Imam Bukhori Ketika di Makkah

Imam Bukhori satu di antara sekian banyak ulama’ hadis terkemuka yang tiada tandinnya. Kelebihanya ialah, beliau sangat hati-hati dan selektif di dalam memilih seorang guru, serta tempat belajar. Wajar, jika kemudian ilmu dan hasil karya beliau benar-benar bermutu, sehingga mampu menembus ruang dan waktu. Ada yang menarik dari kisahnya Imam Bukhori terkait dengan al-Haramain(Makkah dan Madinah) sebagai tempat istimewa (penuh dengan berkah).

Ketika Bukhori berusia 16 tahun, beliau sudah memiliki tujuan hidup yang jelas, dengan cita-cita yang mulia. Beliau belajar dari ulama-ulama lintas Negara, demi mendapatkan sebuah hadis. Kendati demikian, beliau sangat hati-hati dan selektif di dalam menentukan hadis yang diterimanya. Kehati-hatianya itu benar-benar dibuktikan. Ketika beliau mendapatkan sebuah hadis (ilmu), beliau mentelaah (mempejari) semalam sama 20 kali. Beliau mengatakan:’’ Saya menulis hadis dari 1080 orang ulama’’. Aku tidak akan menulis hadis dari seseorang kecuali dari orang yang mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.

Lebih lanjut lagi Bukhori mengatakan:’’ aku hanya memasukkan hadis shahih ke dalam kitab ini ( Jami’ al-Shohih). Dan aku meninggalkan beberapa hadis shohih, agar kitab ini tidak terlalu panjang. Dan aku memilih-milih hadis yang ada di dalam kitab ini dari 600.000 hadis. Aku menyusunnya selama 16 tahun. Aku akan menjadikan hujjah antara antara aku dengan Allah Swt’’ .

Bukhori lantas melanjutkan lagi pernyataanya:’’ Dulu saya kumpulkan hadis ini dari beberapa tempat (Hijaz, Irak, Syam, Mesir)’’.Dari sekian banyak tempat yang disebutkan, ternyata Imam Bukhori mengahirinya di Makkah sebagai tempat suci yang dianggap memberikan kekuatan tersendiri di dalam penulisan dan penyeleksiaan hadis yang diterimanya. Pilihan beliau terhadap Makkah bukan sekedar pilihan, tetapi karena Makkah al-Mukarramah sebuah tempat yang memiliki karaksteristik menarik nan memiliki kekuatan sebagai pusat kosmis yang ada di muka bumi ini. Pilihan Allah Swt terhadap kota Makkah sebagai kelahiran Nabi Saw serta turunnya al-Qur’an, mata air Zam-zam, serta dibangunya baitullah menjadi bukti nyata atas ke-istimewaan Makkah al-Mukarramah.

Sesampai di Makkah, Imam Bukhori memulai menyeleksi hadis-hadis yang ada. Beliau mengatakan:’’ aku menulis hadis-hadis shohih yang aku pilih di baitullah yang suci’’.[1] Dan setiap kali aku meletakkan hadis dalam kitab ini, terlebih dahulu aku mandi, ber-isthiharah kepada Allah Swt, sholat dua rakaat sehingga aku merasa yakin. Aku benar-benar hafal kitab ini, dan tidak ada sedikit-pun isinya yang luput dari pengamatanku’’. Ketika itu usia beliau sudah 32 tahun, sehingga kitab ini benar-benar dikuasainya dengan sempurna.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Haji. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s