Haji: Lansia Tak Perlu Antri Lagi

Pemerintah telah menaikan dana awal setoran haji dari 20 juta ke 25 juta pada tahun 2010. Dengan tujuan agar supaya bisa mengerem laju pendaftaran baru jamaah haji yang tak terbendung lagi. Kebijakan pemerintah menaikan uang muka haji dari 20 juta menjadi 25 juta, ternyata bukan solusi yang baik. Sebab, di sisi lain, pemerintah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada BANK Swasta dan pemerintah untuk menerima pendaftaran haji dengan cara memberikan dana talangan. Ironisnya, dana talangan yang diberikan bank terhadap calon jamaah haji sangat kecil, berkisar 2-3 juta. Alhasil, jumlah pendaftar tidak terbendung lagi, sehingga antrean haji bisa sampai pada tahun 2020.
Jadi, tujuan Depag dengan menaikan dana awal setoran haji, tidak ada efektif sama sekali. Seolah-olah, dalam hal ini pemerintah telah menerapkan standar ganda. Ujung-ujungnya, masyarakat menjadi korban. Bank salah satu fihak yang beruntung. Jika menggunakan logika dagang, dimana setiap orang menaruh uangnya di Bank 25 juta, sementara dia harus menunggu 10 tahun. Seandainya uang itu dipergunakan untuk bisnis, maka keuntungannya bisa untuk membayar haji plus. Dalam hal ini, uang calon jamaah haji selama 10 tahun harus ngendon tanpa hasil apa-apa, serta tanpa ada kejelasan uang itu dipergunakan untuk apa saja. Mestinya, pemerintah juga memberikan batasan terhadap bank-bank, sehingga antrean haji tidak memanjang seperti sekarang. Selanjutnya, pemerintah juga meminta tambahan kuota haji, sehingga sedikit demi sedikit antrean yang panjang bisa ketarik ke atas.
Tahun 2012 merupakan kabar gembira bagi calon jamaah haji yang usianya sudah lanjut. Calon jamaah haji yang usianya 70 tahun, diprioritaskan untuk berangkat duluan. Tanpa harus antre terdahulu. Jika sudah memiliki bekal yang cukup, calon jamaah haji tinggal daftar di bank terdekat. Selanjutnya, tahun 2012 bisa segera berangkat. Terobosan ini sedikit melegakan kaum lansia, karena sebagian besar masyarakat Indonesia, baru pada usia 70 tahun diberikan kemampuan financial untuk menunaikan ibadah haji. Jika harus antre 7-10 tahun, ini sangat mustahil, apalagi daerah Jatim yang antreanya sudah memasuki tahun 2021. Terobosan ini sangat bagus dan cukup menghibur calon jamaah haji yang sudah lansia.
Namun, jangan sampai kebijakan ini menjadi ternoda. Sebab, tidak menutup kemungkinan, calon jamaah haji dengan system KTP yang berlum sempurna. Karena pingin menuniakan haji, maka membuat data usia palsu. Bisa saja, seorang yang usianya masih 60, kemudian membuat identitas dengan usia 70 tahun. Atau, membuat KTP dimana-mana, sehingga bisa berangkat kapan saja. Ini akan sangat tidak terhormat, kerena ke Makkah memenuhi panggilan Allah, ternyata harus menodahinya dengan cara yang tidak pantas oleh seorang tamu-Nya.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah, Seputar Haji. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s