Logika al-Qur’an Tentang Makna Panggilan Ibadah Haji


وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28) ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ (29)

Artinya “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus[1] yang datang dari segenap penjuru yang jauh,.  Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah Swt pada hari yang Telah ditentukan atas rezeki yang Allah Swt Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka, makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran[2] yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka[3], dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah) (QS.al-Hajj (22:27-29)

Yang tersirat di dalam (QS al-Hajj (22:27) bahwa Allah Swt memberikan gamabaran bahwa menunaikan ibadah haji itu bukan semata-mata memiliki uang banyak, harta melimpah, fisik sehat bugar, tetapi ada factor lain yang sulit diperdiksi. Dalam kajian al-Qur’an, salah satu dari ke-hadiran orang ke-Makkah itu karena panggilan-Nya, melalui suara Nabi Ibrahim ketika telah merampungkan pembangunan Baitullah. Panggilan itu mengema keseluluh pelosok dunia, bagi mereka yang mendengarkan dan menyambutnya, mereka akan bisa menunaikan ibadah haji. Namun, namun bagi mereka yang menutup telinganya rapat-rapat, atau tidak memperhatikan sama sekali, tidak mungkin bisa menginjakkan kaki di tanah suci Makkah.

Ketika memaknai bahwa haji itu panggilan Allah Swt, orang berbeda pendapat. Sebagian dari mereka memaknai ‘’al-Nada’ (panggilan) sejak dulu (jaman Nabi Ibrahim), sehingga orang-orang yang tidak menunaikan haji, walaupun harta mereka melimpah, mereka mengatakan:’’ saya belum mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji’’. Jawaban itu seolah-seolah menjadikan ‘’al-Nida’’ itu sebagai kambing hitam, padahal secara financial dan fisik sudah cukup mampu, hanya saja mereka lebih mengedepankan urunan dunia, seperti; pendidikan, rumah, ruko, kendaraan, bahkan urusan aksesioris hidup lainnya. Jawaban’’ belum mendapat panggilan’’ tidak pantas untuk disampaikan, karena hakekatnya orang tersebut telah menutup rapat-rapat telingga dan hatinya, sehingga enggan menunaikan ibadah haji.

Adapun, bagi orang-orang miskin (lemah finansialnya), ketika menyikapi panggilan ‘’al-Nida’’ ternyata mereka mengatakan:’’ karena belum ada panggilan, tuhan-pun belum memberikan financial yang cukup, sehingga tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji ke-Makkah, apalagi biaya haji cukup mahal’’. Lebih-lebih, persyaratan haji menurut al-Qur’an dah hadis itu haruslah’’ al-Istitoah’’ yang artinya mampu secara financial, fisik, ditambah lagi dengan ilmu hajinya. Jadi, alasan yang disampaikan oleh orang-orang miskin secara financial itu sangat rasional, dan tidak berlebihan.

Alasan apa-pun yang dikemukakan oleh orang kaya atau miskin. Maka sudah sayogyanya mereka memiliki niat yang kuat (azam), agar bisa menunaikan haji ke Makkah. Caranya ialah menata hati, kemudian dibuktikan dengan menabung (nyelengi uang), dengan tujuan agar supaya Allah Swt memberikan jalan dan kemudahan menuju ke tanah suci. Yang tidak kalah pentingnya, walaupun belum bisa mewujudkan, tetapi ke-inginan untuk menunaikan rukun islam yang ke-lima ini tetap ada. Sebab, tidak sedikit dari jamaah haji itu, mereka secara fisiknya ada di Makkah, tetapi hati dan fikiranya ada dikampungnya. Ada juga, orang yang belum menunaikan ibadah haji, tetapi batin (hatinya) sudah merasakan berada di kota suci Makkah dan berziarah ke hadirat Nabi Muhammad Saw. Kembali lagi pada niat dan azam harus kuat, sehingga Allah Swt akan memberikan pertolongan dan kemudahan.

QS al-Hajj (22:27) juga memberikan gambaran bahwa haji itu bukan sesuatu yang mudah, karena harus mempersiapkan fisik, mental, materi, dan bekal pengetahuan haji yang cukup. Realitasnya membuktikan bahwa haji itu harus sehat fisiknya, karena harus menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, diperlukan kondisi yang sehat fisik dan psikisnya. Bisa dibayangkan, orang yang sakit fisik, seperti; jantung, diabetes, darah tinggi), atau sakit psikis; stress, depresi, juga akan sulit melaksanakan aktifitas haji dan umrah selama di Makkah dan Madinah. Wajar, jika kemudian Nabi Saw memberikan ancer-ancer (batasan), bahwa orang haji itu harus mampu (sititoah). Walaupun, orang yang tidak mampu fisiknya dan finansialnya ketika menunaikan haji tetap sah, tetapi hukumnya tidak wajib bagi mereka. Sedangkan, orang yang sakit jiwanya (stress dan depresi), hingga akalnya hilang (tidak sadar), hajinya tidak sah.

Lebih lanjut lagi, ketika Allah Swt mengambarkan’’ mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, betapa lelahnya mereka ketika melakukan ritual haji ini. Tidak ada bekal yang pantas bagi mereka, selain fisik dan financial yang harus dipersiapkan, tidak lupa ditambah dengan jiwa besar, sehingga masalah-masalah yang akan dihadapi tidak berarti sama sekali. Namun, ketika sudah memasuki ranah ritual haji, Allah Swt akan menjamin orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Sebagaimana Nabi Ibrahim as, ketika meninggalkan istri dan anaknya, walaupun hatinya berat, tetapi karena dirinya melaksanakan perintah Allah Swt, maka anak dan istrinya di-pasrahkan (tawakal) kepada Allah Swt. Tujuannya agar supaya selama melaksanakan perintah Allah Swt, tidak ada kekhwatiran dalam hatinya.

 


[1] .Unta yang kurus berjalan terseok-seok karena kelelahan dan keletihan, ini sebuah gambaran betapa jauh jarak yang ditempuh, betapa sukarnya perjalanan  jemaah haji untuk sampai di Makkah memenuhi panggilan Allah SWT.

[2] .Yang dimaksud dengan menghilangkan kotoran di sini ialah memotong rambut, mengerat kuku, dan sebagainya agar kelihatan bersih selama mendekatkan diri kepada-Nya.

[3] . Maksudnya yaitu, yang akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya selama menunaikan Ibadah Haji di tanah suci Makkah.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah, Seputar Haji dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s