Ada Apa dengan Bulan Shafar?

Shofar di dalam bahasa Indonesia sering di artikan dengan’’ pesimis’’ Orang Arab, jahiliyyah (seblum islam), dan sebagian lagi yang hidup di era modern (internetisasi), ternyata juga masih percaya dengan hari sial.

Bahkan, masih banyak yang percaya dengan ramalan-ramalan, yang kedang menyesatkan. Di dalam hitungan Jawa, masih banyak keyakian bahwa bulan dan waktu tertentu dianggap membawa sial. Seperti seorang lelaki tidak mau menikah dengan wanita yang kelahiranya sama, atau bertentangan dengan adat istiadat Jawa. Padahal, keduanya sudah saling mencitainya. Akibatnya, justru membawa dampak negatif.

 Di dalam literatur sejarah, kaum Tsamud, menganggap sial Nabinya sendiri, hal ini disebabkan karena masih adanya anggapan bahwa Nabi Shalih as membawa siyal pada kaumnya.

(قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ) [النمل: 47]

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. [An-Naml : 47]

Orang Arab Jahiliyyah kuno (Qurais), ber-anggapan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah pembaca petaka dan bencana (sial), sebagaimana keterangan al-Qur’an waktu itu.  

(وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ) [النساء: 78].

dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. [An-Nisa` : 78]

Tidak benar apa yang dilakukan kuam Nabi Nuh dan juga kaum Jahiliyyah kuno.Sesungguhnya, semua kejadian itu tidak terlepas dari kekuasaan tuhan yang mutlak. Orang tidak perbolehkan menyalahkan orang lain, atau mengangab bulan wan waktu tertentu penyebab kesialan.

 Manuasia, hanya diperbolehkan menganalisa, sebab-sebab kejadian, atau musibah yang telah dialami tanpa menyalahkan bulan atau waktu. Walaupun tidak dipungkiri, Allah Swt memberikan waktu-waktu tertentu yang memiliki keistimewaan. Kendati demikian, manusia tetap harus mengembalikan semuanya kepada Allah Swt.

 (قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَمَالِ هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا *مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ) [النساء: 78،79]

Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka Mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Nikmat apa saja yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. [An-Nisa` : 78-79]

 

Sehingga mereka tidak mau melakukan aktivitas mubah yang mereka biasa rutin melakukannya pada bulan-bulan lainnya. Maka Nabi Saw membatalkan keyakinan tersebut dengan sabdanya :

 

  قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر وفر

Nabi S.aw menuturkan:’’Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada (kesialan) pada burung hantu, tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

 

Pernyataan Nabi Saw itu adalah sebuah jawaban, bahwa assumsi negative orang-orang Jahilyyah pada masa Nabi, terhadap sesuatu tidak benar.  Pada  masa Jahiliyyah,  ada sebuah keyakinan apabila burung (hantu), tersebut hinggap pada rumah salah seorang mereka, maka dia akan mendapat kesialan, seraya mengatakan:“Burung ini membawa kabar buruk tentang aku, atau salah seorang penghuni rumahku.”

Di dalam keyakinan orang-orang Jawa, ada sebuah keyakinan bahwa, apabila ada burung hantu berbunyi ditenggah malam, bertanda aka nada pencuri (maling). Realitasnya, kehidupan saat ini banyak maling dan pencuri dimana-mana, akan tetapi burunganya tidak ada, dan tidak berbunyi lagi. Jadi, dunia modern sering kali membuktikan bahwa keyakinan itu tidak benar.

Makna sabda Nabi:“tidak ada (kesialan) pada bulan shafar”, pendapat yang benar bahwa orang-orang jahiliyyah dulu menganggap sial bulan Shafar, mereka mengatakan bahwa bulan itu adalah bulan sial. Maka Nabi membantah keyakinan tersebut. Beliau menjelaskan, bahwa bulan tersebut tidak bisa memberikan pengaruh apa-apa. Walaupun ada sebuah pendapat, bahwa pada ahir bulan Shofat, tepatnya pada Rabu Wekasan, akan diturunkan banyak jenis penyakit.  Yang demikian ini, jika difahami secara konteporer, akan menjadi sebuah motivasi untuk berbuat baik,dan berdo’a agar terhindar dari beragam beragama penyakit dan musibah.

Bulan Shofar adalah bulan kedua dalam penaggalan hijriyah.Orang Jahiliyah kuno sering mengatakan bahwa bulan Shofar adalah bulan sial. Bahkan, di dalam dunia modernpun, masih banyak yang meyakini bahwa bulan Muharram (al-Syura’) dan Shofar. Memang benar, pada 10 Muharram (al-Syura’) banyak insiden menimpa para Nabi, sahabat, dan para ulama’. Sehingga, banyak orang yang mengira bahwa membuat acara, seperti mantu (akad Nikah), bangun rumah, akan menimbulkan dampak yang negative.

