Etika Sahabat Terhadap Kanjeng Nabi Saw

Nabi Saw satu-satu manusia mulia (mahmudah), derajatnya begitu tinggi (rafiah), yang disebut oleh Allah Swt dengan;’’ uswatun hasanah’’ keteladanan sejati. Karena begitu mulyanya, secara khusus Allah Swt dan para malaikat bersholawat kepada Nabi Saw. Wajar, jika kemudian Nabi Saw disebut dengan kekasih Allah Swt (habibullah), karena Nabi Saw memang al-Qur’an yang bernyawa yang tidak pernah mati hingga berahirnya alam semesta ini. Secara khusus, Allah Swt mengabulkan do’anya, yang kemudian ditempatkan pada tempat mulia yaitu Madinah al-Munawarah, yang sekaligus tempat peristirahatan terahir.

Imam Malik ra, selama di Madinah tidak pernah mengeraskan suaranya. Ketika Imam Malik membaca dan mengkaji hadis Nabi Saw, beliau selalu bersuci (wudhu’), mengenakan busana paling bagus. Kemudian, setelah memakai wewangian, Imam Malik duduk di atas karpet yang bagus sambil membawa hadis Nabi Saw. Ketika ditanya, kenapa demikian? beliau menjawab:’’ karena saya sedang berkomunikasi dengan kanjeng Nabi Muhammad Saw’’. Imam Malik yang hafal ribuan hadis, tidak pernah menganggab Nabi Saw tiada, oleh karena itu beliau selalu memulyakan junjungan sejatinya itu dimana saja.

Orang-orang Jawa (Indonesia) sungkan ketika menyebut Nabi Saw dengan jambal (tanpa pengormatan). Orang Jawa lebih suka menyebut dengan Sayyidina yang artinya Mr (Tuan). Dan, ini salah satu dari etika (sopan-santun) terhadap junjunganya, sebagaimana rakyat menyebut atasanya dengan sebutan’’ Pak’’ Buya, Gus’’. Sebutan itu menjadikan nama semakin indah, sekaligus bentuk penghormatan. Alangkah tidak etisnya, jika orang islam menyebut junjungan dengan ‘’Muhammad’’ saja.

 

Masih membincangkan kemulyaan Nabi Saw. Sahabat adalah orang yang paling dekat dengan Kanjeng Nabi Saw, mereka mengenal wantak dan kepribadian Nabi Saw secara utuh. Sebab, mereka setiap hari bersinggungan langsung dengan beliau Saw. Ketika Nabi Saw masih sugeng (hidup), setiap khutbah dan ceramah beliau senantiasa khutbah di atas mimbarnya. Kita ketahui bersama, mimbar Nabi terdiri dari tiga tangga, beliau senantiasa di tangga yang paling atas (ketiga).

Abu Bakar, dialah kholifah yang terpilah mengantikan Nabi Saw dengan cara demokratis (musyawarah). Betapa sopannya Abu Bakar ra. ketika khutbah di Masjid Nabawi, Abu Bakar tidak mau duduk di tangga ketiga (mibar ketiga), karena merasa tidak pantas, sebab tangga ketiga (mimbar) itumerupakan tempat duduk baginda Nabi Saw. SubhanaAllah, betapa mulianya Abu Bakar ra.

Setelah Abu Bakar ra. wafat, Umar Ibn al-Khattab ra. mengantikannya dengan cara demokratis pula. Lagi-lagi, Umar tidak mau duduk ditangga yang kedua, karena tempat itu adalah mimbarnya Abu Bakar ra. Kedua sahabat ini begtu agungnya budi pekertinya ketika memulyakan junjunganya, sehingga beliau tidak mau mengunakan mimbar (tempat duduk) Nabi Saw.[1]

Sang istri tercinta, ketika beliau mendengar orang memukul (menghammer) paku atau sesuatu sehingga menimbulkan suara keras, Aisyah r.a mengatakan:’’janganlah menyakiti baginda Nabi Saw. Abu Bakar pernah mengatakan:’’ tidak pantas kiranya bersuara keras ketika nabi masih sugeng atau sudah tiada’’.[2] Konon, menantunya, Ali Ibn Abi Tholib ketika ingin membetulkan pintu, ia keluar menjauh, beliau khawatir akan menganggu baginda Nabi Saw.

Ternyata, sikap, tindakan, ucapan sahabat benar-benar dijaga, jangan sampai membuat Nabi Saw terusik, padahal beliau Saw sudah tiada lagi. Mereka menghormati dan memulyakan Nabi, baik ketika masih hidup, atau sepeninggal Nabi Saw. Jadi, alangkah Indahnya ketika kita menyebut nama Nabi Saw dengan sebutan’’ kanjeng Nabi Muhammad Saw. sekaligus membedakan dengan Muhammad-muhammad lain yang bukan Nabi. Itulah etika (sopan santun) terhadap Kanjeng Nabi Muhammad Saw, menyebut namnya saja sopan, sebagaimana perintah Nabi Saw agar memulyakan orang yang lebih tua dan menyangi yang lebih muda.


[1] .  al-Hajjar, Muhammad’’ Allimuni ya Qoum Kaifa Ahujju’’ 153- Dar a-Basair al-Islamiyah-Beirut. 1998l

[2] . Bugyatu al-Bahist (maktabah al-Samilah) 1/429.


Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di TOKOH dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s