Pendidikan Al-Qur’an Terhadap Janin

Kitab KlasikMengenalkan al-Qur’an seharusnya sejak usia dini, bahkan sebelum lahir-pun, ketika masih dalam kandungan mesti dikenalkan dengan al-Qur’an. Caranya sering-sering membacakan al-Qur’an di dekat perut ibu sang sedang hamil. Dimana dalam tradisi Jawa disebut dengan istilah  telonan (ketika usia kandungan memasuki empat bulan  dan tingkepan (ketika usia kandungan memasuki tujuh bulan). Dalam tradisi budaya Jawa, selaras dengan hadis Nabi Muhammad Saw yang artinya:’’ sesungguhnya proses kejadian manusia di dalam kandungan selama 40 hari dalam bentuk sperma, kemudian menjadi Alaqoh juga 40 hari, dan kemudian berubah menjadi Mudghoh (Daging yang sudah berbentuk janin) selama 40 hari’’ (HR.Bukhori)

Jika di hitung secara keseluruhan, berarti 40×3=120 hari, dimana dalam usia itu pakar pendidikan meyakini bahwa bayi itu sudah mampu ber-interaksi dengan sekitarnya melalui media pendengaran (al-Sama’). Berdasarkan al-Qur’an (QS Al-Isra’ (17:36), sesungguhnya Allah Swt telah menetapkan telingga (pendengaran) pada urutan pertama. Ini menjadi isarah nyata bahwa fungsi pendengaran itu lebih kuat dari pada mata. Wajar, jika kemudian dalam dunia pendidikan mengedepankan atau memasang telingga dengan baik ketika dalam proses belajar mengajar. Dengan begitu semua informasi yang disampaikan oleh seorang pengajar mesti didengar (sima’) dengan sebaik-baiknya, yang kemudian kemudian ditulis. Dalam pembelajaran bahasa Arab, menyimak (istima’) merupakan bagian ketrampilan tersendiri, yang lebih dikenal dengan istilah ‘’mahartul istima’.

Setelah menyebutkan ‘’menyima’’ QS Al-Isra’ (17:36) menyebut ‘’al-Basar’’ yang artinya melihat. Istilah al-Bashar dalam bahasa Indonesia diartikan dengan ‘’melihat’’ dengan mata yang diletakkan pada urutan kedua setelah menyimak. Logika QS al-Isra’ (17:36) mengisaratkan bahwa semua informasi itu berangkat dari mendengar, setelah mendengarkan baru kemudian dilihat dengan mata, sekaligus membuktikan informasi yang pernah didengarkan. Dalam lingusitick Arab, melihat bisa di analogikan dengan maharatul al-Qiraah (ketrampilan membaca).

Terlepas dari semua penjelasan di atas. Penulis ingin menyampaikan bahwa, pendidikan untuk anak (janin) yang masih dalam kandungan melalui pendengaran (menyimak). Berarti, orang yang paling berpenggaruh di dalam meng-optimalkan pendengaran seorang Janin ialah ibu dan ayah kandungnya. Banyak sekali cerita dalam tradisi budaya Jawa, ketika seorang wanita sedang hamil, tidak diperbolehkan ini dan itu….seperti; ngatain kotor dan jorok, membunuh binatang, Prof. dr, Soetomo ahli kandungan pernah menyampaikan dalam diskusi kecil ketika saya memeriksakan kandungan istri, bahwa seorang Ibu yang sedang hamil usia 4 bulan ke atas, jika diperdengarkan music-musik keras ternyata meneteskan air mata.

Jadi, tradisi tingkepan dan telonan dalam yang berkembang di masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya selaras dengan keterangan Nabi Saw dan penelitian ilmiyah dalam dunia medis. Kendati demikian, tingkepan dan telonon memiliki filsafat yang mendalam. Esensi dari Tingkepan dan Telonoan itu adalah pendidikan al-Qur’an terhadap janin, dimana pendengarannya sudah berfungsi dengan baik nan sempurna. Sejak dalam kandungan itu pula, pendidikan social kemasyarakatan, seperti berkumpul dengan masyarakat di ajarkan. Tidak ada yang salah dalam tradisi tingkepan dan telonan yang berkembang selama ini.

