Makkah Pusat Kosmis

Bagi sebagian besar umat islam nusantara yang bermadhab Syafii dan ber-aliran tasawuf (thoriqoh) tanah suci Makkah dan keberadaan rumah Allah merupakan pusat ilmu dan ritual tertinggi yang tidak tergantikan. Tidak ada data yang jelas, siapakan orang Jawa yang pertama menunaikan ritual haji. Namun, menjelang pertengahan abad ke- 17 raja-raja Jawa, seperti; Banten, Demak, Pajang, Cirebon, berlomba-lomba mencari legitimasi politik di Makkah, karena Makkah diyakini memberikan spirit dan kekuatan yang bagi raja-raja Jawa.

Pada tahun 1630-an, raja Banten dan raja Mataram, yang saling bersaing, mengirim utusan (al-Bi’tsah) ke Makkah untuk mencari pengakuan. Karena pada waktu itu merupakan kerajaan Jawa, agar terasa kental ke-islaman dan lebih berwibawa, maka mereka meminta gelar bahasa Arab ‘’Sultan’’ yang artinya ‘’seorang pemimpin’’. Raja-raja Nusantara, sebagian besar menggunakan gelar ‘’sultan’’, seperti; Sultan Agung, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Pajang.

Di dalam sebuah catatan sejarah, terdapat seorang Ulama’ besar yang terkenal dengan sebutan ‘’Syeh Yusuf al-Makasari’’. Beliau lahir di Goa, pada usia 18 tahun (1651-1683), beliau berteman dengan Paangaren Surya yang kemudian bergelar menjadi ‘’ Sultan Ageng Tirtayasa’’. Raja Banten ini sangat religious, dan memiliki kemampuan spiritual dan supranatural yang tinggi, sebagaimana rekannya Syeh Yusuf al-Makasari. Karena beliau bermukim di Banten beberapa tahun lamanya, maka beliu-pun mendapat julukan’’ Syeh Yusuf al-Bantani al-Makasari. Selanjutnya, Syeh Yusuf melanjutkan perjalannan (rihlah) ke-Aceh, Yaman, Syiria (Damaskus), hingga sampai di Makkah dan Madinah (al-Haramaian).

Agaknya raja-raja dan tokoh-tokoh ulama di tanah Jawa melihat dan merasakan betapa kuatnya penggaruh tanah suci Makkah, sehingga merekapun menyempatkan diri untuk berkujung ke tanah suci, atau mengutus utusan untuk mendapatkan legimitasi politik dengan tambahan nama. Raja-raja Jawa itu beranggapan bahwa gelar yang diperoleh dari Makkah akan memberi sokongan supranatural terhadap kekuasaan mereka terhadap kaumnya (rakyat). Sebetulnya, di Makkah tidak ada instansi yang pernah memberi gelar kepada penguasa lain.

 

Para raja Jawa tadi rupanya menganggap bahwa Imam Masjidilharam dan Masjid Nabawi atau yang dikenal dengan Imam al-Haramain (Makkah dan madinah). Sebab, untuk menjadi seorang Imam kedua Masjid itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Seorang Imam harus hafal al-Qur’an secara sempurna, dan hafal ribuan hadis sanad dan matannya. Untuk menyempurnakan sebagai seorang imam, prilaku dan perbuatannya harus selaras dengan ajaran al-Qur’an serta nilai-nilai luhur yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dengan begitu, gelar yang diberikan oleh Sang Imam kepada Raja-raja Jawa itu akan memiliki nilai supranatural yang cukup tinggi (di ambil dari: Potret Intelektual Islam di Tanah Suci Makkah : Karya Abdul Adzim Irsyad)

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Haji dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s