Perpusatakaan Masjidilharam

Kelahiran Nabi SawSeringkali orang binggung ketika membedakan Masjidilharam dengan Makkah. Secara umum, memang sulit membedakan, karena antara Masjidilhram bedanya sangat tipis, bahkan menyatu. Padahal, Makkah (tanah haram) itu bersifat umum yang artinya semua wilayah tanah haram yang telah ditentukan batas-batasnya oleh pemerintah. Sedangkan Masjidilharam adalah masjid itu sendiri yang dipergunakan untuk melaksanakan sholat lima waktu da ditengah-tenggahnya adalah Baitullah.

Di Makkah banyak sekali desa, yang disebut dalam bahasa Arab dengan (al-Hayy), seperti; Syib Amir, Syib Ali, al-Gahrarah, Syamiyah, Sulaimaniyah, Falaq, Jumiyah, Jarwal, Utaibiyah, Ja’fariyah, Maabdah. Biasanya seiap al-Hayyi itu dipimpin langsung oleh  semacam kepada desa yang bernama (al-Umdah). Semua wilayah yang disebutkan di atas merupakan bagian dari kota suci Makkah. Di antara al-Hayyi yang ada, Syib Ali merupakan tempat kediaman bani Haysim, keluarga besar Nabi Muhammad Saw. Di Syib Ali itulah Nabi Saw dilahirkan dan dibesarkan. Di dalam kitab ‘’Tarikh Ibnu Atsir’’ dijelaskan jika Nabi Saw dilahirkan di sebuah rumah yang dikenal dengan nama ‘’ Dar Ibnu Yusuf’’ [2]

Seiring dengan bergulirnya waktu, tempat kelahiran Nabi Saw di Dar Ibnu Yusuf yang tepatnya di desa (al-Hayyi) tempat kelahirannya Nabi Saw menjadi tempat tujuan utama. Setelah mengalami banyak perubahan, karena pergantian kekuasaan dan pimpinan di Makkah. Tempat kelahiran Nabi Saw juga ikut berubah pemiliknya.

Tempat kelahiran Nabi Saw pernah dibangun sebuah masjid, sebagai bentuk penghormatan dan kemulyaan terhadap Nabi Saw. Ternyata, tidak sedikit dari jamaah haji yang datang dari penjuru dunia rebutan untuk mendapatkan berkahnya. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan memusingkan pemerintah Arab Saudi, karena bisa mengalahkan baitullah sebagai tempat tujuan utama. Lantas masjid tersebut dihancurkan, dan diubah menjadi  bangunanperpustakaan oleh Syeh Abbas bin Qotton dari dana pribadinya, pada tahun 1371 H Makkah sebagai simbul ilmu pengetahuan. Tujuan utamanya ialah sebagai bentuk penghormatan dan kemulayaan kepada Nabi Muhammad Saw yang mengajarkan membaca (iqra) belajar, sekaligus menghindari fitnah dari rebutan berkah.

Perpusatakaan Makkah al-Mukarramah ini memang tidak sebesar perpustakaan Masjidilharam. Karena sesungguhnya, perpustakaan ini adalah milik pribadi. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, perpusatakaan ini kemudian menjadi perpustakaan umum sebagaimanaya yang dicita-citakan pemiliknya.

Ketika saya masih menjadi Mahasiswa Umm al-Qura Makkah, sebelum magrib saya sering sempatkan masuk dan membaca buku-buku koleksi Perpustakaan ini. Memang, dari segi kualitas dan kuantitas perpustakaan ini kurang, namun dibalik itu semua menyimpan kekuatan yang luar biasa. Karena Nabi Saw manusia pilihan di lahirkan di sini. Jadi belajar dan mengerjakan tugas, seperti; penuliasn thesis dan disertasi di sini memiliki makna yang mendalam, karena tempat itu merupakan tempat pilihan tuhan untuk kelahiran manusia pilihan.


[1] . نقلا عن كتاب/ أعلام الحجاز في القرن الرابع عشر للهجرة، للأديب السعودي الكبير/ محمد علي مغربي، الطبعة الأولى 1401هـ – 1981م، من إصدارات إدارة النشر بشركة تهامة .

 

 

[2] . Ibnu al-Atsir, 1998.  Al-Kamil fi al-Tarikh (Darul Kutub Ilmiyah-Beirut) hlm 1/355

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Sejarah, Seputar Haji. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s