PERPUSTAKAAN MAKKAH

 Keberhasilan ulama-ulama Nusantara, serta ulama Makkah pada umumnya juga tidak terlepas dari lingkungan yang positif untuk belajar. Disamping itu ada kekutan lain yang member motivasi belajar, yaitu keberadaan baitullah yang menjadikan para ulama’ bisa berintertif dengan Allah Saw melalui ritual-ritual thowaf. Apalagi, di Makkah ada sumber mata air yang tidak pernah kering yang sumbernya mengalir dari sudut baitullah, yang konon langsung dari surga. Tentu saja, membuat santri-santri Nusantar semakin betah di tanah suci Makkah.

Dalam tulisan ini, penulis tidak membahasa Air Zamzam, atau baitullah, melainkan membahas perpusataan yang berada di Makkah. Sebab, secara tidak langsung, perpusatakaan itu memberian kontribusi besar terhadap para santri yang mendalami ilmu-ilmu agama dan cabang-cabangya. Babil Sholih al-Idrus pernah menyampaikan bahwa gurunya, Sayyid Muhammad al-Maliki memiliki perpustakaan cukup besar, dimana buku-bukunya mencapi 1 juta-an. Lantas beliau melanjutkan untuk berkarya, tidak harus repot-repot mencari buku referensi.

Masjidilharam sebagai pusat kosmic sekaligus pusat ibadah manusia ternyata memiliki perpustakaan khusus.  Di makkah, terdapat lima perpustakaan terkenal yang telah berdiri puluhan tahun, bahkan ratusan tahun yang lalu. Hampir setiap orang Indonesia yang bermukim, khususnya para santri dan mahasiswa Indonesia di Makkah saat ini tidak tahu pasti dimana letak perpustakaan bersejarah di kota suci Makkah. Sebab, mereka lebih asik asih dengan pekerjaan sebagai Guide Jamaah haji khusus, dari pada harus berlama-lama di maktabah (perpustakaan) membaca buku-buku klasik. Tetapi jika ditantanya di mana hotel mewah yang digunakan jamaah haji khusus, semua serempak menjawab:’’ kami tahu….! Namun, masih ada santri-santri yang rajin memburu ilmu dari pada memburu real, tetapi prosentasinya sangat kecil.

1-        Perpustakaan Masjidil Haram.

Perpustakaan Masjidilharam merupakan salah satu dari sekian perpustakaan lengkap dalam dunia islam. Perpustakaan ini tergolong paling penting di dunia Islam dan pendidikan agama islam, karena tempatnya di tanah suci, sehingga bisa memberikan inspirasi baru bagi para pembaca. Perpustakaan ini berdiri sekitar tahun 160 H, pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah al-Mahdi. Berarti, usia perpustakaan ini sekitar 1272 tahun.

Perpusatakaan itu dulu dipergunakan oleh para ulama dan cendikian muslim dan orang-orang kaya untuk buku-buku yang mereka tulis. Demikian pula salinan al-Qur’an yang mereka berikan untuk wakaf.[1] Perpusatakaan ini terbilang lengkap, karena memiliki lebih dari 100.000 kitab, dan 5000 manuskrip asli, 2000 manuskrip salinan dan 3000 manuskrip dalam microfilm.[2] Koran ternama Arab Saudi (al-Sarqu al-Ausat: لاربعـاء 09 رمضـان 1431 هـ 18 اغسطس 2010 العدد 11586) menjelaskan bahwa perpustakaan ini mendeteksi keberadaan sekitar 4 ribu dan 909 manuskrip asli (al-Mahtuta al-Asliyah) dan 372 manuskrip non-Arab, bersama dengan 2 ribu dan 520 video bergambar, dan Risalah Ilmiyah (Penelitian theses dan Indek dan skrip), lebih dari 20 ribu naskah, Theses dan indeks dan skrip untuk perpustakaan  berbahasa Arab dab Internasional.[3]

Yang terkini, Direktur Perpustakaan Masjidilharam al-Sharif, Dr Muhammad bin Abdullah Bajodh bahwa perpustakaan memiliki dua belas departemen, yang terdiri dari bagian pentiang yaitu memberikan layanan kepada orang yang sedang mengkaji (belajar) dan mahasiswa (pelajar). Yang paling penting dari naskah (manuskrip) asli yang mencapai (4909), dan (372) naskah (manuskrip) non-Arab, dan (2520)  naskah bergambar, serta  naskah kertas dan lebih (20000) naskah fotografer elektronik, serta  set tesis, naskah, indeks untuk perpustakaan dan Dunia Arab dan non Arab.[4]

