Melestariak Bidah Hasanah Doa Awal Tahun

Tahun HijriyahTahun telah berganti, berarti bertambah pula usia manusia. Dengan begitu, jatah hidup tiap-tiap manusia berkurang. Seiring dengan tambahnya usia, berarti usia dunia semakin mendekati hari penentuan (qiamat). Oleh karena itu, manusia harus semakin tahu diri, merunduk, serta mempersiapkan diri menyambut ajalnya.

Manusia harus menyadari kalau usianya semakin berkurang, berarti harus semakin rajin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Untuk itu, setiap awal tahun hijriyah, hendaknya menjadi moment paling tepat untuk merenungi sisa usia yang yang telah tersedia.

Syeh Abdul Hamid Qudus Imam Masjidilharam yang berasal dari (Semarang) menulis kitab yang berjudul  ‘’Kanju Al-Najah wa Al-Surur fi Adiyati Alati Tasruhu Al-Sudur’’. Kitab menjelaskan apa saja yang mesti dibaca oleh umat islam setiap saat dan waktu. Khususnya, terkait dengan bulan-bulan istimewa dan mulia di sisi Allah Swt. Kitab ini juga menjadi pedoman bagi setiap mukmin, seputar tata cara bedo’a menjelang pergantian tahun.

Dalam tradisi orang islam Indonesia, sebelum magrib selalu (tidak wajib), biasanya berkumpul dan berdoa bersama. Dengan tujuan, agar supaya menghadapi tahun baru dengan optimis, sehingga setiap langkah yang akan ditempuh selalu mendapat kemudahan-kemudahan. Sesungguhnya doa itu adalah senjata utama umat islam, dan menjadi pokoknya ibadah.

Ada sebagian orang terang-terangan menghukumi bidah dan haram terhadap orang menyambut tahun hijriyah dengan berdoa bersama. Bahkan, ulama-ulama klasik yang kemampuan ilmu dan kedalaman spiritual dianggap salah dan tersesat. Imam Al-Ghozali, Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, Syek Abdul Hamid Qudus (Imam Masjidilharam). Seolah-olah kelompok ini pemegang kunci surga dan neraka. Ada pertanyaan, sejauh mana ilmu mereka sehingga memanggap paling benar dan paling berhak masuk surga?

Doa yang biasa dibaca beragama redaksinya. Syekh Abdul Hamid Qudus menukil dari Ibn Qudamah, Al-Muqdasi, Syekh Jamaludin cucu Ibn Jauzi terkait dengan do’a awal tahun sebagai berikut:

اللهم صل على سيدنا محمد و وعلى اله وصحبه وسلم اللهم انت الابدي القديم والاول .وعلى فضلك العظيم وجودك المعول وهدا عام جديد اقبل نسالك العصمة فيه من الشيطان واوليائه وجنوده والعون على هده النفس الامارة بالسوء والاشغال بما يقربني اليك زلفى يادا الجلال والاكرام تم تصلي على النبي صل الله عليه وسلم

Doa itu tidak harus dibaca berjamaah, bisa dibaca sendiri dirumah, dan yang tidak membacappun juga tidak apa-apa. Yang menjadi masalah ialah, ketika tidak mau membaca, tetapi justru menyesatkan terhadap orang yang membaca. Lebih-lebih menfonis menjadi penghuni neraka. Bukankah orang yang suka menyesatkan termasuk orang-orang tersesat? Mestinya, orang itu menggunakan filsafat ‘’padi’, semakin tua semakin merunduk, semakin matang dan siap di panen. Semakin tua usianya, mestinya semakin bijaksana dan semakin matang berfikirnya, serta semakin dekat dengan tuhannya. Dan tahun baru adalah moment paling penting untuk melakukan yang demikan.

Usia bertambah, hendaknya semakin memperbanyak ibadah, pola hidup berubah menjadi lebih terarah dan ramah. Jangan sampai menjadi’’ tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi’’. Lupa diri, kalau dirinya sebentar lagi akan mati, serta meninggalkan anak dan istri. Sungguh merugi orang yang seperti ini, seorang ulama’ menilai  bahwa orang yang demikian ini tergolong orang rugi di dunia dan juga kelak di akhirat.

Ketika melihat banyak artikel seputar penyeatan terhadap tawassul, maulidan, serta menyambut tahun baru dengan doa bersama, teringat pernyataan Syekh Abdul Wahab. Beliau dalam tulisanya mengatakan:’’telah berbuat bohong dengan mentasnamakan diriku, yaitu Sulaiman bin Suhaim bahwasanya saya telah mengharamkan tawassul, mengharamkan dalail khoirat, serta mengharamkan ziarah Nabi Saw, saya katakana”’ ini adalah kebohongan yang sangat besar’’.

Pernyataan melalui tulisan-tulisan, BBM, seputar larangan tentang menyambut tahun baru hijriyah dengan berdoa bersama adalah bidah bukan tuntunan Nabi Saw. Memang benar, sebab tahun hijriyah sendiri memang bidah. Sebab, yang mengusulkan awal tahun hijriyah adalah Umar Ibn Al-Khattab tokoh perintis bidah hasanah, seperti; tarawih, menuliskan Alquran.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Cerita Pendek Banget, HUKUM, Info Haji dan Umrah, Konsultasi Haji dan Umrah Gratis, Pendidikan, Pendidikan Anak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Melestariak Bidah Hasanah Doa Awal Tahun

  1. kaisan berkata:

    Belum ada ditemukan dalil yang shohih terkait do’a awal dan akhir tahun, jangan sampai bawa nama Nabi kalau belum jelas dalilnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s