Terlebas dari beragam pendapat yang berkembang, para ulama’ sholih pernah mengatakan:[1]’’Sesungguhnya di dalam bulan shofar akan turun sebuah bala’ (musibah) besar pada hari Rabo.[2] Musibah itu akan diturunkan pada hari tersebut. Agar supaya terhindar dari musibah itu, para ulama’ memberikan panduan praktis do’a sebagai berikut:

Konon, ketika kaumnya Nabi Nuh a.s, dan juga A’ad dan tasmud yang ingkar dengan siksaan putting beluang yang sangat memilukan. Konon, agin yang kencang (sorsor) sangat dingin, menusuk hinga tulang sumsum. Apa yang menimpa mereka, sebuah akibat dari sifat kesombongan, dan tidak mempercayai keberadaan tuhan.

Menurut sebagian riwayat, kaum Nabi Nuh a.s memperoleh dua siksaan yang berturut-turut (mustamir):

  1. Pembalasan Tuhan terhadap kaum Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua perinkat. (1) Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan, kalau-kalau mereka tidak memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya.Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu adalah suatu permulaan seksaan dari Allah yang dijanjikan dan bahwa Allah masih lagi memberi kesempatan kepada mereka untuk sedar akan kesesatan dan kekafiran mrk dan kembali beriman kepada Allah dengan meninggalkan persembahan mrk yang bathil kemudian bertaubat dan memohon ampun kepada Allah agar segera hujan turun kembali dengan lebatnya dan terhindar mrk dari bahaya kelaparan yang mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum mahu percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan ari musibah yang mereka hadapi.
  2. Tentangan mereka terhadap janji Allah yang diwahyukan kepada Nabi Hud segera mendapat jawapan dengan dtgnya pembalasan tahap kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di atas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, karena dikiranya bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka yang sedang mengalami kekeringan.

Melihat sikap kaum Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dengan nada mengejek: “Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yang telah ku janjikan dan kamu ternanti-nanti untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu sangkal dan kamu dusta. Sejurus kemudian menjadi kenyataanlah apa yang diramalkan oleh Nabi Hud itu bahawa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin taufan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merusakkan bangunan-bangunan rumah dari dasarnya membawa berterbangan semua perabot-perabot dan milik harta benda dan melempar jauh binatang-binatang ternak.

 Keadaan kaum Aad menjadi panik mereka berlari kesana sini hilir mudik mencari perlindungan .Suami tidak tahu di mana isterinya berada dan ibu juga kehilangan anaknya sedang rumah-rumah menjadi sama rata dengan tanah. Bencana angin taufan itu berlangsung selama lapan hari tujuh malam sehingga sempat menyampuh bersih kaum Aad yang congkak itu dan menamatkan riwayatnya dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi umat-umat yang akan datang.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya yang kacau bilau dan tenang seraya melihat keadaan kaumnya yang kacau bilau mendengar gemuruhnya angin dan bunyi pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang berjatuhan serta teriakan dan tangisan orang yang meminta tolong dan mohon perlindungan.

Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah ‘’ Al-Ahqaf ‘’ sudah menjadi sunyi senyap dari kaum Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, di mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana dimana hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para penziarah yang datang beramai-ramai dari sekitar daerah itu, terutamanya dan bulan Syaaban pada setiap tahun.

Allah Swt berfirman, yang artinya:’’Kaum ‘Aad pun mendustakan(pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang” (QS al-Qomar (54:18-20).

Beberapa ulama’ tafsir, seperti Imam al-Bagawi menceritakan, bahwa kejadian itu tepat pada hari rabu terahir (Yaumi Nahsin Mustamir) dengan bulan Shofar.[3] Orang Jawa pada umumnya menyebut rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan. Artiynya, pada hari itu tuhan menurunkan bergam penyakit dan musibah. Seorang Ulama’ besar yang terkenal dengan panggilan Syeh Al-Buni menyatakan, agar supaya berdo’a pada awal bulan Shofar.

 

 


[1] . Ali Qudus, Muhammad. Kanju al-Najah wa al-Surur fi al-Adiyati al-Lati Tasrohu al-Sudur’’, hal 23. Seorang Imam Masjdil haram, 1280-1334 H.

[2] . Orang Jawa sering mengatakan bahwa rabu itu disebut dengan ‘’Rabu Wekasan’’ yang artinya rabu terahir pada bulan Shofar.

[3] . Al-Bagawi, Ibnu Masud 1997. Maalimu al-Tanjiil (Dar al-Toyyibah) 7/430  

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di pesan sahabat dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s