HAJI: Amal Buruk-pun dilipatgandakan

Hari-hari ini, banyak sekali hampir setiap calon jamaah haji mengelar syukuran haji. Tetangga dan kerabat di undang dengan tujuan agar supaya mendo’akan calon jamaah haji, yang sekaligus saling memaafkan (pamitan). Tidak terkecuali, setiap acara syukuran itu yang dibahas ialah yang baik-baik saja, seperti; Allah Swt mengabulkan do’a, mengampuni dosa-dosa, dan setiap rupiah yang dikeluarkan digantikan hingga berlipat ganda. Apalagi, beberapa training haji yang menyerukan ibadah haji, selalu mengajak agar segera haji tanpa memberikan panduan ibadah, serta etika selama dikota suci Makkah dan Madinah. Wajar, jika kemudian banyak jamaah haji yang kardik (karepe dibik), tanpa mengindahkan etika terhadap kota suci Makkah dan Madinah selama melaksanakan ritual haji. Justru, sebagian besar orang terkagum-kagum dengan bangunan megah sekitar baitullah, dari pada berinterkasi dengan baitullah. Yang kaya-pun lebih tertarik dengan pernak-pernik haji, sehingga lebih betah di tempat belanja, dari pada berdesak-desakan melakukan ritual thowaf.

Jika dicermati dengan seksama, sebenarnya semua bentuk amal ibadah di Tanah Suci Makkah mendapat pahala yang berlipat ganda, begitu juga dengan orang yang melakukan kejelekan di Tanah Suci Makkah. Oleh karena itu, menunaikan ibadah haji tidak hanya melakukan perjalanan ritual saja, tetapi harus mempersiapkan hati, sehingga hajinya tidak sia-sia.

Beberapa ulama salaf berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian mengatakan bahwa orang yang melakukan kemak-siatan di Makkah juga akan dilipatgandakan, sebagimana melakukan kebaikan. QS. al-Hajj: 25 memberitakan larangan berbuat maksiat.

 “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di dalamnya maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara dzalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”

Mufti kerajaan Arab Saudi, Syeh Abdul Aziz  bin Baz pernah mengatakan bahwa “Ilhad’ bersifat umum. Artinya, setiap sesuatu yang cenderung negatif dan batil dikategorikan sebagai ilhad. Adakalanya berkaitan dengan aqidah.

Allah telah berfirman :

“ومن يرد فيه بإلحاد”

“jika seseorang melakukan kebatilan apapun’’

Maka ia akan mendapatkan balasan dengan siksaan yang sangat pedih, sesuai dengan janji-Nya.”[1]

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kemungkaran, kejahatan serta kedzoliman, pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan menyakitkan. Beberapa intelektual muslim berpendapat bahwa niat berbuat mungkar pun mendapatkan balasan-Nya, apalagi kemungkaran yang telah dilakukan? Nabi sangat membencinya.  Tiga orang yang paling dibenci Nabi, salah satunya berbuat dzalim di tanah Haram.[2]

Berangkat dari teks di atas, salah satu sahabat Nabi yang bernama Ibnu Abbas berpendapat bahwa kejelekan dan kebaikan di Makkah dilipatgandakan. Tidak ada perbedaan antara kebaikan dan keburukan yang dilakukan di kota suci Makkah. Masing-masing mendapatkan balasan yang setimpal.

Di masa hidupnya, Ibnu Abbas lebih memilih tinggal di tanah Halal, agar kesalahan yang dilakukan tidak dilipatgandakan. Sedangkan jika hendak beribadah, beliau masuk ke Makkah agar pahalanya dilipatgandakan sampai seratus ribu.

Apa yang dilakukan Ibnu Abbas merupakan antisipasi terhadap diri sendiri agar tidak berbuat kejelekan di Makkah. Selain itu juga karena rasa ta’zhim (hormat) beliau terhadap Baitullah. Bahkan beliau berwasiat jika telah wafat agar dimakamkan di luar kota suci Makkah. Ternyata wasiat beliau dilaksanakan dengan baik, ia dimakamkan di Tha’if.

Dalam cerita lain dikisahkan, ada seorang sahabat Rasulullah SAW. tinggal di tanah Halal (Arafah), namun mushallanya berada di Tanah Haram. Ini dilakukan untuk mempermudah melaksanakan ibadah di tanah suci. Jadi antara mushalla dan rumahnya sangat berdekatan. Namun rumah yang ditempati ada di Tanah Halal, sedangkan tempat sholatnya terletak di tanah Haram.

Apa yang dilakukan Ibnu Abbas dan sahabat Nabi di atas merupakan salah satu usaha antisipasi, penghormatan dan memuliakan tanah suci Makkah agar jangan sampai melakukan kesalahan atau kemaksiatan di tanah suci tersebut. Namun cara beribadah kedua sahabat tersebut merupakan langkah positif agar selalu mendapatkan pahala seratus ribu. Sedangkan kejelekan yang dilakukan tidak dilipatgandakan seperti kebaikan yang mereka lakukan.

Dalam kisah lain, ada seorang ulama’ besar yang tidak buang air kecil serta buang air besar di Tanah Haram selama kurang lebih empat puluh tahun demi menghormati tanah suci Makkah. Beliau tinggal di tanah suci Makkah. Akan tetapi untuk urusan buang air beliau memilih tempat lain di luar Tanah Haram.

Diriwayatkan bahwa Imam Abu Muhammad Ubaidillah bin Said as-Sanjani tinggal di Makkah kurang lebih setahun. Namun beliau tidak pernah buang hajat di Tanah Haram.[3]  Apa yang dilakukan dua ulama besar tersebut juga merupakan bentuk pen-ta’zhim-an terhadap Tanah Suci Makkah. Begitu besar penghormatan ulama terhadap kota suci ini, yang tidak mungkin dibandingkan dengan kelakuan-kelakuan banyak biro haji, dan orang-orang yang menodahi tanah suci, bahkan menjadikan jamaah haji sebagai komoditas belaka.

 


[1] Al-Baladu al-Haram Fadhoil wa Ahkam hal 32, dikeluarkan oleh Kulliyah Dakwah Wa Usuluddin, Umm al-Qura University Makkah.

[2] Ibid, 33-34

[3] .Al Fasi,  Sifaul garaam Bi Ahbari Baladi al-Haram 1/116-Darul Kitab al-Arabi- Beirut

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Haji dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s