulan puasa, yang biasa melaksanakan 8 rakaat tidak puas dengan delapan rakaat. 20 rakaat lebih nikmat selama di Makkah dan madinah, karena kondisi masjid, dan jumlah jamaah yang 20 rakaat ternyata lebih banyak dari pada 8 rakaat.

Memasuki malam-malam terahir bulan suci Ramadhan, dimana sepuluh terahir itu diyakini menjadi salah satu dari hari istimewa ‘’Lailatul Qodar’’. Ternyata, takmir Masjidilharam mengenjot jumlah rakaat. Tarawihnya tetap 20 rakaat, ditambah 10 rakaat qiyam ramadhan pada pukul 01.00 dini hari. Selanjutnya dilanjutkan dengan 3 rakaat witir. Nyaris sholat sunnah yang dilakukan menjadi 33 rakaat. Seorang ulama’ besar yang bernama Imam Malik penulis kitab al-Muwatto’ ternyata lebih suka melakukan tarawih dengan jumlah 30 rakaat dan 3 witir.

Jadi, sangat disayangkan jika ada suara sumbang yang meledek bahwa tarawih yang 20 rakaat itu tidak sesuai dengan ajaran Nabi Saw, bahkan dikatakan bid’ah (betolak belakang dengan ajaran Nabi Saw). Padahal, beliau Saw secara tegas mengatakan:’’ barang siapa yang melaksanakan (Qiyam) dibulan Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata karena mengharap ridho-Nya, maka akan mendapatkan jaminan pengampunannnya.  Jika merujuk pada hadis ini, jumlah delapan terasa kurang, karena memang tidak membatasi jumlah rakaatnya. Kecuali sholat witir, yang tidak boleh lebih dari 11 rakaat.

Berapapun rakaatnya, jika semata-mata karena atas dasar iman kepada-Nya, dan semata-mata karena mengharap ridho-Nya, maka sholat yang demikian ini yang dibenarkan. Tetapi, jika sholat dengan jumlah rakaat tertentu, karena mempertahankan identitas organisasi atau kelompok tertentu, dengan mengatasnakan Nabi, maka ini kurang tepat. Pendeknya, delapan rakaat ataupun yang 20 rakaat harus dipastikan bahw sholat itu semata-mata karena ingin membuktikan kalau dirinya benar-benar mencitai sunnah Nabi Muhammad Saw serta atas dasar ke-imanan.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Bulan Suci Ramdhan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s