Hukum Menghajikan Orang Mati

Orang menunaikan ibadah haji adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang yang belum pernah melakukan. Dengan catatan, sudah mampu secara financial, didukung dengan kondisi fisik dan jiwa yang sehat, serta keadaan yang aman. Jika sudah memenuhi syarat (istitoah), maka wajib menunaikan haji. Kewajiban haji ini tidak boleh ditunda-tunda bagi yang sudah mampu. Sedangkan bagi yang belum mampu, hendaknya berusaha dan niat untuk mewujudkan kesempurnaan rukun islam.

Bagi yang sudah menunaikan haji, jika memungkinkan bisa menunaikan haji yang kedua, ketiga sampai yang ke-lima tidak masalah. Hanya saja, hukumnya sunnah, dan sunnah itu artinya’’mendapatkan pahala bagi yang melakukan, dan tidak berdosa bagi yang meninggalkannya’’. Namun, jika masih banyak orang-orang miskin (mlarat) disekitarnya. Alangkah, indahnya jika meng-alihkan harta tersebut untuk mengentaskan kemiskinan, karena membantu orang-orang miskin itu hukumnya wajib. Sebagaimana kisah Abdullah al-Bubarok yang tidak menunaikan haji, dan memberikan hartnya untuk tetantangganya yang sangat mengenaskan.

Bagi orang yang sudah cukup dan sudah menunaikan ibadah haji. Sudah menjadi sebuah kewajiban seorang anak terhadap orangtua atau kakeknya yang sudah tiada (meninggal) untuk menghajikan. Istilah itu sering dikenal dengan ‘’Badal haji’’. Beberapa sahabat melakukan haji untuk orangtuanya. Menurut para ulama’, pahala badal haji sampai pada orang yang dituju, sementara yang melakukan juga memperoleh pahala yang sama dengan orang yang di-badali, tanpa berkurang sedikit-pun.

Ada beberapa orang yang memperdebatkan ‘’badal haji’’, akan tetapi perdebatan itu karena kurangnya ilmu dan pengetahuan tentang haji. Sebab, beberapa redaksi hadis shohih meriwayatkan bahwa badal haji itu diperbolehkan. Akan menjadi wajib, jika anaknya telah mampu, sementara orangtuanya belum menunaikan ibadah wajib ini. Adapun dalilnya ialah sebagai berikut.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ الْفَضْلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلَيْهِ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِى الْحَجِّ وَهُوَ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِىَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-  فَحُجِّى عَنْهُ (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, bahwasannya seorang wanita dari bani Khas’am bertanya. Ya Rasulullah s.a.w, sesungguhnya ayahandaku sudah tua renta, ia mempunyai kewajiban menuanaikan iabdah haji, tetapi ia tidak mampu mengadakan sebuah perjalanan diatas kendaraan. Nabi s.a.w menjawab:’’ engkau mesti melakukan haji untuknya (H.R muslim).

Memang, ada yang berpendapat bahwa yang membolehkan badal haji itu anak kandungnya sendiri. Tetapi, para ulama hadis dan fikih sepakat bahwa badal haji itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Dengan catatan, orang yang akan melakukan itu telah menunaikan ibadah haji dan amanah. Akan tetapi, lebih afdolnya, jika orang yang akan dipercaya menunaikan haji anya benar-benar mengerti ilmu haji, dan prilakuknya bagus, sehingga pahalanya itu sampai kepada orang yang telah meninggal dunia..

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di HUKUM dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s