Penyebab Pertikaian Suami Istri dan Solusinya

Bertengkar merupakan bumbu sedap suami istri. Begitulah penuturan para senior ketika sedang memberikan petuah kepada pasangan yang sedang bertengkar atau sedang perang dingin. Ada benarnya memang, walaupun tidak mutlak. Seringkali pasangan suami istri bertengkar hebat hingga mengemparkan tetangganya, bahkan memecahkan piring dan cangkir. Eeee….ternyata, sebelum subuh dikumandangkan, masing-masing sudah basah rambutnya karena telah menghabsikan sebagian malam untuk bercinta. Rupanya, pertengkaran itu tidak berlangsung lama, karena bisa diselesaikan di atas ranjang. Urusan ranjang, mampu meluluhkan hati masing-masing. Seringkali urusan ranjang kadang menjadi solusi paling asik dan menyenangkan dalam rangkan penyelesaian masalah rumah tangga.

Begitulah kehidupan rumah tangga pada umumnya. Pertengkaran itu seringkali terjadi disebabkan karena bermacam-macam, seperti; masalah pendapatan, pendidikan, ekonomi dll. Sering terjadi di lapangan, pendapatan suami lebih kecil dari pada istri. Ini masalah klasik dan terjadi dimana-mana, mulai di kota sampai di desa.

Sudah pendapatannya kecil, sementara orangtua sang suami kadang membutuhkan bantuan finansial setiap bulan. Tak ayal, sang suami kadang memberikan sebagian gaji kepada orantuanya sebagai bentuk rasa terima kasih sekaligus bhakti kepada orangtuunya setiap bulan, tanpa sepengetahuan istrinya.

Sementara sang istri merasa pendapatannya lebih banyak, juga memberikan sebagian penghasilan kepada kedua orangtuanya, bahkan terkesan lebih memanjakan orangtuanya dari pada mertuanya. Kondisi seperti ini memicu perbedaan pendapat, sehingga pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Jika tidak segera di atasi akan berdampak negative pada keharmonisan keluarga, serta pertumbuhan anak-anaknya, bahkan kadang berahir sampai pengadilan agama, katena masing-masing sudah tidak memperdulikan.

Adakalahnya, pertengkaran itu terjadi karena masalah pendidikan dan karir. Misalnya, seorang lelaki menikah dengan seorang wanita pujaan hatinya. Setelah berjanji setia di depan penghulu, resmislah kedua menjadi pasangan yang sah dan halal. Tetapi, karena sang suami ingin melanjutkan karir (study kejenjang master S2). Segala daya upayanya berusaha mewujudkan cita-citanya, tanpa berfikir bahwa biaya pendidikan Spesialis begitu besar.

Sementara, ia belum memiliki penghasilan yang cukup. Baginya tidak masalah, karena orangtuanya cukup mapan. Kebutuhan rumah tangga dan sekolahnya di topang oleh orangtunya, sepert; makan sehari-hari, pulsa, bensin, dll. Sebulan dua bulan tidak masalah, tetapi lama-kelamaan menimbulkan masalah.

Hati kecilnya merasa, bahwa biaya Spesialis begitu besar, sementara dirinya belum bisa bekerja untuk membahagiakan kedua orangtuanya, kecuali harus membiayai dirinya setiap bulan dengan jumlah yang sangat fantastis ratusan juta. Ia sadar, bahwa dirinya tidak sendiri, adik-adiknya juga butuh biaya besar untuk sekolah. Belum lagi, ketika sang istri hamil dan melahirkan, biaya semakin bertambah, sementara sekolah belum rampung juga.

Mau tidak mau, orangtua menjadi babu (buruh) momong anaknya yang tidak pernah di bayar. Cerita ini realitas seorang ibu yang pernah saya wawancarai. Alasan ibu tersebut karena tidak tega melihat  anaknya. Tentu saja, jika seorang suamu sedang kuliah spesialis, mertua dan orangtua turun tangan baik materi dan pekerjaan, demi sang anak tercinta, sehingga anak yang lainpun kadang menjadi korban yang tidak disengaja.

Pernah suatu ketika berdiskusi dengan seorang lelaki yang berprawakan sederhana bekerja serabutan. Salah satu dari saudaranya seorang yang sedang menempuh pendidikan S2 spesilis. Pura-pura aku bertanya:’’ wah….enak yang saudaramu dapat beasiswa….!seketika itu lelaki itu menjawab:’’enak piye…..! yang ketayalan (banting tulang) membiayai sekolah spesialis tetap saja orangtua. Jawaban ini seoah-olah sebuah protes kecil, atas besarnya biaya pendidikan spesilis anaknya, sehingga dirinya harus mengalah demi saudaranya yang biayanya menghabiskan ratusan juta bahkan milyar demi satu anaknya.

Kondisi seperti ini sering terjadi kepada siapa saja. Adakalanya masalah rumah tangga terjadi karena perbedaan kecil, seperti proses pendidikan anak. Dimana seorang ayah ngotot mendidik anaknya masalah agama, sementara sang ibu ngotot mendidik anaknya di lembaga pendidikan modern dengan biaya yang cukup mahal. Karena visi dan misinya tidak sama, maka setiap hari terjadi perselisihan.

Apapun perselihan, baik masalah ekonomi, pendidikan, pola hidup, semua ada solusinya. Jika pendidikan, maka hendaknya memang mengedepankan pendidikan terdahulu, jangan sampai mengejar cita-cita pendidikan spesialis, kemudian menutup mata semua biaya pendidikan dibebankan kepada orangtua yang semakin hari semakin renta dan tak berdaya. Akan lebih hebat dan perkasa, jika sekolah spesilisnya mendapatkan beasiswa, bukan justru ngriwuki orangtuanya yang semakin tidak berdaya di makan usia.

Jika perbedaan masalah pola hidup, perlu adanya pengertian. Karena tuhan menciptakan antara lelaki dan wanita berbeda. Jangan mencari perbedaan, tetapi mencari kesamaan. Pendekatan agama, seperti; menyelesaikan masalah di atas sajadah, artinya setiap ada masalah, kembalikan kepada Allah Swt. Sempatkan waktu untuk bermunajat kepada Allah Swt untuk menyelasikan masalah, khususnya ketika sedang bersujud.

Jika masalah perbedaan pendapatan. Tidak ada bedanya antara orangtua dan mertua. Sudah menjadi kewajiban anak membahagiakan orangtua. Jangan sampai, menantu mendahulukan orangtua dan kurang memperdulikan mertuanya, atau sebaliknya. Ketika menikah, sesungguhnya telah menikahkan kedua keluarga yang berbeda. Penghasilan istri juga sama dengan penghasilan suami, saling melengkapi dan menyempurnakan suami istru, sehingga tujuan utama dalam membina keluarga bisa tercapai, yaitu bahagia di dunia dan ahirat, keturunan juga sholih dan sholihah yang setiap saat mendokan kedua orangtuanya. Wallau A’lam

.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Anak, Wanita dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Penyebab Pertikaian Suami Istri dan Solusinya

  1. suroto berkata:

    mari kita jaga keharmonisan keluarga dan keharmonisan dengan pasangan kita…..
    rumah buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s