Ketika Ustad Berubah Menjadi Selebritis

Di dalam pembukaan Muktamar XI Jamiyah Ahlith Thariqoah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah, KH Aqil Siraz mengatakan:’’ sekarang do’anya Kyai kalah dengan Kyai jaman terdahulu, walaupun sering Istighosah, karena waktu Istighosah dengan membawa proposal’’. Guyonan ini menjadi menarik bagi warga NU yang sebagian besar mengikuti Mu’tamar. Sontak, mendengar guyonan itu, para Muktamirin tertawa. Sebab, memang tidak sedikit para Kyai yang datang kepada pejabat dengan membawa proposal untuk kegiatan istighosah, sementara pejabat itu termasuk orang-orang yang tidak bersih kerjanya dan latar belakangnya. Wajar, jika kemudian do’anya para Kyai masa kini banyak yang tidak mampu menembus langit.

 

Sementara do’a ulama terdahulu, walaupun hanya dua kalimat atau tiga kalimat, tetapi mampu mengemparkan para penduduk langit. Para malaikat-pun ikut serta meng-amininya. Sebab, ulama dan Kyai terdahulu banyak yang rajin tirakatan (puasa), tahajutan, serta selektif di dalam memilih makanan dan minuman. Ketika di undang pejabat, atau artis mereka-pun berfikir dalam-dalam. Jangan sampai perutnya kemasukan makanan atau minuman yang tidak tahu asal usulnya. Apalagi mendapatkan jamuan istimewa dari pejabat, artis selebritis berupa makanan, minuman, uang, serta sajian penampilan yang menyesakkan dada dan mengoda iman.

Di dunia Moedern ini, ternyata posisi selebritis sangat digandrungi oleh banyak kalangan dari pada posisi seorang agamawan (ustad). Bahkan, ahir-ahir ini ada tren ustad menikah dengan artis dan selebritis. Ini sangat menguntungkan, karena popularitas ustad akan semakin melambung tinggi, karena posisinya tidak hanya sebagai ustad, tetapi juga memasuki dunia selebritis. Wajar, jika kemudian semakin laris manis dalam dunia maya dan layar kaca.

Karena sudah menjadi selebritis, maka popularitasnya semakin melejit, bagaikan atit sepakbola yang digandrungi oleh para supporternya. Karena sudah tenar, tidak sedikit biro perjalanan haji menjadikan ikon, seperti; Umrah bersama Ustad…..!karena nama itu akan sangat menjual, sehingga nilainya bukan lagi ibadah, tetapi finansial. Telivisi tidak akan mengambil seorang ustad yang tidak memiliki nilai jual (market), karena akan rugi. Dan sponsor-pun juga engan meliriknya.

Anak-anak, remaja, dewasa, bapak-bapak dan Ibu-Ibu sangat mengandrunginya. Di Tayangan telivisi, hampir setiap hari masyarakat disuguhi dengan beragam cerita dan berita artis dan selebritis. Gosipnya-pun menjadi makanan public. Memang, itu merupakan ladang atau usaha seseorang untuk mencapai derajat paling tinggi dikalangan selebrtis (popularitas).

Ibarat falsafah Jawa, siapa yang menanam padi secara otomatis rumputnya akan tumbuh sendiri. Sedangkan siapa yang menanam rumput, tidak mungkin mendapatkan padi. Begitu juga seorang ulama yang berdakwah karena Allah Saw, menjaga nilai-nilai agama, semua itu dilakukan karena-Nya, maka kelak akan mendapatkan kebaikan (popularitas). Dan ketenaran itu bukan karena market table, tetapi karena aura dari ilmu yang memancar. Itulah yang disebut dengan ‘’Ilmu Yang Bermanfaat’’

Berbeda dengan agaman yang sengaja menenarkan diri dengan membangun sensasi. Kelak agamawan yang demikian akan berubah menjadi artis atau selebritis yang nilainya tidak jauh dari urusan perut. Agar supaya tidak terperosok dalam lembah selebritis, Nabi Saw mengingatkan  bahwa segala sesuatu tergantung pada niatnya. Kemudian Imam Nawawi mengatakan:’’ setiap saya menulis karya, selalu aku awali dengan hadis tersebut, sekedar mengingatkan agar selalu menata hatinya’’. Semoga siapapun orangnya, dimana-pun posisinya mampu menata hatinya dengan baik, sehingga hidup tidak mencari kesenangan dunia, tetapi dunia ini menjadi ladang menuju kebahagiaan ahirat.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di TOKOH, Wanita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s