Memperingati Maulid Nabi Saw dengan Umrah

Perdebatan panjang seputar perayaan Maulid Nabi Saw sampai sekarang terus berjalan. Sebagian orang ber-anggapan bahwa merayakan Maulid Nabi Saw itu sesuatu yang mengada-ngada (bid’ah). Artinya, bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad Saw. Wajar jika kemudian menganggab bahwa orang yang merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw itu tersesat dan berhak masuk neraka. Dengan kata lain menodai syarian Rosulullah Saw. Bahkan, karena rasa benci yang berlebihan terhadap orang-orang yang melakukan perayaan Maulid, sampai-sampai muncul justifikasi yang tidak pantas seperti ‘’tersesat, kafir, masuk neraka’’ dll. Padahal, mereka tahu bahwa ngatain menyesatkan orang itu tidak diperkenankan, justru kembali pada dirinya.

Tidak dipungkiri memang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw adalah amalan bid’ah. Syeh Muhamamd Ali Qudus mengatakan bahwa merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw adalah perkara bid’ah, tetapi bidah yang bagus (Bidah Hasanah). Syeh Al-Imam Abu Samah Gurunya Imam Nawawi mengatakan:’’ dari sebagian perkara bid’ah yang berkembang di jaman sekarang ini (dulu) sebagaimana yang dilakuan oleh banyak orang setiap tahun yang bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw, seperti; Sedekah dan amal kebaikan, menampakkan kebagiaan dan kegembiraan. Sesungguhnya yang demikian itu bagian dari perbuatan baik (ihsan) bagi orang-orang miskin yang merasakan atas rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw dan meng-agungkannya. Dan, juga wujud rasa Syukur atas kehadiran Nabi Muhammad Saw yang di utus oleh Allah Swt untuk memberikan rahmat kepada alam semesta.

Yang terpenting di sini ialah, bagaimana orang yang tidak suka terhadap perayaan Maulid Nabi Muhammad tidak menyesatkan sesame muslim. Sebaliknya, yang merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw juga tidak terganggu dengan orang-orang yang membencinya. Kalimat yang pantas untuk yang berbeda dalam masalah merayakan Maulid Nabi Saw ialah ’’Walana A’maluna Walakum A’malukum’’ yang artinya ‘’ bagi kami adalah amal ibadahku, dan bagi kalian adalah ibadah kalian’’.

Jika ditelusuri, memang tidak ada dalil dari al-Qur’an, begitu juga yang berasal dari hadis Nabi Saw yang menganjurkan merayakan Maulid Nabi Saw. Juga, tidak ditemukan di dalam al-Qur’an dalil yang melarang merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. Justru, Nabi Saw menganjurkan kepada para pengikutnya agar senantiasa mencintainya. Bentuk rasa cinta kepada Nabi Saw bermacam-macam, seperti; rumah tangga, berdagang, mengajar, menjadi pemimpin yang adil dan bijak, bersikap ramah kepada sesama. QS Al-Ahzab (36:21) telah menjelaskan kepada kita betapa sempurna kepribadian Nabi Saw, sampai-sampai Allah Swt menyebutnya dengan istilah ‘’Uswatun Hasanah’’ .

Kembali membincangkan Maulid Nabi Muhammad Saw. Moment Maulid Nabi Saw memberikan penggaruh besar terhadap umat islam nusantara. Sebagian besar umat Islam merayakan bulan kelahiran Nabi Saw dengan membaca sholawatan, berkumpul membacakan sejarah beliau Saw (Sirah al-Nabawiyah), kemudian di ahiri dengan ramah tamah makan bersama. Ini terasa indah nan menyenangkan, karena bisa meneladani kehidupan Nabi Saw sekaligus bersilaturahmi berjamaah dengan rekan, tetangga. Bukankan silaturahmi itu bagian dari sunnah Nabi Saw, bulan Maulid ini juga menjadi kesempatan terindah bagi umat Muhammad Saw.

Sebagian lagi dari umat Muhammad Saw yang tinggal diseluruh pelosok nusantara, khususnya yang taraf ekonominya mapan. Mereka merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan menunaikan ibadah umrah. Tidak hanya umrah, setiap jamaah bisa berkunjung langsung di Masjid Nabawi, sekaligus ziarah kehadirat Nabi Muhamad Saw. Setiap sholawat yang terucap dari para pengikutnya akan di sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw memang telah tiada, tetapi jasad beliau tetap utuh, karena beliau Saw pernah mengatakan:’’ Bumi itu di haramakan memakan  Jasad para Nabi’’, termasuk jasad Rosulullah Saw. Andai manusia tahu, pasti akan sangat bergembira. Setiap sholawat yang di ucapkan oleh jamaah umrah yang sedang berada Masjid Nabawi atau yang sedang merayakan Maulid Nabi Saw dikampung-kampuang dan desa-desa terpenci, semua di Jawab langsung oleh Rosulullah Saw. Hanya saja, perasaan orang yang menunaikan umrah lebih berbahagia, karena merasa berdekatan dengan Nabi Saw yang akan memberi safaat kepada setiap umat yang pernah mengunjungi dirinya.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, TOKOH dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s