HAJI: Morotarium Haji Tidak Perlu

Santer berita di media seputar moratorium haji, karena antrean haji reguler sudah memasuki tahun 2021. Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 1,6 juta calon jamaah haji menunggu antri. Sudah saatnya dilakukan morotarium haji, seiring dengan suksesnya morotarium PNS. Partai Keadilan Sejahtera mendukung langkah ini. Apalagi, yang mengusulkan KPK, sebuah lembaga kuat di negeri ini yang tugasnya memberatas dan membasmi korupsi.

Jika dicermati, keinginan KPK sangat mulia yang secara khusus terkait dengan pengelolaan keuangan haji. Dikhawatirkan besaran uang jamaah haji yang semakin gendut pada rekening menteri agama membayakan. Kekhawatiran itulah yang membuat KPK mengusulkan agar supaya dilakukan morotarium. Tetapi, usulan itu sangat wajar, karena memang besarnya uang jamaah haji itu akan semakin bertambah besar, karena uang itu juga diputar oleh Bank-Bank yang bekerja sama dengan Depag. Wajar saja, jika kemudian banyak bank-bank yang mengajukan diri ke depag agar diperkenankan memberikan dana talangan haji. Salah satu penyebab utama, membengkaknya jumlah calon jamaah haji, adanya dana talangan haji oleh bank-bank yang begitu murah. Hanya dengan 5 juta, sudah bisa mendapatkan kuota haji. Bank mana yang tidak silau dengan program dana talangan haji ini.

Menghentikan pendaftaran haji sesuatu yang sangat sulit dilakukan, bahkan mustahil terjadi, karena terkait dengan umat islam yang niatnya makin kencang untuk menunaikan ibadah haji. Mengentikan pendaftaran haji boleh, tetapi sudah ada solusinya. Agar tidak merugikan banyak pihak, seperti; umat islam, system yang sudah berjalan.

Menurut analisa saya, moratorium haji bisa dilakukan, dengan catatan sebagai berikut

Setiap tahun, jumlah kuota haji baik reguler maupun khusus harus ditambah. Jika pada tahun sebelumnya kira-kira 220 ribu. Maka tahun-tahun berikutnya, sekitar 270-300 ribu jamaah. Dengan demikian, maka jumlah antrean 1,6 juta akan segera tersedot.

Memprioritaskan jamaah yang berusia 50 tahun ke-atas, dan memperketat KBIH-KBIH, agar tidak membuat data-data yang memungkinkan calon jamaah haji bisa berangkat setiap tahun.

Menghapus dana talangan haji sementara waktu, atau memperketanya. Jika Bank-Bank memberikan dana talangan haji, hanya dengan 5 juta memperoleh kuota, maka hendaknya system ini perlu dirubah. Atau sementara ditiadakan dulu dana talangan haji, agar jumlah antrean tidak semakin panjang.

Pengelolaan uang calon jamaah haji, hendaknya transparan, sehingga setiap calon jamaah haji mengetahuinya dengan baik. Sebab, banyak orang yang negative thinking, bahwa uang yang disimpan di bank (uang muka) selama lima tahun, ternyata tidak memberikan manfaat, sementara bank tempat menabung mendapatkan manfaat yang begitu besar.

Surya Darma Ali dengan politis menolak morotarium ini dengan mengatakan:’’ “Barangkali ada usul yang lebih baik dan harus diterima untuk dijalankan, setiap usul harus dipertimbangkan baik buruk dan dilihat kekuatan dan kelemahannya” http://nasional.kompas.com/read/2012/02/24/23040112/Suryadharma.Moratorium.Haji.Tidak.Diperlukan). Tetapi, bukan tidak mungkin jika persolan morotarium ini menjadi isu politik. Win win solutionnya ialah, tidak perlu moratorium, tetapi menambah jumlah kuota setiap tahun, meniadakan talangan haji sementara waktu, dan memprioritaskan para pendaftar yang berusia senja. Dengan demikian, sedikit demi sedikit akan antrean haji tidak terlalu panjang.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah, Informasi...., Konsultasi Haji dan Umrah Gratis, Seputar Haji dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke HAJI: Morotarium Haji Tidak Perlu

  1. Jemmy J. berkata:

    Bila diadakan Moratorium Haji, maka yang perlu dipikirkan adalah jumlah jamaah yang mendaftar akan sangat banyak pada saat Moratorium itu dibuka akibat tertahannya/moratorium jamaah, ibaratnya orang yang akan memasuki suatu pertunjukan dimana orang telah berjubel menunggu sampai pintu dibuka.
    Sedangkan untuk menambah jumlah kuota, juga tidak mudah mengingat tempat yang tersedia di Arab Saudi juga terbatas. Hal ini saya alami sewaktu melaksanakan ibadah haji-reguler tahun 2011 yang lalu dimana tempat untuk menginap ditenda-Mina sudah tidak dapat menampung sehingga ada sebagian teman yang menginap di Mesjid, Begitu pula kendaraan antara Mekah-Mina-Arafah, sudah sangat macet. Demikian pula halnya dengan daya tampung Masjidil Haram yang sudah sangat penuh sesak disaat antara tanggal 5 – 18 Dzulhijjah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s