Profil Penghuni Kota Nabi Saw

Semua orang tahu kalau Nabi Saw membuka tanah suci Madinah dengan ahlak yang tinggi serta dengan alunan ayat-ayat suci al-Qur’an. Nabi-pun sebagai al-Qur’an yang berjalan membuka kota suci dengan senyuman, sehingga penduduk Madinah menyambut dengan senyuman juga. Tidak ada yang mengatakan jika kota Nabi Saw di buka dengan pedang atu dengan kekerasan. Nabi Saw hijrah ke Madinah tidak sendiri, tetapi di temani orang-orang yang mencintainya. Begitu juga Nabi Saw, beliau amat sangat mencintai orang-orang yang menemaninya. Sesampai Madinah, Nabi Saw sangat bangga dan senang, karena penduduk Madinah begitu ramah, berbeda sekali dengan penduduk Makkah yang keras dan tidak punya aturan, karena waktu itu masih menduakan tuhan dan membenci islam.

Di Madinah, Nabi Saw tidak hidup seorang diri, beliau dikelilingi para tetangga yang terdiri dari kaum ansor, muhajirin, pemukim, serta penduduk pendatang yang sengaja memeluk islam. Mereka semua disebut dengan ”sahabat Nabi”. Tidak ada orang yang paling setia melebihi kesetiaan seorang sahabat kepada junjungan Nabi Saw. Bahkan, mereka rela mati, demi membela junjuangannya. Bahkan, kematian menjadi sebuah kebanggan, ketika membela Nabi Saw di medan perang. Hamzah, misalny, tubuhnya penuh dengan tusukan pedang dan tombah, karena kecintaan terhadap islam dan membela Nabi Saw, yang sekaligus keponaknnya. Sahabat Nabi terdiri dari lelaki, wanita, tua dan muda, bahkan dari kalangan Jin-pun banyak yang menjadi sahabat setia Nabi Muhammad Saw. Semua orang yang pernah bertemu atau mendengar Nabi, kemudian beriman kepadanya, mereka disebut dengan sahabat, dan berhak memperoleh jaminan surga. Orang muslim yang pernah berkunjung ke tanah suci Nabi Saw, atau para pelajar-pun akan merasa bangga, karena bisa berziarah kehadirat Nabi Muhammad Saw, walaupun beliau sudah wafat.

            Konon, di antara para sahabat, terdapat kelompok yang dikenal dengan ‘’Ahlu Suffah”. Mereka terdiri dari kelompok pendatang, atau penduduk asli yang tidak memiliki kerabat dekat. Sebagian mereka sengaja datang untuk belajar ilmu agama, kemudian kembali kepada kaumnya guna mengajarkan ilmu yang sudah dipelajari langsung dari baginda Nabi Muhammad Saw. Ibnu Hajar menuturkan, Ahlu Suffah adalah tempat dibelakang masjid Nabawi (agak tinggi), yang menjadi tempat khusus bagi para pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal dan keluarga[1]. Ahlu Suffah dalam dunia modern, bisa di analogikan dengan dengan arek pondok (santri) yang datang dari berbagai tempat guna menuntut ilmu agama yang kemudian diajarkan kepada kaumnya (masyarkatnya).

Ada juga kelompok para sahabat yang terdiri dari orang-orang muhajirin dan ansor yang pemberani di medang perang, mereka membela Nabi sampai akhir hayatnya hingga mati di medan perang; seperti Suhada’ Badar, Suhda’ Uhud, serta suhada; lainya. Sebagian lagi kelompok intelektual, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Somit, Ibnu Abbas. Sebagian lagi para pemuka (pemimpin) seperti Abu Bakar al-Siddiq, Umar ibn al-Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Tholib. Sebagaian lagi para pedangan (bisnisman), seperti Abd.Rahman Ibn Auf, Anas Ibn Malik, Usman Ibn Affan, Abu Sofyan. Dan, masih banyak lagi keahlian para tetangga Nabi yang sekaligus sahabat setia dunia dan akhirat.

            Para intelektual Islam dimasa Nabi mencatat semua aktifitas Ibadah junjunganya, mulai urusan paling kecil sampai urusan paling besar. Tidak satupun urusan Nabi, mulai bagun tidur sampai terdidur kembali, kecuali dicatat dan dihafal oleh mereka. Sifat para sahabat disebuat oleh para ahli hadis dengan ‘’al-Udul” yang artinya adil. Dengan demikian, semua yang pernah yang disampaikan sahabat Nabi, baik mendengar, melihat, atau keikutsertaan dalam sebuah peristiwa merupakan catatan otentik yang bisa dipertanggung jawabkan secara hukum dan ilmu pengetahun.

Sahabat Nabi tidak pernah menyembunyikan apa yang pernah didengar, atau disaksikan ketika junjunnganya masih sugeng (hidup), karena takut dengan ancaman Neraka jahannam. Mereka takut juga dikatakan mengada-ngada (bid’ah), oleh karena itu mereka menyampaikan apa adanya, tidak dikurangi dan juga tidak ditambahi. Mereka (sahabat) Nabi tidak berani mengatakan apa yang tidak pernah Nabi katakan, menyampaikan apa yang belum pernah disampaikan, karena Nabi pernah berpesan kepada mereka agar tidak berbohong atas nama dirinya. Di dalam sebuah pesan, Nabi menuturka’:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه مسلم)

Artinya” diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia mengatakan: Rosulullah Saw menuturkan” barang siapa berbohong atas nama diriku, maka silahkan memboking tempat dudu di Neraka”(H.R Muslim)[2]

 

Dengan bekal pesan inilah, para sahabat tidak mau mengada-ngada dalam urusan agama dan serta pengambian kepada-Nya. Kemampuan sahabat Nabi Saw di dalam mencerna makna yang tersurat dan tersirat di dalam hadis begitu luar biasa. Mereka tidak hanya memahami apa yang di hafal, tetapi makan yang terkandung di dalamnya juga bisa. Ini mengisaratkan bahwa sahabat itu tidak hanya cerdasa intelektualnya, tetapi juga memiliki kedalam spiritual yang begitu tinggi. Wajar, jika sebagian mereka menanggis ketika Nabi Saw menyampaikan pesan seputar neraka, siksa kubur, karena ayat-ayat yang keluar dari lisan Nabi Saw mampu menembus dinding-dinding hati para sahabatnya. Sopan santun sahabat begitu tinggi, karena mereka sadar bahwa orang yang di hadapanya adalah utusan Allah Swt. Begitulah profil tetangga dan kerabat Nabi Saw di Madinah. Dan wajiba bagi setiap pemukim di Makkah dan Madinah meneladani para sahabat di dalam ber-etika kepada Nabi Muhammad Saw, walaupun beliau sudah wafat.


Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s