Muhammad al-Qur’an Beryawa

Ketika dia datang, dunia seketika terang benerang. Cahayanya bagaikan bulan purnama yang yang bersinar terang, ditenggah kegelapan malam. Ibarat permata di bebatuan, yang tetap besinar sepanjang. Ide-ide dan gagasan yang ditawarkan begitu cemerlang, mencerminkan manusia sempurna yang tanpa cela. Kehalusan pituturnya membuat setiap orang terkesan dan terkesima dibuatnya. Tidak satupun kalimat yang keluar dari lisannya, kecuali penuh dengan makna dan menyejukkan hati. Dan, setiap orang yang menatapnya, merasakan ketentraman jiwa. Orang sakit, seketika sembuh tatkala mendengar suara lembutnya. Orang yang lumpuh, seketika sembuh ketika mendapatkan motivasinya dan sentuhan tanganya. Tidak satupun mahluk yang bernyawa, kecuali selalu mengucapkan salam atas kehadiranya. Dialah al-Qur’an yang bernyawa yang berjalan di sepanjang jaman, menyusuri belahan dunia, hingga sampai di bumi Indonesia. Aiysah mengungkapkan, bahwa kepribadianya adalah al-Qur’an.

Nabi selalu membasahi bibir merahnya dengan dzikir, tahmid, tahlil, sitigfar, setiap saat. Hampir setiap nafas yang berhembus, merupakan dzikir, tidak pernah lisan Nabi kering dari alunan dzikir kepada Allah Swt. Sampai-sampai, saat Nabi Saw, sedang dipangku di atas kedua paha istrinya, beliau senantiasa mengalunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Interaksi Nabi dengan tuhannya tidak pernah terputus selama dua puluh empat jam. Memang, Nabi tertidur tetapi hatinya terjaga, sehingga komunikasi dengan tuhan tidak prnah berhenti. Lisan Nabi dibasahi dengan tasbih, sementara hatinya juga hidup dengan dzikir, dan semua naggota tubuhnya selalu bergerak atas nama tuhan yang maha Esa. Dialah, al-Qur’an yang bernyawa merambah dan menghidupan bumi nusantara di bulan mulia ini.

Kenapa lisan Nabi mesti selalu dzikrullah (mengingat Allah), padahal beliau telah diampuni dari segala dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Sebagai al-Qur’an yang bernyawa, ingin menjadi panutan sepanjang masa bagi para pengikutnya. Agar supaya tidak lupa, bahwa semuanya itu merupakan anuherah-Nya kepada manusia, yang tidak mungkin mampu dihitungnya. Semakin banyak karunia tuhan yang diterima, bukannya semakin jauh dari-Nya, melainkan semakin rajin menyebut nama-Nya (dzikrullah). Nabi Saw termasuk orang-orang yang tahu diri, oleh karena itu beliau semakin rajin beribadah sebagai bukti rasa syukurnya kepada Allah Swt..

Beliau mengetahui betapa berharga waktu dan kesempatan yang diberikan. Sampai-sampai beliau pernah mengingatkan kepada pengikutnya, dengan mengatakan:’’ dua kenikmatan yang sering terlupakan, kesempatan dan sehat. Oleh karena itu, beliau Saw pergunakan sebaik-baiknya dengan selalu mengisi waktu dalam ketaatan dan ibadah. Karena waktu sekarang akan menjadi kenangan esok hari, jika tidak digunakan maka hidup manusia akan sia-sia tiada guna. Banyak sudah manusia yang menyesal, karena tidak bisa mengunakan waktu sebaik-baiknya, tiba-tiba usianya sudah senja.

Jumlah dzikir tidak pernah dibatasi, menurut al-Qur’an yang bernyawa, berdzikir itu semakin banyak semakin baik. Tuhan tidak pernah menentukan jumlah, dan bentuknya, tetapi Nabi Saw memberikan juklak dzikir kepada kita semua agar supaya bisa dilaksanakan dengan istikomah dan khusu’. Nabi Saw tidak mempersoalkan dzikir berjama’ah seperti masjis dzikir (istighosah), atau pribadi selama tidak menodai syariat islam. Ibnu Abbas ra mengungkapkan:”Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah Saw dalam satu majlis sebanyak seratus kali: ”Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun.” (HR. Abu Daud).

Sahabat penghafal hadis terbanyak, Abu Hurairah r.a menuturkan: ”Saya pernah mendengar Rasulullah  Saw bersabda: ”Demi Allah, sesungguhya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah Swt lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” Alangkah tidak etisnya, jika manusia hanya menyebut tuhanya hanya lima waktu, sementara Nabi Saw, tidak pernah putus interaksi denga-Nya, sepanjang hidupnya. Dialah, al-Qur’an yang bernyawa, semakin hari semakin membumi di bulan mulia ini.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Bulan Suci Ramdhan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s