Kriteria Seorang Imam Masjid

Imam merupakan salah satu status yang paling tinggi di dalam ibadah sholat. Sebab, jika dilihat dari segi maknanya, imam berarti ‘’panutan’’. Oleh karena itu, setiap sholat berjamaah seorang imam di ikuti sekian banyak jamaah. Menurut penuturan Nabi Saw, jika imamnya bagus, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak makmumnya. Jadi, semakin banyak jamaahnya, akan semakin banyak pahala yang di dapatkan oleh sang Imam. Tetapi, jika seorang Imam salah, maka ia akan bertanggung jawab atas kesahannya di hadapan Allah Swt.

Kriteria Imam, tidak harus berasal dari kalangan orang berada, atau terpandang. Siapa saja bisa menjadi Imam sholat, dengan catatan (1) Bisa membaca al-Qur’an dengan baik (tajwid), terutama bacaan surat al-Fatihah (2) mengerti syarat rukunnya sholat (3) Menjaga muruah, seperti (sehari-hari tidak menggenakan celana pendek), karena auratnya terbuka (4) Juga tidak suka berjudi, rentenir, serta hal-hal yang dilarang tuhan. Kendati demikian, syah sholatnya seorang ma’mum terhadap Imam yang masih suka beli togel. Tetapi, jika sudah tahu bahwa imamnya masih suka togel, maka hendaknya menghindari menjadi ma’mum.
Suatu ketika Nabi Saw bersabda:’’Barang siapa menjadi imam, maka hendaklah tawqa kepada Allah Swt, dan ketahuilah sesungguhnya Imam itu bertanggung jawab dan akan ditanyai terhadap apa yang yang dipimpinnya, jika imam itu bagus maka ia akan mendapatkan pahala ibadah sepert pahalanya orang yang sholat dibelakangnya, tanpa sedikitpun berkurang dari pahala mereka’, jika tidak sempurna maka akan kembali kepadanya (HR Tobroni)’’.
Dalam dunia modern, masjid itu bisa dikatakan berjalan dengan baik jika manejen masjid berjalan dengan baik. Seperti; memilih muaddin dan imam rowatib, memiliki perpustakaan, jadwal imam dan khotib jum’at tersusun rapi, klinik, bagian kebesihan. Semua itu dipersiapkan, dengan tujuan agar supaya memberikan kenyamanan terhadap setiap jamaah di masjid tersebut. Apalagi, masjid tersebut memiliki komperasi (BMT), sehingga kebutuhan jamaah bisa terpenuhi dengan baik. Inilah yang di sebut dengan memakmurkan rumah Allah Swt. Jadi, memakmurkan masjid bukan hanya sekedar berjamaah, lebih dari itu bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat sekitarnya.
Kembali kepada seorang imam. Seorang imam akan mendapatkan tempat yang sangat mulia di sisi Allah Swt, jika ia benar-benar rela dan ihlas menjadi imam masjid atau musolla, tidak mengharapkan apa-apa kecuali ridho-Nya. Adapun ia mendapatkan gaji setiap bulan, hal itu merupakan bagian dari manajemen masjid. Oleh karena itu, di beberapa Negara maju, seorang Imam mendapatkan tempat yang sangat tinnggi, karena di samping menjaga waktu setiap saat, sang Imam menjadi rujukan terhadap setiap masalah yang menimpa masyarakatnya. Sebagai bentuk imbalan dan terima kasih, seorang Imam mendapatkan imbalan setiap bulan yang cukup tinggi, karena bentuk rasa terima kasih masyarakat atas waktunya menjadi bagian penting dari rumah Allah Swt.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s