Serba Serbi Memahami Panggilan Haji

Hampir semua buku klasik dan modern, ketika membahas panggilan haji, QS al-Hajj (22:27) menjadi rujukan utama, karena Allah Swt dengan jelas dan tegas menyatakan:’’Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Ketika musim haji tiba, semua khotib di beberapa masjid di seluruh nusantara, bahkan masjid-masjid yang menyebar di Arab Saudi membahas tuntas makna panggilan Haji Nabi Ibrahim, sebagaimana penejelasan QS al-Hajj (22:27).

Sampai-sampai kadang terasa membosankan dengan pembahasan tersebut, apalagi kadang pembahasannya sangat monoton, membuat para jamaah sholat jum’at tertidur pulas, sampai-sampai ketika khutbah rampung, teman di sampingya mencoleknya sambil berbisik:’’ mas….! Bangun, khutbahnya sudah selesai…..!

Memang agak sedikit rumit ketika menjelaskan makna panggilan ibadah haji kepada banyak orang, apalagi kemampuan setiap orang di dalam menangkap dan memahami al-Qur’an beragam. Orang seringkali salah kaprah ketika memahami kandungan QS al-Hajj (22:27), misalnya, dengan cara menitipkan tulisan-tulisan atas nama dirinya kepada calon jamaah haji yang akan berangkat ke Makkah. Sesampai di Makkah, memintanya agar supaya tulisan itu dibaca di depan baitullah, Arafah, dan di Madinah, sambil memangil-manggil nama tersebut. Dengan harapan, ini serupa dengan panggilan Nabi Ibrahim as, sebagaimana penjelasan QS al-Hajj (22:27), saat memanggil umat manusia untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Makkah.

Ada lagi kisah mistic seputar penggilan haji. Seorang lelaki asa Ponorogo ngebet banget ingin menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah, minimal bisa pergi menunaikan umrah. Ia sadar, antrean haji begitu panjang dan melelahkan, tidak mungkin berangkat haji ke tanah suci dalam waktu dekat, apalagi antreannya telah memasuki tahun 2018.

Ahirnya ia bertanya kepada seorang Kyai yang memiliki karomah, bagaimana caranya bisa segera bisa berangkat ke tanah suci Makkah. Lantas sang Kyai menjawab dengan enteng dan pasti:’’Sampeyan kirim fatihah saja kepada yang membangun baitullah…?. Mendengar petuah sang Kyai, lelaki itu tidak menunggu lama untuk melaksanakan titah gurunya. Setiap rampung sholat lima waktu, lelaki ini langsung mengirimkan bacaan surat al-Fatihah (tawassul), kepada Nabi Ibrahim as. Genap tiga bulan lamanya, tiba-tiba seorang Bupati Ponorogo meminta kepadanya agar supaya menikahhkan putrinya di Makkah.

Permintaan Bupati Ponorogo itu merupakan Jawaban atas do’a yang dipanjatkan setiap usai sholat lima waktu dengan tawasullah membaca surat al-Fatihah yang dikirimkan khusus kepada Nabi Ibrahim dan putranya Ismail as. Panggilan model lelaki Ponorogo ini, sang unik dan sulit dijelaskan, karena dengan ketekunan tawassulan ahirnya Allah Swt menjawab dengan perantara Bupati, tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun. ustru, semua proses pembuatan paspor, tak terkcecuali ongkos kendaraan ditanggung oleh Bupati. Realitas yang di alami oleh lelaki asal Ponorogo ini mungkin sedikit aneh, karena sebagian orang berkeyakinan bahwa tawassulan itu merupakan sesuatu yang mengada-ada (bid’ah). Tetapi, realitasnya memang demikian.

Ada juga cara memenuhi panggilan Allah Swt dengan cara rajin berziarah kepada orang yang pulang dari hajian. Setiap ada jamaah haji yang baru datang, menyempatkan diri berziarah, dengan harapan mendapatkan berkah dari do’a jamaah haji tersebut. Ternyata, tidak salah. Karena motifasi untuk berangkat haji begitu tinggi, ahirnya membuat dirinya semangat bekerja, dan berdo’a. Tidak hanya itu, setiap bulan uangnya di sisihkan dan ditabungkan untuk memperoleh porsi haji. Dengan ijin Allah Swt, ahirnya ia bisa berangkat haji ke tanah suci Makkah.

Tuhan tidak pernah menyebutkan wasilah (cara) bagaimana memenuhi panggilan-Nya. Allah Swt hanya ingin kepada setiap hamba-Nya, berniat dan betekada bisa menunaikan rukun islam yang ke-lima, tentunya dengan cara yang benar dan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw. Walaupun orang bisa datang berkali-kali di tanah suci, air matanya membasahi pelataran tanah suci, karena kagum atas kebesaran-Nya, tetapi jika ongkos yang dipergunakan dari korupsi, atau memanggil hak-hak orang lain dengan cara batil (kotor), Allah Swt tidak akan berkenan menerima, kecuali benar-benar bertaubat dan menyesali perbuatan salahnya.

Jadi, di sini Allah Swt ini menyampaikan bahwa hakekat ibadah haji itu bukan hadirnya seseorang ketanah suci berkali-kali. Tetapi, bagaimana proses kehadirannya, mulai mengatur niatnya, ongkosnya, serta bekal ilmunya. Tuhan akan memberi imbalan surga kepada setiap orang yang telah berniat haji dengan baik dan bersih karena Allah Swt, dan disertai dengan menabung di Bank dari harta yang bersih. Walaupun kemudian tidak bisa menunaikan ibadah haji, karena sakit, atau wafat, ketahuilah sesungguhnya Allah Swt telah mencatatnya menjadi haji mabrur. Dan, kelak akan dibangkitkan dalam kondisi mengenakan ihram dan terus-menerus bertalbiyah kepada Allah Swt.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Haji dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s