Adapun terkait dengan jurnal, majalah, koran, lokal, baik yang berbahasa Arab atau bahasa lain, baik yang klasik (lama) maupun baru diperkirakan mencapai (1000) judul. Cukup banyak koleksi perpustakaan Masjidilharam ini, karena memang menjadi pusat dan rujukan setiap mahasiswa dan santri yang ingin menambah pengetahuannya. Jadi, para ulama-ulama nusantara seperti; Syeh Yasin al-Fadani, Mahfudz al-Turmusi, Syeh Nawawi, wajar sekali jika betah di di Makkah, karena perpustakaan ini sangat lengkap dan bisa membuat santri betah berlama-lama membaca bergaam ilmu.

Terkait dengan hal sterilisasi Bagian bagian dan restorasi naskah dan buku-buku tua dan Departemen mengikat, yang memegang Buku Perpustakaan Binding dan suara Perpustakaan ini juga menyediakan gambar-gambar, vidieo, kaset-kaset, serta pengajian-pengajian ilmiyah, serta khutbah jum’ah Masjidil Haram, serta kajian-kajian ulama’ nusantara dan ulama al-Hijaz. Dengan demikian, akan semakin memudahkan setiap orang yang akan berkunjung. Bahkan, perpustakaan ini seringkali membagi-bagikan buku tuntunan haji, sholat, puasa, dengan yang sudah diterjemahkan dengan berbagai bahasa, seperti; Bahasa Indonesia, Ingris, Arab, Urdu, Turkey, Persia. Dengan harapan, agar setiap jamaah haji lebih memahami tuntuhan haji yang benar sebagaimana di ajarkan Islam.
Dan Departemen pasokan tanggung jawab dan tugas pembangunan dan kelompok-kelompok pembangunan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Departemen, dalam koordinasi dengan pejabat kepresidenan dan Departemen hadiah dan pertukaran, yang bertujuan untuk memperkaya kepemilikan perpustakaan melalui pertukaran dan memungkinkan perpustakaan pengguna untuk mengambil keuntungan dari duplikat salinan disiapkan untuk pertukaran adalah pertukaran dengan orang atau ilmiah lembaga dan Departemen pengindeksan dan klasifikasi yang dipercayakan dengan melaksanakan analisis dan deskripsi bibliografi buku dalam bentuk kartu dan menempatkan mereka dalam laci setelah disusun menurut abjad, telah memperkenalkan semua kartu di komputer.

Yang menarik dari perpusatakaan Masjidilharam ini ialah, ternyata menyimpan manuskrip asli (al-Mahtutat al-Asliyah) milik Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim bin Gillan Bazaar yang merupakan naskah tertua di perpustakaan ini. Naskah itu ditulis pada permulaan abad ke-5 H yang terdiri dari 12 juz, 1 jilid. Musnad al-Muwattot: Al-Ghofiki (w:381 H). Ma’jam al-Bahrain fi Zawaidi al-Mu’jamain (Ibnu Hajar al-Haistami: w:807 H), dan  masih banyak lagi kitab-kitab klasik yang bisa di dapatkan di Maktabah Masjidilharam.[5]

Perpusatakaan ini terus berkemang dan terus menambah koleksi buku-buku baru, dengan harapan agar sesuai dengan perkembangan jaman. Sebagai perpustakaan yang berbasih islami, maka pengunjuang laki-laki dan wanita diberikan waktu khusus, seperti perempuan misalnya, mereka diberikan waktu khusus pagi sedangkan bagi lelaki sore hari. Dengan harapan agar supaya laki-laki dan wanita bisa leluasa ketika membaca dan mencari referensi yang dibutuhkan mereka.

 


[1] . Suara Hidayatullah, Oktober 2011 M.

[2] . Suara Hidayatullah, hlm 48

[4] . المصدر : الاقتصادية1431/9/10هـ

[5] . Lihat: المصدر : الاقتصادية1431/9/10هـ dan الشرق الأوسط : جريدة العرب الدولية (الاربعـاء 09 رمضـان 1431 هـ 18 اغسطس 2010 العدد 11586)

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah, Seputar Haji. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s