Ibnu Hajar Al-Haistami

Dalam dunia intelektual islam, terdapat seorang ulama besar yang bernama Ibnu Hajar. Setelah di telilti, ternyata Ibnu Hajar itu ada dua. Ibnu Hajar Al-Askolani dan Ibnu Hajar Al-Haitasmi. Keduanya bukanlah ulama sembarangan, tetapi ulama sejati yang melahirkan ratusan karya Ilmiyah. Ibnu Hajar Al-Askolani lebih dikenal dengan ilmu hadisnya, ini terlihat jelas pada karya beliau yang berjudul ‘’ Fathu al-Bari fi Sarh  Shohih Al-Bukhori’’. Kitab ini menjadi rujukan jutaan umat islam dunia. Syeh Ibn Hajar Al-Askolani juga bermadhab al-Syafii, sama dengan Ibn Hajar al-Haitsami. Baik Ibnu Hajar Al-Askolani maupun Ibnu Hajar Al-Haitsami kedua-duanya menguasai bidang ilmu agama, seperti ; Al-Qur’an dan tafir, Hadis dan Mustalahahnya, Fikih, serta cabang-cabang ilmu agama lainnya.

Kendati demikian, Syeh Ibn Hajar al-Haitsami adalah seorang ulama besar yang sangat alim yang lebih terkenal dengan fikihnya.  Dalam kalangan santri di Indonesia, Ibnu Hajar Al-Haistami  sangat terkenal dengan kitabnya ‘’ Fatawa Ibnu Hajar al-Haitsami’’. Hampir semua ulama Indonesia yang bermadhabkan Imam Syafii memiliki kitab tersebut. Karena kitab itu menjadi rujukan utama dalam masalah-masalah fikih. Terasa belum sempurna seorang santri, jika belum memiliki kitab Fathu al-Bari karya Imam Ibnu Hajar Al-Askolani al-Syafii dan Fatawa Ibnu Hajar al-Haitsami al-Syafii.

Tetapi, ada yang menarik dari kedua ulama tersebut yaitu Ibnu Hajar yang artinya adalah ‘’Anak Batu’’. Nama lengkap Ibu Hajar Al-Haitsami ialah Sihabuddin Abu Al-Abbas Saikhu al-Islam al-Hafid Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitsami al-Sya’di al-Ansori. Beliau lahir pada bulan Rajab (th. 909 H) di sebuah desa kecil Mesir. Al-Sa’dy merupakan salah satu dari kelompok Bani Saad di Mesir bagin Timur, yang mana kabilah tersebut merupakan kelompok Al-Ansor di jaman Nabi Muhammad Saw.

Adapapun, julukan beliau dengan Ibnu Hajar (Anak Batu). Salah satu dari kakeknya sangat pendiam, jarang berbicara kecuali dalam keadaan darurat.  Karena jarang berbicara, maka masyarakat pada waktu itu menyebutnya dengan Al-Hajar. Kakeknya bukanlah orang biasa, tetapi seorang ulama besar di jamannya. Ibnu Hajar termasuk salah satu dari sekian cucu yang menjadi ulama besar. Oleh karena itu, beliau juga mendapatkan julukan dengan Ibnu Hajar, karena keilmuanya sama dengan kakeknya yang jarang berbicara tersebut.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Sejarah, TOKOH. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s