Calon Jamaah Haji Bukanlah Gayus atau Nazarudin….!

Persyaratan utama di dalam pelaksanaan haji adalah ‘’mampu’’ . Di dalam bahasa fikihnya di kenal dengan istilah ‘’istitoah’’ yang meliputi kemampuan fisik, financial, dan transportasi. Walapun sehat fisiknya, tetapi tidak punya bekal, tidak wajib menunaikan ibadah haji. Sebaliknya, banyak uangnya, tetapi kondisi tranportasi dan fisiknya sakit, juga tidak wajib menuanikan ibadah haji. Namun, apa jadinya jika jamaah haji itu tidak bisa berangkat karena belum memiliki paspor…? Kalau ini sepertinya tidak mungkin terjadi di negeri ini. Sebab paspor merupakan persyaratan utama untuk melakukan perjalanan keluar negeri, sebagai identitas warga Indonesia yang sekaligus Jamaah haji.

Yang menjadi persoalan utama ialah, seringkali calon jamaah haji atau umrah dipersulit ketika akan mengurusi paspor  karena alasan datanya tidak lengkap. Tetanggaku misalnya, sangat kesulitan untuk mendapatkan paspor, karena tidak memiliki akte kelahiran. Ahirnya, tetanggaku yang usianya sudah lansia ngedumel:’’ saya kan bukan gayus….!tidak mungkin saya melakukan pelanggaran dengan memalsu data….!Ahirnya, dengan terpaksa ngurusi akte kelahiran. Setelah mendapatkan akte kelahiran. Tetanggaku itu berangkat ke imigrasi, sampai di sana masi dotolak, karena nama kakeknya belum masuk.  Petugas imigrasi lantas menyarankan kepada calon jamaah haji dan umrah itu dengan mengatakan:’’ pak…!karena bapak mau umrah, maka mintalah surat keterangan dari desa untuk penambahan nama kakek, dengan contoh (Eko Budi Prakoso).

Kakek yang lugu itu berangkatlah menuju kelurahan dengan membawa data-data yang ia miliki. Sesampai di kelurahan, surat pengantar penambahan nama yang telah ditandai oleh ketua RT dan RW di ajukan kepada staf kelurahan. Ternyata, sang petugas kelurahan bilang:’’ pak…!mana data yang menunjukkan nama kakek sampeyan…! Sang kakek menjawab:’’ kakekku sudah tiada…!bagaimana saya dapatkan data itu….! dengan merasa jengkel, kakek itu mikir…!kok lebih enak jaman belanda dari pada sekarang, mau haji saja sulit sekali untuk mendapatkan paspor. Lantas petugas kelurahan bilang lagi:’’ bukanya saya tidak mau, akan tetapi ketika saya membuat surat itu, kan harus ada datanya…!biar tidak disalahkan oleh pihak Imigrasi.

Setelah semua data lengkap, ternyata untuk membuat paspor haji atau umrah juga harus antre hingga sangat melelahkan. Betapa sulitnya untuk mendapatkan paspor di negeri ini. Orang-orang tua yang berasal dari desa, dengan pengetahuan dan pendidikan terbatas ternyata lebih sulit mendapatkan paspor dari pada para koruptor. Padahal, calon tamu-tamu Allah Swt, tidak pernah sedikitpun berniat memalsukan data, karena memang tidak ada gunanya bagi mereka. Ketulusan calon jamaah haji kadang malah mempersulit dirinya untuk mendapatkan paspor RI.

Ketika mendekati pemberangkatan haji, ternyata  paspor beberapa calon haji diberbagai daerah masih ada yang belum kelar. Di Sumatera Selatan, misalnya hingga sekarang belum selesai karena adanya masalah persyaratan administrasi. Sesulit itukah bagi calon jamaah haji untuk mendapatkan Paspor…..?apakah mereka itu harus dicurigai seperti Gayus dan Nazarudin…? mestinya, Imigrasi memberikan kemudahan, dan memaklumi dengan keterbatasn yang dimiliki oleh masing-masing calon jamaah haji.

Kasubag Humas Kanwil Kementerian Agama Sumatera Selatan (Sumsel), Saefuddin Latief di Palembang, Jumat mengatakan, dari 6.360 calon haji yang akan berangkat, sekitar 5.884 orang di antaranya telah menyelesaikan pembuatan paspor. “Sementara sisanya masih dalam proses yang diharapkan dalam waktu dekat selesai semuanya,” kata dia lagi (http://republika.co.id) masih banyak lagi masalah yang dihadapi oleh calon jamaah haji, seperti vaksin yang harus bayar.

Ada kasus yang menarik, di kota Jember, tepatnya di kecamatan Ambulu, setiap calon jamaah haji diharuskan periksa kesehatan di Pukesmas Ambulu sebagai bentuk kelengkapan haji. Sebagian besar sudah melakukan dengan membayar ratusan ribu. Ternyata, ada sebagian jamaah yang disarankan di rumah sakit Balung, karena rumah sakit di Balung lebih lengkap. Pada jumat (9/2011), jamaah harus antre periksa lagi, mulai jam 7 hingga sore hari. Calon jamaah harus mengeluarkan biaya ratusan ribu lagi untuk memeriksakan kesehatannya. Ternyata, pemeriksaan waktu di Pukesmas Ambulu tidak ada gunanya, padahal waktu itu sudah mengeluarkan biaya cukup besar. Apa tidak cukup puas, menjadikan calon tamu Allah Swt sebagai komoditas….? Apa dengan cara seperti ini melayani calon jamaah haji yang sudah lansia…?

 

 

 
 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s