Yang menjadi masalah ialah, orangtua terjebak pada tradisi telonan dan tingkepan, kemudian tidak memberikan pendidikan lanjutan. Sebagai orangtua, tidak cukup melakukan tradisi tersebut, akan tetapi lebih banyak membaca al-Qur’an dirumah bersama sang suami, serta memperbanyak sedekah, sholawat, serta amalan-amalan positif lainnya. Ketika sudah lahir, pendidikan yang di ajarakan melalui tradisi tingkepan dan telonan dilanjutkan dengan pendidikan nyata, seperti memeberikan keteladanan dalam semua aspek kehidupan dirumah.

Memilih lembaga pendidikan yang bagus dan berkualitas langkah yang harus dipilih oleh orangtua. Dengan tujuan agar supaya kemapuan dan intelektual anak yang diajarkan sejak dalam kandungan bisa berjalan dengan baik. Seringkali orangtua mengadakan ritual telonan dan tingkepan dengan mengundang banyak agamawan, dengan diperdengarkan ayat-ayat suci al-Qur’an, sepert; Surat Yusuf, Yasin, Waqiah, Lukman. Tetapi, kedua orangtuanya tidak pernah membaca al-Qur’an dan tidak pernah mendatangi majlis ta’lim. Oronisnya, justru lebih sering menonton sinetron dan film-film yang kurang ada manfaatnya. Dengan demikian, penggarauh al-Qur’an serta sholawatan yang diperdengarkan ketika masih dalam kandungan tidak memberikan penggaruh signifikan, justru music, sinetron lebih banyak mempengaruhi watak, sikap, dan pekertinya janin tersebut. Pendidikan al-Qur’an dan moral yang di ajarkan terhadap janin harus berkesinambungan.

Banyak sudah contoh, ketika seorang wanita sedang hamil melakukan ritual telonan dan tingkepan, ketika sudah lahir, orangtua tidak memberikan keteladanan. Kedua orangtuanya juga tidak memberikan kurikulum pendidikan keluarga terhadap putra-putrinya, seperti cara makan, minum, tidur yang benar sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw. Banyak juga orangtua yang lebih suka memilih lembaga pendidikan umum yang tidak mengajarkan al-Qur’an dan nilai-nilai al-Qur’an, padahal ketika masih dalam kandungan mengundang banyak orang memperdengarkan al-Qur’an. Ini berarti, orangtua telah memutus materi ketika masih janin dengan materi ketika sesudah kelahiran. Tidak aneh jika banyak remaja tidak bisa membaca al-Qur’an, serta enggan mengamalkan kandungan dan perintah al-Qur’an, arena orangtuanya telah melakukan demikian.

Tidak berlebihan kirannya jika Nabi Saw menuturkan:’’setiap anak terlahir dalam keadaan suci, orangtualah yang menjadikan anak menjadi Yahudi, atau menjadikan Nasrani’’. Pesan ini begitu tinggi maknanya, seolah-oleh beliau ingin mengatakan bahwa orangtua itu berhak menentukan masa depan putra-putrinya sesuai dengan keinginannya. Dan, kelak orangtua akan bertanggung jawab atas semua yang dilakukan terhadap putra-putrinya, sebagaimana penjelasan QS Al-Tahrim (66:6):’’ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Kewajiban orangtua ialah menyelamatkan putra-putrinya dari keterpurukan di dunia, dengan cara mengajarkan nila-nilai ajaran agama, sehingga kelak di ahirat Allah Swt juga kan menyediakan tempat mulia di surga.

  

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Pendidikan Anak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s