Tradisi Muslim Indonesia Menyiapkan Hari Raya

Ketika awal ramadhan, hampir semua masjid dipenuhi jamaah sholat tarawih. Seolah-olah, momen sholat sunnah tahunan, bagi yang jarang atau tidak pernah sholat. Itung-itung, menghormati bulan suci. Tua dan muda, lelaki dan wanita, bahkan anak-anak ikutan antre untuk bisa melaksanakan sholat sunnah tahunan ini. Fenomena ini sudah menjadi pemandangan umum di negeri Indonesia ini. Bukan hanya sholat tarawih, setiap sholat subuh-pun, masjid juga penuh dengan jamaah, untuk mengikuti kuliah subuh yang disampaikan oleh ustad-ustad pilihan.

Hari demi hari terus berlalu, setiap hari jumlah jamaah berkurang, dan terus berkurang. Satu-persatu, jamaah mundur teratur. Hingga memasuki hari ke-20, jumlah jamaah semakin sedikit. Ada kemajuan yang sangat signifikan barisan (shof) jamaah di masjid kami. Anak-anak santri bilang:’’syetan sudah bisa memprediksi kekuatan jamaah, paling-paling, kekuatan jamaah itu tidak kurang dari 20 hari’’. Syetan yang dibelenggu, memang tidak bisa menganggu mereka (jamaah), tetapi dugaan syetan sangat tepat. Sebab, memasuki hari ke-21,  terbukti bahwa jumlah jamaah sholat tarawih benar-benar sangat berkurang drastis, kecuali mereka-mereka yang benar-benar memiliki niat serta tekad bulat menghidupkan malam Ramadhan.

Setelah dipikir-pikir, kemana saja jamaah itu ya? Ternyata, mal-mal besar, seperti; Matahari, Sarinah, Giant, Carefore, dipenuhi oleh ibu-ibu, hingga berdesak-desakan, untuk membeli, baju, celana, keperluan rumah tangga, dan lain sebagainya. Rupaya, jamaah sholat tarawih pindah ke tempat belanja. Kesempatan 10 terahir yang konon menjadi malam istimewa itu ternyata tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Padahal, Nabi Saw pernah berpesan:’’ barang siapa yang melaksanakan sholat di malam lailatul qodar, atas dasar iman dan semata-mata mengharap rahamat-Nya, maka dia akan mendapatkan pengampunan dari dosa-dosa yang pernah dilakukan selama ini’’.

Berbeda lagi di Makkah dan Madinah. Justru pada malam sepuluh terahir, semua orang mengumpul di dua kota suci itu. Dengan harapan, memperolah berkah dari malam Lailatul Qodar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Mereka yakin seyakin-yakinya, bahwa Allah Swt benar-benar menurunkan kebaikan secara totalitas pada malam sepuluh terahir. Wajar, jika Nabi Saw pernah menyampaikan bahwa orang yang mendapatkan bulan suci Ramadhan tetapi, tidak mendapatkan pengampunan dari-Nya, atas dosa-dosa.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Bulan Suci Ramdhan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s